Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
,

Jangan Baca Tulisan Gila

Perempuan Gila

 

Berawal dari hal rumit di dalam kepala, kata-kata muncul tak disangka-sangka. Hidup memang seperti lawakan kadang terasa garing  kadang pula terasa renyah untuk dinikmati. Di pagi yang tak kalah pagi lagi, pikiran sedang melayang enyah kemana. Sampai-sampai tangan-tangan menari-nari dalam alunan nada papan ketik. Hembusan napas panjang pertanda benang kusut yang masih belum terurai di dalam kepala.

Haaah!

Dunia punya cerita, manusia punya kisah. Kepala-kepala kusut di tengah malam sedang mencoba mengurai benangnya. Sayangnya saat diurai bukannya makin sederhana, malah makin rumit. Susah terlalu lama bersarang masalahnya.

Hah

Merajut mimpi bukan sebuah pencapaian kali ini, karena terpenting kewarasan harus selalu disadarkan untuk ada. Terlalu lama mengubah diri menjadi gila untuk kuat menghadapi hidup menjadikan nyaman sampai lupa jati diri. Kecut, inilah kenyataanya.

Mimpi bukan lagi kebutuhan, namun waras menjadi keharusan.

HAH

Kehidupan dikatakan akan selalu berputar, namun tidak ada yang mengatakan roda tak selalu berputar. Adakalanya rodanya sedang rusak sampai untuk bisa berjalan terseok-seok. Ada juga yang malah mancet tak mau bergerak. Sempit! Bukan pikiran tapi kesempatan berputar.

 

Apa!

Apa mau dikata semua terlalu mengkusut! Cermin tidak mampu untuk menjadi pembohong mahir, topeng sudah lagi tidak berguna. Tawa bukan jadi kambing hitam. Kita terlalu rusak, dunia sampai tertawa melihatnya dan orang-orangmu memandang kita begitu pedih. Sial! Kenapa itu terjadi

 

Jangan dibaca, sebuah tulisan gila terwujud dari pikiran gila yang tak tahu mau kemana dia akan menyembuhkan kewarasannya. Jadi, cukup lewati saja. Tidak berguna, hanya memicu orang semakin kehilangan kewarasan.

 

Jika kalian tetap ingin membaca terserah saja! Hati-hati untuk mengingat jati diri sendiri. Hidup ini tak mudah, tapi mati juga terlalu sulit. Merasakan sakit di keduanya. Hanya saja beda jalan dan beda masa. Jika mati kau rasakan sakit selamanya, jika hidup seperti judi, bisa jadi kamu bahagia. Hahah, ini gila kan? Makanya jangan dibaca.

Continue reading Jangan Baca Tulisan Gila
, ,

Balada Bukber, Niat Temu Kangen menjadi Ajang Pamer Kesuksesan


 

    Bulan Ramadhan sudah berjalan sepertiganya, undangan untuk berbuka bersama masih silih berganti datang. Entah itu buka bersama dan agenda silaturahmi dengan komunitas, organisasi, atau sekolah baik sudah lulus atau pun belum.


    Sayang sekali, agenda buka bersama yang memiliki makna untuk menyambung tali silaturahmi menjadi sebuah tragedi pecahnya konflik. Ini karena tidak lain adu pendapat menentukan agenda buka bersama (bukber) yang akan dijalankan. Baik tentang waktu, tempat, menu, absensi, bisa menjadi masalah yang runyam. Bahkan, ketika agenda buka bersama (bukber) yang sudah dipastikan ternyata menjadi sebuah wacana semata, membuat kekecewaan bagi yang sudah mengharapkan agenda berjalan.


    Paling kacaunya jika antar anggota dan panitia saling menyalahkan atas penghapusan agenda yang akan dijalankan. Hilangnya komunikasi, membuat agenda yang bisa dirancang dengan baik bubar tidak terarah dengan jelas. Menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan dari panitia itu sendiri.


    Namun, bukankah ini sebuah agenda rutin? Kenapa tidak membuat panitia tetap saja agar kegiatan buka bersama (bukber) tidak menimbulkan perselisihan yang akhirnya merenggangkan sebuah hubungan pertemanan itu? Bukankah tentang adanya temu kangen adalah harapan bersama? Kenapa menjadi urusan perorangan?


    Permasalahan seperti ini hanya akan memberikan sebuah jawaban. Ya, tentang seharusnya kita sadar akan pertemanan yang telah dibangun. Hingga akhirnya saling bantu membantu mewujudkan sebuah agenda bersama. Komunikasi yang terbuka memberikan pemahaman antar anggota untuk memahami situasi dan masalah yang terjadi sampai menemukan sebuah solusi yang dipikul bersama.


Bagaiamana jika buka bersama (bukber) itu terjadi?


    Jika buka bersama (bukber) itu terjadi, akan terjalin komunikasi antar sesama yang kadang memberikan efek baik juga efek buruk, Efek baik ketika niat buka bersama (bukber) dilakukan semata untuk membuka kembali tali persaudaraan. Benar-benar ikhlas saling merentangkan tangan, menyambut satu sama lain dalam bersaudara, menjaga hubungan untuk tidak menyinggul hal-hal yang memiliki unsur pembicaraan pribadi.


    Kadang kala agenda buka bersama ada, hanya menjadi ajang pamer kesuksesan. Menanyakan temannya tentang apa yang sudah dicapai dan kemudian menujukkan pencapaian dirinya. Ini bukan lagi ajang temu kangen, hanya sebuah ajang dan perlombaan siapa yang terbaik. Menghilangkan niat awal untuk bersaudara.


Lantas ketika buka bersama, apasih hal-hal yang seharusnya tidak dipertanyakan?

Pertama, jangan pernah menanyakan bekerja di mana, lagi ngerjain apa sekarang?

Kedua, Kapan kamu lulus?

Ketiga, Kapan kamu menikah?

Keempat, Kok kamu jadi gini ya? (Terkait fisik)


    4 hal pertanyaan yang harus kamu hindari saat buka bersama karena ini hanya akan menyakiti lawan bicaramu jika pertanyaan tersebut memiliki efek sensitif bagi pendengarnya. Tidak perlu menanyakan hal tersebut sebenarnya kamu akan tahu sendiri, baik dari media sosialnya maupun dari pernyataan sang empunya sendiri.


    Buka bersama bukan ajang pamer penghasilan dan pekerjaan, buka bersama bukan ajang pamer pencapaian. Namun, buka bersama ajang menyambung tali persaudaraan. Tidak hanya untuk sebuah hubungan persaudaraan juga tentang agenda saling bekerja sama untuk mencari pahala dengan bakti sosial dan juga khataman bersama.

Continue reading Balada Bukber, Niat Temu Kangen menjadi Ajang Pamer Kesuksesan
, ,

Konflik Wadas, Bahaya Pertambangan untuk Lingkungan Sekitar



    Mengingat akhir-akhir ini santer terdengan "Konflik Wadas" yang menimbulkan beberapa pertanyaan. Tentang apa masalah awalnya? Apakah hanya tentang bendungan atau tentang pertambangan yang akan dilakukan di desa itu? Kenapa sesama warga saling melapor? Paling hangat menjadi pembicaraan adalah masalah pertambangan yang akan dilaksanakan di Desa Wadas.


    Beberapa hari terakhir konflik yang terjadi di desa Wadas menjadi hal yang sangat menggemparkan publik, karena terdapat 9 korban luka-luka dan 11 penangkapan warga, pengurus LBH Yogyakarta yang dianggap sebagai provokator. Setelah bersitegang antara warga dan aparat kepolisian yang ada di tempat kejadian.


    Konflik ini terjadi lantaran masih ambigunya ganti rugi yang diberikan juga tentang kerusakan apa yang terjadi jika pertambangan bantuan andesit di lakukan di Desa Wadas. Pertambangan ini dicetuskan sebab akan ada pembuatan Bendungan Bener untuk keperluan irigasi petani di sekitar bendungan tersebut. Ditambah lagi terdengar isu tentang adanya sebagian warga yang ikut turut melaporkan warga lain saat warga turun aksi menentang pertambangan di Desa Wadas.


    Masyarakat sekitar memang setuju akan adanya bendungan yang dibangun, warga tidak mempermasalahkan itu, hanya saja yang menjadi awal keributan ketika bahan pembuatan bendungan yakni bantuan andesit yang akan digali di Desa Wadas melalui Pertambangan Batuan Andesit. Ini memunculkan keresahan sebagian warga tentang dampak pertambangan yang akan ada setelah pertambangan ini benar-benar dilakukan. Sampai pada waktu sosialisasi tentang proyek Bendungan Bener dan Pertambangan Batuan Andesit sedikit warga yang datang.

Bukan tentang dampak secara langsung, tetapi dampak seumur hidup tentang bagaimana lingkungan akan tercemar terutama sumber mata air dan ancaman longsor yang bisa datang sewaktu-waktu. Ini benar-benar membuat warga sangat khawatir.

 

    Menurut artikel dari nu.or.id melalui wawancara terhadap Helmy salah satu pengurus PBNU yang mengatakan bahwa seharusnya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk turut melibatkan diri dalam menengahi konflik antara aparat dan warga.


    Karena bagaimanapun juga tentang pertambangan di Desa Wadas gubernurlah yang menurunkan SK untuk bisa melakukan pertambangan tersebut. Setelah adanya ramai-ramai tentang Gubernur Ganjar pranowo untuk turun tangan, akhirnya gubernur mulai angkat bicara.

    Menurut artikel dari solopos.com yang berjudul Ini Saran Ganjar Terkait Bentrok Aparat & Warga di Desa Wadas, gubernur mengatakan jika dari kabupaten yakni PEMKAB Purworejo harus melakukan sosialisai kembali agar tidak terjadi konflik dan perlu adanya dialog terbuka. Gubernur juga menyatakan bahwa mereka sudah setuju tentang pembangunan Bendungan Bener.


    Namun, yang lebih diungkap dalam penytaan gubernur tentang Bendungan Bener bukan tentang Pertambangan Batuan Andesit yang menjadi akar konflik ini.


    Tentang Bendungan Bener mereka memang bagus jika dibangun, namun untuk pertambangan sangat mengusik warga tentang dampak yang akan dialami oleh warga sekiitar. Bagaimana tercemarnya sumber air?Tentang bagaimana longsor akan menimpa warga.


    Konflik Desa Wadas perlu penanganan serius agar bisa diselesaikan dengan baik. Baik dari pihak warga maunpun pihak aparat. Karena sudah menjadi rahasia umum tentang adanya sekat antara aparat kepolisian dan masyarakat. Konflik Desa Wadas hanya akan menjadi alasan kesekian kali terkait sekat aparat dan warga yang menjadi melebar.


    Membahas kembali secara khusus tentang apa yang akan terjadi tentang dampak pertambangan di lingkngan sekitar, menurut jurnal Al'adl Volume IX Nomor 1, Januari-April 2017 yang berjudul Dampak Pertambangan Terhadap Lingkungan Hidup Di Kalimantan Selatan dan Implikasinya Bagi Hak-Hak Warga Negara yang ditulis oleh Nurul Listiyani bahwa terdapat dampak negatif bagi lingkungan:


1. Dampak pertambangan dalam waktu singkat dapat mengubah bentuk muka tanah dan dengan topografi yang membuat ketidakseimbangan pada sistem ekologi sekitar lingkungan. Pada hal ini munculnya dengan tanda kerusakan lingkungan juga pencemaran lingkungan.


2. Dampak pertambangan juga mengakibatkan penceramaran lingkungan hasil dari proses pertambangan tersebut. Lingkungan menjadi tidak sehat.


3. Pertambangan yang tidak melihat tentang keselamatan kerja juga kondisi geologi bisa mengakibatkan bencana alam semisal tanah longsor, gempa, dan keruntuhan. Banyak sekali berita kecelakaan kerja yang dimana terjadi keruntuhan yang mengakibatkan adanya korban dalam kecelakaan kerja.


Berbagai dampak negatif ini sangat membuat masyarakat cemas di sekitar daerah yang akan dijadikan pertambangan, padahal setiap manusia mendapatkan hak atas lingkungan yang baik dan sehat. Jika dampak ini ada, bukankah telah menyalahi hak manusia untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat?


Source: Solopos.com, nu.or.id, ayosemarang.com

Continue reading Konflik Wadas, Bahaya Pertambangan untuk Lingkungan Sekitar
, , ,

Selamanya Terkenang, KRI Nanggala 402




Sebuah puisi untuk engkau, para pahlawan Bahari

Tugasmu begitu besar, menjaga laut NKRI

Tiada letih untuk kau keluhkan

Untuk negeri, urusanmu sendiri kau tinggalkan


Pahlawan Bahari

Kau tidak pernah pergi

Engkau masih ada di sini

Di tanah negeri yang kau cintai


Di pijakan bumi pertiwi

Laut dalam kau pantau

Lewat kapal selam yang kau kemudi

Keamanan laut tujuan engkau


Oh! Pahlawan Bahari

Begitu mulia tugas yang kau jalani

Bagaimana lagi, kau sudah terlalu cinta pada negeri ini

Negeri di mana kau dilahirkan, tanah bumi pertiwi


Hormat kami untukmu

Setelah engkau pilih misi berhargamu

On enternal patrol pilihanmu

Oleh sebab itu, tiada kata pergi dalam kamusmu


Engkau tidak pernah tenggelam

Engkau tidak tiada

Engkau tetap dalam misimu

Misi yang telah kau pilih untuk selamanya


Terima kasih

Terima kasih

Terima kasih

Sekali lagi terima kasih


Sudah saatnya engkau para prajurit negeri

Tenang dan damai dalam bahari

Tetap laksanakan misimu untuk bumi pertiwi

Biar kami yang mendoakanmu di sini


in memoriam KRI NANGGALA 402

Setelah diterbangkan tinggi. Dialiri deras, kemudian diledakkan dengan keras. Laut memelukmu dengan erat...

2021 penuh duka bagi pertiwi.


#krinanggala402

#prayforkrinanggala402


Continue reading Selamanya Terkenang, KRI Nanggala 402
, ,

Kepada Jodohku Nanti



    Aku akan selalu bersyukur atas apa yang telah dipilihkan Allah untukku, tidak serta merta aku menggantungkannya tanpa berusaha. Kepadamu yang selalu mengusahakanku lewat doa dan ikhtiar yang engkau lakukan, kuucapkan terima kasih.


    Terima kasih telah hadir di dalam hidupku dan berusaha pada ikhtiar dan doamu. Lewat sepertiga malam kaulangitkan kriteria yang engkau inginkan. Beribu kali pula namaku kau sematkan tiap lantunan doa yang ingin diistajabah oleh Allah. Kerja kerasmu membangun sebuah kehidupan yang akan kita karungi bersama. Adalah sebuah bukti nyata tentang cinta yang membutuhkan logika.


    Saban hari tak pernah terlintas di hatimu menyerah demi masa depan. Siang malam kau lakukan segala kerja keras untuk kehidupan yang layak. Mengeluh sesekali kau lakukan kemudian mengulang kembali apa yang kamu kerjakan. Kamu tak pernah bosan untuk terus berusaha, dan lagi-lagi kuucapkan terima kasih.


    Terima kasih telah membersamaiku, meski hanya sekali dua kali kita berbalas pesan dan mengobrol sekadarnya, akibat padatnya kegiatan di antara kita berdua. Memaksa kita untuk sadar jika cinta bukan sekadar kata yang terucap, juga pengorbanan untuk sebuah hari esok yang lebih cerah. Tak hanya bualan manis yang diperlukan, pun kerja keras demi kehhidupan yang terus berjalan.


    Suatu saat, tibanya kau ucapkan akad suci di mana apa yang telah lama diperjuangkan bersama menjadi nyata. Aku akan berkata kepadamu, "Ikhtiar kita belum selesai, Tuan. Awal mula bahtera kehidupan kita baru dimulai. Mari bersama berjalan tuk saling mengingatkan, jangan saling menyalahkan. Ikatan yang telah kita buat ini terlalu suci, jangan sampai dikotori."

    

    Segala hal yang terjadi akan kita jalani bersama, bukan lagi sendirian dan berpikir berusaha mandiri. Sebab itu menjadi awal sebuah kehancuran yang diwaspadai. Setelah akad, inilah janji ikatan bersama bukan sendirian saat awal jumpa.

    Jika dahulu hanya ada aku dan kamu, kini yang ada hanyalah kita bersama. Berpikir logis bukan hanya untuk saling mengasihi dan menyayangi pula untuk saling mengerti dan memahami. Tetap saja kita memiliki pemikiran berbeda di setiap kepala. Namun, selalu ada jalan tengah untuk memberikan solusi terbaik. Akan ada waktunya satu di antaranya untuk mengalah. Tidak mungkin sama-sama keras yang membuat robohnya pertahanan kita bersama. Seperti dalam kehidupan ada gelap dan terang, ada hitam dan putih, dan ada keras dan lunak. Menjadi pelengkap satu sama lain, bukan untuk mendorong untuk unggulkan kemampuan sendiri. 


Continue reading Kepada Jodohku Nanti
, , ,

Penyakit Kronis Literasi, Plagiarism Semakin Menggrogoti

    


    Bukan barang baru mengenai penyakit kronis dalam bidang literasi, sudah menjadi rahasia umum plagiarism menjadi momok bagi pegiat literasi. Kurangnya penekanan hukum yang pasti tentang plagiarism membuat para pelaku plagiasi atau plagiator dengan mudahnya melakukan hal yang membuat kerugian. Ini juga bisa menyebabkan kreativitas pelaku pun menurun dan kualitas dari sebuah tulisan akan rendah. Tak hanya dalam ranah sastra saja plagiarism terjadi, baik di ranah non sastra plagiarism juga semakin marak. Bahayanya, pelaku malah ditemukan di bidang akademisi, karya ilmiah, tugas akhir sering kali menjadi sorotan plagiarism. Di sisi lain di bidang sastra plagiarism terjadi sangat sering. Baru-baru ini menjadi perbincangan hangat para penulis tentang plagiarism yang diakui pelaku kemudian setelah menyangkalnya bahkan penerbit dari pelaku plagiator membelanya.


    Aneh dan sangat disayangkan jika plagiarism ini tidak ditindak dengan tegas. Melihat kasus yang terjadi rupanya plagiarism dianggap barang remeh yang sering dilakukan. Abainya terhadap hukum tentang plagiarism, membuat pelaku plagiarism seakan menganak pinak. Bahkan, bibit pelaku plagiarism semakin banyak. Contoh kecil dalam plagiarism mengambil gagasan penulis lain yang menurutnya bagus, kemudian diakuinya menjadi miliknya sebagai caption bagus untuk media sosialnya. Menginginkan dirinya seakan bijak padahal itu bukan buah pemikirannya. Hal yang dianggap sepele seperti ini, juga termasuk plagiarism sejatinya


    Sebelum membahas lebih banyak tentang plagiarism, apa sebenarnya plagiarism?

    

    Menurut kamus Oxford, plagiarize is copy another person's work, word, ideas, etc and pretend that they are your own. Jika diartikan plagiasi adalah menyalin pekerjaan, kata, ide, dan lain-lain yang kemudian berpura-pura atau mengakuinya jika itu miliknya. Melihat artinya saja sudah jelas ini perbuatan yang tidak dibenarkan menyalin pekerjaan orang lain kemudian diakui miliknya sendiri, sama saja mencuri pekerjaan itu. Pandangan dari penulis jelas plagiarism adalah pencurian sebuah karya baik pekerjaan, ide, atau hal apapun yang sangat merugikan bagi pemilik karya karna diakui oleh orang lain.


    Plagiarism secara mata terbuka sudah tidak dibenarkan, padahal sudah ada undang-undang yang mengaturnya berdasarkan pasal 113 UU No.28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman emat tahun dan denda paling banyak satu milyar rupiah. Denda yang termasuk luar biasa besar tetapi tidak memuat jera para pelaku plagiasi, benar-benar memprihatinkan! Sungguh berani para plagiator ini, ya?

    Namun, kenapa dengan adanya UU Hak Cipta masih terjadi plagiarism?

    

    Dinamakan plagiasi jika sudah menjadi milik melalui pembuatan hak cipta, yang demikian harus mengurus bebagai dokumen yang ada. Tidak semua paham tentang pendaftaran hak cipta, meski begitu jika penasaran bisa mendaftakan di E-Hakcipta untuk mendaftaran sebuah produk atau karya atau hal ang diakui milik. Namun, harus menunggu diterimanya status akun tersebut.

    

    Pendaftaran seperti ini juga termasuk hal yang menyulitkan terkadang. Sehingga tak semua orang membuat hak cipta atas karya yang dimiliki. Tidak hanya begitu, jika plagiator sudah memiliki pengikut banyak, apa yang dibuat sudah terlanjur dipercayai oleh para pengikut mereka sehingga kemungkinan besar malah menyerang pihak korban. Status tinggi atau kedudukan tinggi membuat ego plagiator tidak mudah mengakui perbuatannya.

    

Sanksi sosial yang didapatkan tidak membuat para pelaku jera, kepercayaan diri yang meningkat dan kepopulerannya dianggap sebagai senjata pemebelaan para pelaku. Sangat disayangkan jika para pelaku ini malah dibeli sedemikian rupa. Jangan sampai juga penerbit yang malah mendukung tindakan pelaku ini. Ini malah membuat semakin menjadi-jadi, membuka lahan yang luas bagi plagiator.


Lantas sebagai pegiat literasi, tindakan apa yang tepat?

1. Mematenkan hak milik atas karya yang dibuat.

Meski terlihat tidak mudah ini perlu dilakukan demi menjaga karya dari tindakan plagiasi, dengan mematenkan hak kita memiliki hak untuk menuntuk para plagiator yang berulah.


2. Menyadarkan publik tentang tindakan plagiasi yang sangat merugikan para pemilik karya.

Baru-baru ini pula banyak penulis yang bekerja sama mengkampanyekan tentang #saynotoplagiarism. Mengajak seluruh pegiat literasi untuk tidak melakukan plagiasi karena sangat merugikan dan membuat menurunnya kualitas SDM dari generasi penerus bangsa.


3. Selalu mengecek tulisan sendiri sudah tidak tercampur plagiasi atau tidak.

Banyak cara untuk meninjau tulisan sendiri dengan check online, misal bisa melalui plagiarism checker, plagiarism detector, dan situs lainnya yang bisa digunakan untuk mengeceknya.


4. Cara terakhir yakni melakukan pelaporan secara resmi agar ditindak melalui hukum yang ada.


    Melalui tindakan yang bisa dibuat sebagai pencegahan terjadinya plagiarism yang sudah menganak pinak dan menjadi barang biasa bagi pelaku plagiasi. Diharapkan dengan sadarnya plagiarism yang membahayakan segala pihak, mejadi semakin berkurang. Mari galakkankan hastag #saynotoplagiarism untuk menyadarkan semua puhak tentang bahaya palgiasi dalam bidang literasi ini khususnya.


    Ingat plagiarism merupakan tindakan pencurian, yang mana tak akan bermanfaat sama sekali sebuah hasil curian itu. Jangan tunduk adanya plagiarism, baik akademisi, penulis, atau pihak lainnya. Tetap saja plagiarism sebuah pelanggaran etika berat.



Salam Literasi!

Salam Hangat!

Obral Kata Veve




Continue reading Penyakit Kronis Literasi, Plagiarism Semakin Menggrogoti
, ,

Hari kartini 21 april, lahirkan sebuah emansipasi

 


    Tepat, 21 April sebuah tanggal bersejarah yang tak bisa dilupakan siapapun di negeri ini. Lahirnya sosok pelopor emasipasi wanita yang terkenal dengan sebuah karyanya berjudul "Habis Gelap, Terbitlah Terang". Bukan sekadar buku tanpa isi, melainkan sebuah pemikiran gemilang yang dituliskan. Tak salah lagi jika beliau memang digaungkan sebagai pembebas bagi wanita. Sebab beliau dengan pemikiran bahwa perempuan juga memiliki kebebasan untuk bersekolah, sampai-sampai beliau mendirikan sebuah sekolah pagi perempuan-perempuan di Jepara. Raden Ajeng Kartini itulah namanya. Pelopor wanita untuk mendapatkan haknya yang setara dengan laki-laki. Ia tak bermaksud mengungguli kaum laki-laki, hanya bermaksud menyadarkan jika wanita berhak untuk bebas tidak terikat pada kungkungan adat.

Sajak Perempuan dalam Tekanan

Adalah aku perempuan terbelenggu pada zaman lama. 
Di mana gerakan tak boleh dilakukan.
 Hanya diam meneruskan perintah para penguasa pilihan.
Adalah aku yang tak bisa menjejakkan langkah cita. 
Akibat kukuan adat yang pekat. 
Berdiam adalah jawaban, berontak adalah larangan.
Aku adalah boneka. Boneka perempuan penurut tak boleh berontak.
 Ah! Apalagi berteriak itu akan menjadi tragedi.
Aku adalah perempuan yang berserah pasrah akibat lontaran keinginan dihapuskan. 
Bungkam adalah pilihan satu-satunya.
Setiap air mata dipasungkan tak boleh keluar. Setetes jatuh, raganya akan runtuh. 
Cacian makian akan tumbuh.
Aku adalah perempuan beridealis, bercita, bergerak, namun diam sebab pilihan tunggalnya hanyalah diam.
Perempuan perempuan desa yang dibungkam oleh konservatifnya pikiran.
Bersuara adalah keinginan yang tak dapat diutarakan.
Perempuan bersajak, apresiasikan rasa lewat tulisan. 
Sebab tindakan sudah dibabat habis hilang tak ada yang dapat dilakukan.
Inilah sajak perempuan dinistakan oleh zaman.


    21 April bukan hari biasa dalam sejarah wanita, sebab jika tak ada pemikiran tentang emansipasi wanita bagaimana wanita hidup sampai sekarang? Tetap terjajah dan derajatnya berada di bawah laki-laki. Hanya sebagai alat tanpa tahu bahwa wanita pun tetap memiliki hak yang sama. Kartini dengan kegigihannya memperjuangkan wanita tidak merasa terkengkang meski ia sudah menikah, meski ia dibesarkan dala adat yang masih kental. Di mana wanita hanya memiliki tiga peran masak (Peran wanita di dapur menyajikan makanan bagi keluarganya), manak (Melahirkan keturunan), dan macak (Bersolek untuk suaminya, sebagai pelengkap bagi suami hiasa yang dipamerkan saja).

    Betapa menyedihkan jika pemikiran tentang wanita zaman dahulu masih diterapkan di saat sekarang. Tak ada lagi wanita yang bisa bersekolah sampai tinggi, tak ada lagi wanita yang memperjuangkan cita-cita, tak ada lagi wanita dengan bebas dan berani menjelajahi dunia. Sebab, perannya sangat dibatasi. Sebab, wanita dilarang bertindak demikian karna dianggap melanggar adat yang ada.

    Para wanita kini bebas, namun bukan berarti bertindak semaunya. Emansipasi wanita ada sebagai penentang adanya patriarki, sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang peran utama dalam segala bidang. Emansipasi wanita ada sebagai sanggahan jika wanita bisa ditempatkan dalam bidang-bidang yang biasanya diisi oleh laki-laki. Wanita bisa menjadi guru, polisi, tentara, dokter, pegawai perusahaan, dan pekerjaan lainnya.

    RA Kartini pun bukanlah sebagai penganut feminisme yang ekstrim, ia berdiri untuk para wanita yang terjajah. Beliau pun senang berliterasi hingga ia sering menulis surat yang berisi pemikiranya yang merujuk pada surat Al Baqarah ayat 257

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

    Hal ini di dapatnya ketika beliau memahami alquran dari ulama yang bernama KH Shaleh Darat, beliau pula yang menafsirkan makna Alquran dengan pegon jawab atas keluh Kartini yang susah memahami alquran dengan bahasa yang belum bisa dimengerti. Pemikiran kritis Kartini dari tafsir surah al Baqarah ayat 257 menciptakan tulisan-tulisan yang dibukukan dengan judul Habis Gelap, Terbitlah Terang.

Tulisan ini pula yang menjadikan wanita terangkat derajatnya, sebab tak hanya cara mendirikan sekolah. Melalui tulisan suaranya tentang betapa suramnya kehidupan wanita zaman dulu menjadi dipahami oleh banyak orang. Tujuannya sudah jelas ingin menerangi kegelapan bagi kaum wanita.

Bukankah emansipasi wanita ada sebagai sanggahan adanya patriaki yang melekat pada negeri ini di zaman dahulu?

    Padahal kaum wanita dan laki-laki bisa berkerja sama membangun negeri lebih baik. Konsolidasi yang kuat dibutuhkan kerja sama banyak orang dan pemikiran banyak orang. Sebabnya Kartini ada untuk mengangkat derajat wanita agar bisa bersama-sama membangun negeri bukan membangun ego saling merasa kuat dan benar sendiri.

"Habis gelap, terbitlah terang!"

Ialah engkau Raden Ajeng Kartini
Salah satu pelopor emansipasi wanita negeri
Berikan cahaya, tandakan kita tak terampas lagi
Lahirkan era baru bagi wanita di bumi pertiwi

Wanita tak lagi dijajah sampai ngeri
Kungkungan adat bukan hal yang perlu ditakuti
Sebab sudah tertulis hak bagi wanita negeri 
Untuk maju bersama kaum laki-laki

Tetapi, kenapa semua orang tak mau mengerti 
Masih ada stereotip feminisme dan patriarki
Menimbulkan petaka 'tuk saling membenci
Bukan memberikan kasih sayang saling memahami?

Habis gelap terbitlah terang
Bukan tentang saling menyerang
Inilah sebuah tanggapan
Tentang wanita pun bisa berjuang

Habis gelap terbitlah terang
Sebuah pemikiran gemilang
Menyingkirkan satir yang terlalu menjulang
Bahwa wanita bukanlah barang

O, Raden Ajeng Kartini
Terima kasih telah berjuang
_Obral Kata Veve


Continue reading Hari kartini 21 april, lahirkan sebuah emansipasi
, ,

Tenggelam dalam Rutinitas, Apa Kabar Prioritas?

     



    Sering kali berada dalam pusaran rutinitas yang tanpa henti terus memaksa kita selalu pada garis lintas yang sama, setiap hari kita melakukan repetisi kegiatan yang menjemukan. Membuat kita melakuakan kegiatan pada hal pasti yang sudah ratusan kali kita ketahui, ketimbang suatu hal baru yang belum tentu kita tahu. Rutinitas?

Hal rutin, suatu prosedur yang teratur tanpa ada perubahan. Ajeg.


    Melawan rutinitas demi prioritas, yang belum diketahui hasilnya akan membuat jeda untuk berpikir lumayan lama sebab risiko yang akan dihadapi tak ketara, tak terlihat, dan tak bisa diprediksi. Suatu hal yang tak pasti sering kali dihindari karna tak mau merugi. Namun, jika ini berkaitan dengan hidupmu akankah kamu masih memikirkan suatu kepastian? Suatu hasil akhir? 




    Hal tak pasti akan selalu ada dalam hidup kita, ketahuilah! Sebabnya ada pilihan dalam setiap melangkah, akhirnya selalu ada keharusan untuk memilih, memilih pada jalan biasa dengan risiko yang telah ada, atau hal baru yang sebenarnya akan mendongkrak kehidupanmu sebelumnya. Menjadikan bisa dalam keadaan asing yang sebenarnya sangat kausukai.


    Untuk berada dalam hal seperti ini, makanya perlu ada skala. Ukuran, peritungan untuk menentukan mana yang akan kaupilih dan jalani. Ya, kita perlu membuat sebuah Skala prioritas, ukuran kebutuhan yang tercatat dengan baik yang akan menjadi acuanmu dalam bertindak. Karna tanpa perencanaan yang jelas segala tindakanmu bisa saja menjadi kacau balau di luar ekspetasi. Meski kadang, masih saja ada hal yang tak sesuai perkiraan, tetap perlu perencanaan yang akan meminimalisir risiko yang ada.


Penentuan skala prioritas bisa didasarkan oleh beberapa hal, semisal:


  1. Kebutuhan. Kebutuhan yang memang sangat penting bagimu, mana yang menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersiermu. Kebutuhanmu, hanya dirimu yang mengetahui. Sebab setiap kebutuhan orang-orang berbeda namun sama dalam hal; sandang, pangan, dan papan. Lalu, pendidikan, dan sebagainya.
  2. Pendapatan. Keuangan yang kau punyai dan kebutuhan yang harus kaucukupi. Antara bekerja keras untuk mencukupi segala kebutuhan, atau bersantai ria lupakan kebutuhan.
  3. Perencanaan Masa Depan. Perencanaan masa depanmu, ingin menjadi apa dirimu, dan kebutuhan apa yang harus dipenuhi untuk masa depanmu akan mempengaruhi skala prioritasmu. 
      

    Melalui beberapa pertimbangan itulah kamu akan mengetahui mana yang harus kamu lakukan, karna kamu sudah memiliki skala prioritas, penentu tingkat paling tinggi dan rendah sebagai acuan. Tidak selamanya rutinitas akan berada pada posisi awal yang kau kerjakan akan ada prioritas lain yang kadang juga harus sempat kau lakukan dahulu. Kadang kala memang kehidupan tak berjalan layaknya normal seperti biasa, apa yang biasa kau kerjakan ini bisa menjadi hal kesekian kali karna diundur oleh hal yang urgent, ada secara tiba-tiba sebab suatu hal.


    Skala prioritas, ini juga membantu kita untuk tak ragu dalam pengambilan keputusan. Seperti kita telah mencapai keputusan final, namun meragu karna takut ini pilihan yang salah. Namun, jika kita melihat skala prioritas kita akan memantapkan diri untuk berani mengambilnya.


    Jika prioritasmu sudah teratur sedemikian rupa, mari kita jalani apa yang sudah terencanakan. Jangan hanya menjadi sebuah tulisan yang tertempel di tembok semata dan luntur terkena bocoran air loteng, atau kabur terkena angin saat membuka pintu.


    Kurangnya kepercayaan diri dalam menjalankan skala prioritas sering kali terjadi, sudah berencana tapi tak terlaksana. Sudah terhitung, tetapi ragu menetapkan. Kembali lagi, semua akan terjadi jika kamu kerjakan. Hidupmu kamu yang mengaturnya. Meski begitu, jangan sekali mengkhianati apa yang sudah kautulis, itu menyakitkan. Seperti kamu mengkhianati dirimu sendiri, terlalu miris bukan?

Continue reading Tenggelam dalam Rutinitas, Apa Kabar Prioritas?
, ,

Melupa Tentang Kita

    


    Kala kita sama-sama meleburkan diri untuk berpura-pura lupa agar tak lagi merasa tentang kecewa dan lara yang akan datang. Merimbun di dalam kalbu tiap raga kita. Bukan bermaksud untuk tak mengenali lagi kisah kita atau memaksa menimbun di tempat paling jauh dalam diri. Hanya saja, itu bukan waktunya lagi untuk menunjukkan romantisme cinta kita ini. Jika kita kembali, akan ada banyak yang semakin melara. Kita akan bahagia di atas luka. Akan kejam juga bagi mereka, sebab keegoisan kita. Kita ada karna sebab dan berpisah juga karna sebab, jika kita kembali bagaimana dengan hati yang lain?


    Aku tahu melupa tentang kita bukanlah hal yang mudah, banyak kenangan masih membayang dalam setiap gerak. Setiap ucap jua memiliki kenang, dan setiap tempat akan ada putaran film yang membangkitkan memori lama. Begitu romantisnya kita, namun sekarang harus dikubur jua. Simpanlah rasa ini tanpa harus mereka tahu. Lalu, biarkan sedikit-demi sedikit, detik demi detik terlupa. Kita sudah tidak ditakdirkan bersama, sebab di antara kita ada hati yang harus dijaga.


    Jika kita mengego, memaksa keadaan, mengembalikan segala kenang dan rasa, bukankah ini sebuah bencana? Hubungan kita kembali diungkap namun nantinya akan terlarang. Kita adalah rasa yang datang kembali di waktu yang salah. Kita hanya bisa mengenang tanpa bisa memutar ulang. Kita hanya bisa memimpi yang kemudian harus dibuyarkan kembali. Sebab, adanya kita saat ini adalah cela bagi mata tiap orang. Kita adalah luka yang menyengsarakan.


    Sudahlah jangan kau tangisi ini, berbahagialah bersama dia yang kau pegang tangannya sedang aku akan melupakan rasa ini bersamanya yang memegang tanganku. Meski harus berpura-pura lupa, ini juga menyakitkan bagiku. Kau datang kembali dengan hubungan baru saat rasa cintaku padamu masih belum padam. Kau menanyakan rasaku padamu sedang kau terikat pada hati yang baru pula aku pada jalan baru yang mencoba melupa hal tentang kita yang telah lama berakhir. Cukup, kita harus melupa.


Kita telah berada pada jalan yang berbeda dan baru, mengapa harus kembali pada jalan lama dahulu.



    Sudahlah kenang dalam diri kita hanya sebatas kenang bukan untuk diungkit. Takdir kita hanya untuk menjadi kawan bukan pasangan. Mari melupa tentang kita, kembali pada tangan yang sudah lama menanti kita memegang erat. Tak apa kali ini kita merasa begitu tersayat, terluka, dan melara. Waktunya kita pura-pura lupa, biarkan bahagia datang kembali dengan cara yang berbeda meski tak bersama.


    Tersenyumlah dahulu, hapus tangisanmu. Aku tak bisa memegangmu dan mengapus air matamu seperti dulu. Itu hanya akan membangkitkan rasa kembali. Cukup kali ini kita membicarakan rasa ini berdua. Selanjutnya kita tak akan begini. Kita harus berjalan maju, bukan? Kenangan kita di masa lalu biarkan pada tempatnya. Mengertilah aku juga terluka, tapi tetap saja ada hati yang harus dijaga.


Tulisan ini terinspirasi oleh lagu yang berjudul Pura-pura Lupa karya Pika Iskandar yang dipopulerkan oleh Petrus Mahendra. Sebenarnya juga tulisan ini muncul di kala mimpi tidur menggentayangi. Hehehe


Salam Literasi. Salam hangat



Obral Kata Veve


Continue reading Melupa Tentang Kita
, ,

Selamat Datang Pebruari, Sampai Jumpa Januari

       


    Menunggu kapan datangnya hari selanjutnya, memaksa hari yang kita lalui ini harus segera usai. Seakan terburu-buru lari pada keadaan yang sedang dialami. Melupakan kita telah berjuang sampai hari ini. Namun, memperlambat diri untuk tetap menetap juga bisa melukai sendiri. Kita tak bisa mempercepat waktu juga tak bisa kalut dalam lalu.

       Januari telah usai kali ini, meski segala beban berat juga tanggungan masih saja ada. Waktu berlalu begitu cepat, sedang rintangan tak segera beralih dari diri. Sampai-sampai berpindah sedikit saja cukup menyulitkan. Bukan kita yang berlalu, namun waktu. Waktu selalu mengusik untuk segera pergi dan berpindah pada pijakan lain. Namun kita masih saja di sini.

        Kadang sebenarnya yang muncul dalam pikiranku ini, "Kita yang mengejar waktu atau waktu yang mengejar kita." Segalanya telah usai namun kita masih saja tak mau pergi, tetap pada luka yang masih tersemat. Masih menjamu pun mendambakannya, menganggapnya tak mau pergi padahal yang mengikat luka untuk menetap adalah diri sendiri.

      Januari telah berakhir. Namun, kenapa penat masih saja terus menghampiri. Lelah, marah, dan segala kecewa ... masih saja ada. Ini ... aku yang mengalah pada keadaan atau pasrah akan keinginan? Hal yang membuatku meratapi nasib, sebabnya ada pada diri sendiri. Kita yang tak pernah pasti menginginkan menetap atau pergi.

    Sudah beberapa kali mengingatkan untuk bangkit, namun sepertinya susah dilakukan. Hanya mudah diucapkan. Berpikir semua baik-baik saja padahal, kau sudah bersimpuh menghadapi beban yang mengajak bergulat dengan paksa.



    Sudahlah, januari telah berakhir untuk apa mencemaskan apa yang sudah terjadi?
    Bukankah kita ini harus mengikuti arus waktu agar kita dapat berjalan lebih maju selangkah? 

    Seperti itu, mari kita rayakan bulan baru. Bulan baru, semangat baru. Selamat datang Pebruari, semoga bahagia lekas menemani. Segala penat di Januari lekaslah berganti dengan suka cita yang dinanti. Selamat datang Pebruari jangan merasa puas diri sebab telah lepas pada bulan Januari, beban kita masih menggelayuti segeralah untuk disingkirkan. Selesaikan tugas yang telah lama kau hindari.

    Mulai hidup kembali, jangan biarkan diri menjadi layu lagi. Ini bulan baru, harusnya ada inovasi baru dalam hidup juga. Terus berkembang dan mengembangkan diri sebab hidup ini terus berjalan tak pernah berhenti. Jangan sampai waktu menghunusmu membuatmu pergi.

    Kita yang baru, juga waktu yang terus saja melaju. Kita yang menentukan nasib kita sendiri.


Salam hangat, Salam cinta dariku


Obral Kata Veve



Continue reading Selamat Datang Pebruari, Sampai Jumpa Januari
, ,

KOSONG

  


  Ini hanyalah tulisan kosong tanpa makna, hanya sekadar curhatan belaka jika si penulis bingung untuk menulis apa. Bingung menuliskan cerita apa dan tentang hal apa. Sebabnya, ini kosong tanpa makna. Maka dari itu, tak usahlah tuk dibaca, sebab akan sia-sia.


    Apa yang terpikir masih rancu, semuanya terasa rumit, terasa hampa dan hambar. Tidak berselera untuk diungkapkan. Semua hanya kumpulan kata yang tanpa sengaja berbaur menjadi satu dalam sebuah post tanpa makna.


    Jika kalian tetap ingin membaca, itu terserah saja. Terpenting sudah diingatkan sejak awal jika ini kosong. Bukan apa-apa. Bukahkah kalian akan merugi membacanya? Cukupi saja sebab ini kosong.


    Berada dalam fase dimana "Writer's blog" memang menyebalkan. Mancet ide dalam menulis hanya akan membuat diri semakin malas saja menulis, kurangnya bacaan yang dibaca dan pengetahuan yang didapat akhirnya menjadikan tulisan kosong tanpa makna. Penulis pun berakhir memiliki mood yang rusak.


    Ini adalah tulisan paling menyebalkan yang tertulis. Seperti deretan kata tanpa tujuan. Ngalor-ngidul tanpa ada sasaran. Padahal dalam menulis pun harus memiliki tujuan dan amanat yang jelas. Bukan "korlis" alias sokor nulis. Iya, memang menulis tetapi ... jika ditanya apa yang ditulis tidak tahu. Jika ditanya apa yang bisa diambil dalam sebuah tulisan yang telah dibuat, bingung dengan apa jawaban seharusnya.



    Bagaimana lagi, menulis hanya karena keterpaksaan. Jadi, hanya sebagai tuntutan bukan keinginan. Mungkin maunya nulis kaya penulis yang tenar, tapi untuk membaca saja tak mau. Observasi saja ogah-ogahan. Akhirnya acak-acakkan yang dibuat. Jadi kosong.


    Kalau mau menulis malah nglantur seperti ini, ya namanya penulis abal-abalan suka nulis sakarepedewe. Balada penulis musiman, sukanya nulis pada hal yang sedang tenar semata. Jika, tak ada berita malah membuat berita yang semena-mena hanya untuk mendrobrak viewers bukannya kasian pada pembaca yang terkena rayuan headline tanpa isi? Clicbait mencari keuntungan tanpa ada kemanfaatan kedua belah pihak. Menghabiskan waktu berharga pembaca, sungguh ironisnya dunia.


    Lah, kan dari awal sudah kukatakan ini omong kosong belaka kenapa dibaca berkala? Kamu merugi aku yang tertawa. Kuulangi lagi ini hanya kosong semata buka apa-apa. Jangan marah begitu, wajahmu malah memerah.


    Menulis bukan masalah rupa, banyak diksi namun kurang isi. Menulis itu seni, ada isi juga diksi. Ada deskripsi yang merujuk detail juga eksplorasi yang membahas penjelasan. Tak lupa menulis juga memiliki persuasi yang bersifat ajakan. Kalau tulisan ini hanya buntelan nasi tanpa seni. Apalagi isi, kan ini tulisan kosong!

Sekian, dari penulis korlis. Mohon permisi jangan emosi.


Salam literasi

Aku cinta kalian

Jangan lupa membaca penuh isi, jangan cuma berimajinasi.

    


Continue reading KOSONG
, ,

Tentang Setia, Kadang Suka Terluka



 Pernah mendengar kalimat, "Setia itu mahal!"? Bagaiamana menurutmu, benarkah seperti itu? Apa yang membuatnya mahal? Pernah setia terhadap seseorang? Bagaimana rasanya?


Namun, sudah taukah apa itu setia?
    Jika merujuk pada KBBI, setia berarti berpegang teguh, teguh hati, taat, dan patuh. Setia bisa pada janji, pendirian, atau pada ikatan, dan sebagainya. Jika setia memiliki arti yang sangat luar biasa seperti itu, bukankah memang benar setia itu mahal? Sebab setia penuh dengan keloyalan dan kepatuhan.


Semahal itu kenapa suka terluka?

    Kenapa setia harus dibayar luka? Kenapa dalam hubungan percintaan yang paling mencintai suka sekali menjadi yang paling tersakiti sebab terlalu berpegang teguh pada hubungannya? Tak mau berpaling pada yang lain meski sering terkhianati?


    Kadang pemikiran yang seperti itu sering sekali masuk ke dalam otak kita, kembali membuat semua terlihat rumit dan cukup membingungkan. Tentang hubungan, percintaan, dan kesetiaan yang sering menaburi luka pada pemiliknya.


    Tapi ... bukankah cinta tanpa tapi dan imbalan, lalu ketika kita benar menggunakan setia dalam hubungan dan terluka, kenapa harus menyalahkan orang lain? Saat itu benarkah ada cinta di hati kita? Atau sekadar suka dan obsesi belaka?

    
    Setia, kadang suka terluka sebab di dalamnya penuh harap sebuah imbalan untuk mendapatkan hal yang sama seperti apa yang kita lakukan. Terlalu fokus pada timbal balik, sampai lupa dengan rasa yang sebenarnya di hati. Menghitung jumlah kesetiaan? Lalu, meluapkan saat kita merasa tersakiti.
Bukannya kita sendiri yang memilih untuk setia? Bukannya sudah tau apa itu setia? Kenapa sekarang harus menyerang balik?



Jika kau tak ingin terluka tetaplah mencintai dengan tanpa tapi dan sebab, tetaplah setia pada yang kau cintai tanpa meminta timbal baliknya. Gunakan ketulusanmu, bukan akal bulusmu. Gunakan hatimu bukan emosi dan obsesi.


    Walaupun begitu, untukmu yang hanya menerima kesetiaan ... bukankah dalam hubungan itu ada kata "saling"? Kenapa kau tak juga setia? Kadang ini sangat menyebalkan jika kau tak merasa cemas tentang pengkhianatan yang kau buat. Melupakan segala hal yang telah diperbuat dari orang yang mencintaimu tulus, ah itu benar-benar membuat kacau.


    Pernahkah kau berpikir sebentar, jika orang yang selalu berada di sisimu bisa bosan dan pergi karna sifat semenamu ini?
    Jika tidak kau benar, luar biasa kali ini! Kau benar hebat melakukannya, karna hatimu sudah kau tutupi.


    Kembali pada kalian yang selalu setia, tetap tulus tanpa harus menunggu mendapatkan kesetiaan. Sebab, suatu saat kau akan mendapatkan itu. Jangan ragu untuk selalu setia.

Kala rasa telah menemukan tuannya

Gejolak asmara kian membara

Menuntun takdir untuk bersama

Mulailah bahagia melanda


Meski temu tak menentu

Tak pernah kumeragu tentangmu, Tuan

Tak pernah sekalipun mencari sandaran baru

Sebab mencintaimu adalah keikhlasan

Tulungagung, 21 Januari 2021

 Bertepat pada tanggal 21 tahun 21 dan abad 21. Aku menuliskan puisi untukmu yang sedang jatuh cinta dan menetapkan kata setia sebagai penguatnya. Padamu pula yang merindui sang kekasih, sebab tak mau beralih, semoga tetap kuat. 



Continue reading Tentang Setia, Kadang Suka Terluka
, ,

Kenapa Meyerah?

  Apakah dunia ini terlalu sulit bagimu? Sampai kau rasa semua mata menghakimi dirimu. Seakan memaksamu untuk berhenti dari apa yang kau lakukan. 

Memberimu duri dalam setiap kali langkah yang kau buat. Kau merasa kalah dan tak tahu harus berbuat apa. Begitu, kan yang kau rasa?


    Segala pijakan kau pijak runtuh seketika, membuat limbung dan terjatuh. Kau merenung lalu berdiam diri, menangisi segala apa yang terjadi. Kau frustasi, dan segera ingin mengakhiri hidupmu sendiri. Sayatan di tangamu sudah banyak, tetapi kaurasa itu belum bisa menghilangkan segala rasa sakit di dada.


    Ini menyesakkan, untuk bernapas saja harus kesulitan. Semua beban terasa di pundak juga pikiran. Kau sekali lagi bertanya pada dirimu, "Apa yang harusnya kulakukan? Kenapa aku selalu gagal untuk menjalani segala inginku? Apa harus ku akhiri?".

Dalam hal ini, kau selalu ragu dalam memutuskan benarkah siap menanggungnya jika segalanya diakhiri?


    Kau selalu ragu dalam hal itu, hingga banyak luka yang ada di tubuhmu. Kau masih takut meninggalkan semua yang ada di dunia. Takut akan hukuman, takut akan kepergian, takut akan kekhawatiran orang yang akan kau tinggalkan. Itu semua ketakutanmu.


Sebabnya. sekarang aku akan bertanya, "Kenapa menyerah? Apakah duniamu benar-benar runtuh?"

    


 

Kau tak harus melakukan itu semua, kau tak perlu memikirkan kematian yang akan kaubuat jika kau gagal kali ini, jika semua rencana tak sesuai dengan pengharapanmu, jika banyak cacian yang kaudapat, dan jika tak ada yang mendukungmu untuk bangkit.

 

    Kau tak perlu merasa dirimu harus dikasihani orang lain, mengharapkan uluran tangan dari orang lain, mengharapkan rasa iba dari orang lain, mengharapkan semangat dari orang lain. Kau tak perlu! Apa yang kau harapkan dari manusia? Tak selamanya yang ada di sampingmu tetap mendampingimu selalu bahkan mempercayaimu atau mendukungmu. Jangan menunggu harapan dari manusia!


Apa salahnya jika kau tak bisa melakukan?


Kau tak salah dalam hal itu, kau tak salah juga jika kegagalan masih menempelimu, jika semua kesengsaran senang menggelayutimu. Tenang saja, masih ada proses yang akan berlanjut dalam titik nadzirmu ini. Jika kau tak kuat, MENANGISLAH SEKENCANGNYA, KELUARKAN SEGALA BEBANMU. Tapi, jangan sampai kau mengakhiri hidupmu sebelum kau sukses melakukan apa yang kau mau.


    Bukannya kau masih ingin merasakan apa yang namanya sukses, yang sudah dirasakan orang lain? Jika mereka bisa menikmati itu, bukannya sedikit menyebalkan kau tak mencicipi juga. Tentunya dari hasil kerja kerasmu. Ya, dari segala rasa yang telah kau rasakan kau akan temukan jawaban dan mimpi yang kau cari itu.


Lalu, ketika kau ditinggalkan oleh segala kepergian yanga ada, semua orang yang kau cintai telah tiada. Apakah kau harus berhenti juga?


    Setelah kau berjuang sekuat tenaga, dan kau hampir melakukan apa yang kaumau, kau akan berhenti? Merelakan segala yang kau lakukan. Segala proses yang kau jalani akan sia-sia. Kau tau betapa kecewanya mereka, jika kau menyerah begitu saja. Kau menyia-nyiakan hidupmu karena kaupikir peganganmu sudah hilang. Padahal kau masih mempunyai itu.


    Meski tak terlihat kau masih mempunyai, kau masih bisa memegang segala kenangan yang ada saat kau bersama mereka, kau masih bisa berpegang pada Tuhanmu, kau masih bisa menunjukkan pada mereka. Karna bahagiamu akan membuat mereka lega.


Kau mengerti sekarang, kenapa kau tak seharusnya menyerah? Kenapa tak seharusnya menyia-nyiakan hidupmu kali ini?


    Karna kau belum mencicipi suksesmu, kau kau belum berbahagia kembali, karna anganmu masih panjang, dan karna ada orang yang selalu menunggu kamu bangkit dan berjuang kembali. Entah, siapa itu. Ada, pastinya orang yang menunggumu kembali. Menunggumu tersenyum bahagia dengan gengggaman yang kuat.


Kutegaskan padamu, kau layak memperjuangkan hidupmu!


Continue reading Kenapa Meyerah?
, ,

Jika Kita Bukan Sebuah Takdir

 



    Kebersamaan yang kita jalani, begitu mewah kurasa. Rintangan-rintangan telah kita lalui bersama. Tangis bersama pula sudah sering kali kita rasakan berdua. Mengenang awal jumpa, membuat semu merah di pipi kian merona. Sebab, adanya kita memang tak terduga. Berawal dari kegemaran yang sama kita dipertemukan.

    Tingkah konyolmu itu membuatku terus tertawa, entah kau sengaja melakukannya atau pura-pura. Bagiku kau sungguh tulus melakukannya. Di antara tawamu, kau menggenggam seribu misteri yang kutak tahu apa itu. Kau itu aneh tapi kusuka. Kau jahil, tapi kunikmati segala kejahilanmu. Kau tak pernah malu saat berjejer bersamaku. Kauanggap tuan putri bagimu, begitu luar biasa kau jaga diriku.

    
Aku pernah bermimpi, bagaimana jika akhirnya kita akan menua bersama. Mungkin, ini akan menjadi kisah hidupku yang sempurna. Caramu menghargaiku, caramu mencoba mengerti apa yang kurasakan, kau selalu berusaha terbaik untuk itu. Jika ini benar terjadi, akan menjadi kisah utama yang akan kuceritakan pada anak-anak kita. Hingga kisah ini melegenda sepanjang masa di keluarga kita, sampai kita tutup usia bersama.

    Sayangnya takdir kita bukan menua bersama. Kita memang selalu bersama, suka-duka tak pernah kita lalui sendirian. Selalu ada kau dan aku untuk bertahan di tengah badai yang ada. Kisah kita terlalu manis, sampai melupakan akhir apa yang terjadi nanti. Kita terlalu senang secara dini, sampai-sampai melangkahi takdir yang ada.

    Pada saat bahagia menyelimuti kita, kejadian tak terduga datang. Kita dihantamkan oleh kenyataan, jika kita bukan sebuah takdir.


    Kita adalah sebatas kata mampir kemudian berakhir pada kata sendiri saja. Tak ada kata berdua atau bersama, seperti tamu spesial yang mana ada tenggat waktu juga untuk melakukan perpisahan. Bersama daun gugur, kau pergi untuk selamanya. Tak lagi bisa ku pandang seperti sebelumnya.

Untukmu, kupersembahkan sebuah " Bait-bait Perpisahan "

Gugur satu demi satu daun
Temani tangis yang mengalun
Genang airmata telah jatuh
Pertahanan sudah runtuh

Kenang tetiba mulai mengangkasa
Hadirkan lagi rasa lama yang ada
Aku terluka, tentang kita tak bisa bersama
Dan, jika kembali hadirmu bukannya itu keajaiban nyata

Lagu, aroma, tempat, segala kenang kita
Sudah sering kurindui saat sore tiba
Harap kau kembali lagi
Nyatanya kau sudah pergi

Tiap kali sosokmu kutilik pada gawai
Tetes bening membasai pipi
Ingatkan tentangmu samar samar pergi
Benar, kau sudah tak di sini lagi

Lagi, aku menangis sendiri 
Dalam kenang tentangmu, selalu tentangmu

Tulungagung 14 Januari 2021


______________________________________
    Puluhan kata terukir di sini, sebab karena sebab. Aku tak bisa menjabarkan tulisan ini berawal dari apa. Hanya saja tulisan ini kubuat untukmu yang sedang mengenang pergi, tentang hadir yang harus pergi dan tak kan kembali lagi.

    Untukmu yang merasa sendiri, mari kita merangkul bersama. Benar, kehilangan membuat diri kita seperti setengah mati. Menahan sesak yang tak kunjung damai lagi. Memaksa betahan, meski kaurasa tak mampu melakukannya. Ingat kali ini kita bersama. Bukan kau sendiri yang akan menikmati pedih di hati. Kita ada di sini membagi beban bersama, agar lega cepat datang.

Ingat, meski dia pergi kau harus tetap memperjuangkan hidupmu. Kau harus kuat. Tahan sedikit lagi, oke?

Continue reading Jika Kita Bukan Sebuah Takdir
, ,

Mengikis Luka Bersama, Menyemai Bahagia Berdua

    

 

Tentang dua manusia yang menatap pada lara, memulai untuk saling bicara. Mengenang segala pahitnya lalu selalu mengiringi tiap jejak langkah untuk bergerak maju. Menghabat lajunya langkah, membuat semakin nelangsa. Sungguh seperti drama melodi yang rusak.

    Kita dua manusia, meratapi nasib yang tak mau berpihak pada kata bahagia. Memberikan suntikan patah hati tiap kali rindu menggebu, meminta ulasan kisah lama menjadi kembali nyata. Tentang bahagia bersama dia yang pernah kita cinta. 

    Menelisik, betapa lara selalu membersamai. Berikan jeda sebentar, membuat kita menjadi sering menggunakan kata "pernah" untuk alasan memahami satu sama lain. Terurai pula sekat antara kita, kemudian tiada, lalu mendekat. Membuat kita menjadi erat.

    Tentang kita dua manusia yang mulai menenun kembali kata cinta, merajut asa bersama. Meski, sedikit ragu dalam bertindak, sebab luka pernah dirasa memberikan efek cemas kala ketakutan untuk jatuh pada lubang yang sama datang. 

    Harap-harap cemas, akhirnya kita keluar pada kelam yang selalu menghantui. Berpijak pada harapan yang mulai disusun bersama, kita berikan ulas senyum tuk buktikan bahwa kita bukan lagi sepasang hati yang mata. Sebab, kita adalah sepasang manusia yang sedang berjuang bersama.

    Bahagia mulai kita ciptakan, kabut sendu semakin samar. Hilangkan ragu perlahan, kita melangkah sedikit demi sedikit. Bersama tiap langkah yang selalu kita eratkan pegangan tuk yakinkan pada kekuatan yang ada. 

    Kita, kini menjadi dua manusia, bernapaskan lega. Menghirup udara dengan bebas, teriakkan "Berani" dengan lantang. Tantang dunia, kita tak akan kalah pada medan perang yang ada. Jika lelah, kita putuskan memberi jeda lalu memuat ulang segala asa yang tersematkan pada dada setiap diri kita.

    Jika esok datang, misteri menghantui, kita tak lagi gentar. Sebab, kali ini kita datang bersama namun berperinsip pada masing kita. Sebagai usaha kala kita harus berpisah tak akan ada luka yang harus dikhawatirkan lagi.

    Memang kita bermula pada rasa luka yang sama, ditinggalkan dengan cara berbeda namun pernah memahami arti rasa sakit keduanya. Bukankah ini adalah takdir kita?

    Tentang kita yang kembali ada, tak perlu cemas akan perpisahan, Akan ada waktu dimana temu akan menunggu. Tak perlu bersikap keras pada diri untuk tak jatuh cinta. Sebab ancap kali ini kamu merasa sakit yang tak dijabarkan ingatlah kenangan yang menjadikan sebuah pelajaran bersama,

Aku, kamu, dan dua hati yang sedang patah.
    

Salam hangat!
Salam Cinta!
Salam literasi!!!


Continue reading Mengikis Luka Bersama, Menyemai Bahagia Berdua