Tampilkan postingan dengan label Senandika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senandika. Tampilkan semua postingan
,

Ternyata Bukan Rumah



 

Satu


Mempercayai
rasa nyaman bukan berarti itu sebagai jawaban. Kadang kala nyaman datang karena kamu ingin. Karena pula ekspetasi yang ditinggikan sampai lupa pada kenyataan jika nyamanku hanya pada sisimu bukan padanya.

 

Dua

Mungkin begini, kamu terlalu salah mengartikan rasa baik dan sopan dia kepadamu. Terlalu jauh menerka maksud yang sebenarnya cukup sederhana untuk dipahami. Anganmu terlalu jauh, sampai-sampai kamu tidak sadar yang sedang berlari hanya kamu sendiri, bukan kamu dengan dirinya.

Berlebihan, memang itulah pikiranmu. Polosnya dirimu sampai salah artikan makna.


Tiga 

Benar dia hanya bersikap baik bukan sedang jatuh cinta kepadamu, dia hanya bersikap segan bukan terpesona pada hadirmu.

Sakit? Bukankah itu ulahmu sendiri. Kamu terlalu mengkhayal seperti drama televisi. Menjadikan setiap lakunya adalah perlakuan spesial untukmu seorang. Padahal dia cukup biasa melakukannya pada semua wanita. Karena dari awal tak ada niat untuknya menjadikanmu pemilik hatinya.

 

Empat

Haha .. mau tertawa sedikit, ternyata saat ini kamu dikecewakan oleh ekspetasi sendiri. Baru sadar ketika perlakuannya yang berbeda saat bergegas meninggalkanmu pada posisi awal, sendirian. Benar bukan?

 



Rasa nyamanmu masih tertinggal, tetapi hadirnya sudah menghilang. Kamu terpaku sendiri pada tempat sama, sedang dia sudah dengan ikhlas melanjutkan perjalanannya.

 

Lima

Ya, ternyata kamu bukan rumahnya. Hanya tempat persinggahannya semata. Tempat menepi tatkala badai dating. Tempat berteduh tatkala hujan mengguyur. Sebab kamu bukan rumahnya untuk menetap, maka ia berlaku baik sebagai formalitas semata. Dirinya hanya balas budi, kenapa yang kamu berikan malah hati?

Bukankah ini ironi?


 

 

Continue reading Ternyata Bukan Rumah
,

Jangan Baca Tulisan Gila

Perempuan Gila

 

Berawal dari hal rumit di dalam kepala, kata-kata muncul tak disangka-sangka. Hidup memang seperti lawakan kadang terasa garing  kadang pula terasa renyah untuk dinikmati. Di pagi yang tak kalah pagi lagi, pikiran sedang melayang enyah kemana. Sampai-sampai tangan-tangan menari-nari dalam alunan nada papan ketik. Hembusan napas panjang pertanda benang kusut yang masih belum terurai di dalam kepala.

Haaah!

Dunia punya cerita, manusia punya kisah. Kepala-kepala kusut di tengah malam sedang mencoba mengurai benangnya. Sayangnya saat diurai bukannya makin sederhana, malah makin rumit. Susah terlalu lama bersarang masalahnya.

Hah

Merajut mimpi bukan sebuah pencapaian kali ini, karena terpenting kewarasan harus selalu disadarkan untuk ada. Terlalu lama mengubah diri menjadi gila untuk kuat menghadapi hidup menjadikan nyaman sampai lupa jati diri. Kecut, inilah kenyataanya.

Mimpi bukan lagi kebutuhan, namun waras menjadi keharusan.

HAH

Kehidupan dikatakan akan selalu berputar, namun tidak ada yang mengatakan roda tak selalu berputar. Adakalanya rodanya sedang rusak sampai untuk bisa berjalan terseok-seok. Ada juga yang malah mancet tak mau bergerak. Sempit! Bukan pikiran tapi kesempatan berputar.

 

Apa!

Apa mau dikata semua terlalu mengkusut! Cermin tidak mampu untuk menjadi pembohong mahir, topeng sudah lagi tidak berguna. Tawa bukan jadi kambing hitam. Kita terlalu rusak, dunia sampai tertawa melihatnya dan orang-orangmu memandang kita begitu pedih. Sial! Kenapa itu terjadi

 

Jangan dibaca, sebuah tulisan gila terwujud dari pikiran gila yang tak tahu mau kemana dia akan menyembuhkan kewarasannya. Jadi, cukup lewati saja. Tidak berguna, hanya memicu orang semakin kehilangan kewarasan.

 

Jika kalian tetap ingin membaca terserah saja! Hati-hati untuk mengingat jati diri sendiri. Hidup ini tak mudah, tapi mati juga terlalu sulit. Merasakan sakit di keduanya. Hanya saja beda jalan dan beda masa. Jika mati kau rasakan sakit selamanya, jika hidup seperti judi, bisa jadi kamu bahagia. Hahah, ini gila kan? Makanya jangan dibaca.

Continue reading Jangan Baca Tulisan Gila

Jika Akhirnya Rasa Harus diakhiri



Aku menginginkanmu, tapi aku harus melepaskanmu. Kebahagiaan yang sudah kita buat ini terpaksa dibuang jauh-jauh. Kenangan yang terlanjur terpatri harus disingkirkan. Hahaha ..., benar lucu sekali kisah ini. Membuatku terus mengumpat karna kesal tapi kini perlu diselingi tawa untuk hiburan pada diri sendiri.

Akhirnya, kita menemui sebuah penyesalan tentang pertemuan yang di awal memberi kebahagiaan berlipat seakan sekat untuk memisahkan dua insan tak ada. Sebab bahagia dan sedih selalu kita bagi bersama, memberikan motivasi jika kita bisa hidup bersama untuk selamanya.

Benar seperti romansa cinta dalam kisah remaja, bahagia tanpa perlu berpikiran macam-macam. Meski ada masalah datang, berdua saja kita cukup untuk atasi dan cari solusi. Semua sempurna! Benar-benar sempurna tanpa cela.

Sayangnya itu salah!

Rupanya kebahagian yang memberikan sebuah senyum hangat dan tawa riang ini, bukanlah scene akhir dari hubungan yang sedang kita bangun. Kesepakatan menyelesaikan masalah tanpa kata pisah boleh jadi harus diingkari. Meski, bukan keinginan sebenarnya untuk mengingkari.

Hanya saja, kita tidak bisa untuk beralih dalam kondisi harus segera selesai.

Menyakiti beberapa pihak untuk hubungan yang kita jalani, mengesampingkan sebab-akibat bagaimana sesuatu yang lain akan terjadi, seakan menjelaskan betapa egoisnya kita. Ingin berada dalam genggaman yang sama namun membuat saling menyakiti.  Ingin memberi senyum, namun tangis yang ada saat ini. Ingin tertawa, tapi jerit putus asa yang datang.


Jika saja kita tak akan bertemu, tak akan pula rasa datang.

Jika tak saling tatap, tak ada pandangan yang membuat jatuh hati. Jika tak mengungkapkan perasaan, tak akan pula patah hati.

Hingga jika tak beringinan untuk bersama tak akan kita berada pada posisi ini.

Penyesalan-penyesalan yang datang selalu saja muncul.

Mungkinkah ... pengandaian tentang "kita" ini akan menjadikan kata "kita" tak akan pernah ada? Jika saja itu tak terjadi akan kah kita tetap berhubungan? Atau akan tetap ada takdir lain yang akhirnya mempertemukan kita. Sebab semua memang harus kita jalani, dengan berawal bahagia lalu menjadi derai air mata.

Meski aku tahu, kita telah melewati segala kepahitan. Namun, untuk kali ini terlihat begitu jelas dan nyata jika kita berada pada posisi dan waktu yang salah sampai saling menyakiti. Bukan pada kita saja, juga orang-orang yang berada di dekat kita. Akan terlalu tamak dan egois menginginkan keduanya dimiliki.

Hubungan ini perlu diakhiri dengan segala penyesalan tentang pertemuan awal kita. Selamat tinggal, untuk kita yang akhirnya sama-sama patah harus pisah sebab keadaan. Terima kasih sudah ada untuk kita, namun harus ditiadakan. Baik, kita akan kembali asing seperti tak ada temu yang menghampiri. Sekali lagi, ku ucapkan “Selamat tinggal! Jalani hidupmu dengan baik!”.

Continue reading Jika Akhirnya Rasa Harus diakhiri
, ,

Kepada Jodohku Nanti



    Aku akan selalu bersyukur atas apa yang telah dipilihkan Allah untukku, tidak serta merta aku menggantungkannya tanpa berusaha. Kepadamu yang selalu mengusahakanku lewat doa dan ikhtiar yang engkau lakukan, kuucapkan terima kasih.


    Terima kasih telah hadir di dalam hidupku dan berusaha pada ikhtiar dan doamu. Lewat sepertiga malam kaulangitkan kriteria yang engkau inginkan. Beribu kali pula namaku kau sematkan tiap lantunan doa yang ingin diistajabah oleh Allah. Kerja kerasmu membangun sebuah kehidupan yang akan kita karungi bersama. Adalah sebuah bukti nyata tentang cinta yang membutuhkan logika.


    Saban hari tak pernah terlintas di hatimu menyerah demi masa depan. Siang malam kau lakukan segala kerja keras untuk kehidupan yang layak. Mengeluh sesekali kau lakukan kemudian mengulang kembali apa yang kamu kerjakan. Kamu tak pernah bosan untuk terus berusaha, dan lagi-lagi kuucapkan terima kasih.


    Terima kasih telah membersamaiku, meski hanya sekali dua kali kita berbalas pesan dan mengobrol sekadarnya, akibat padatnya kegiatan di antara kita berdua. Memaksa kita untuk sadar jika cinta bukan sekadar kata yang terucap, juga pengorbanan untuk sebuah hari esok yang lebih cerah. Tak hanya bualan manis yang diperlukan, pun kerja keras demi kehhidupan yang terus berjalan.


    Suatu saat, tibanya kau ucapkan akad suci di mana apa yang telah lama diperjuangkan bersama menjadi nyata. Aku akan berkata kepadamu, "Ikhtiar kita belum selesai, Tuan. Awal mula bahtera kehidupan kita baru dimulai. Mari bersama berjalan tuk saling mengingatkan, jangan saling menyalahkan. Ikatan yang telah kita buat ini terlalu suci, jangan sampai dikotori."

    

    Segala hal yang terjadi akan kita jalani bersama, bukan lagi sendirian dan berpikir berusaha mandiri. Sebab itu menjadi awal sebuah kehancuran yang diwaspadai. Setelah akad, inilah janji ikatan bersama bukan sendirian saat awal jumpa.

    Jika dahulu hanya ada aku dan kamu, kini yang ada hanyalah kita bersama. Berpikir logis bukan hanya untuk saling mengasihi dan menyayangi pula untuk saling mengerti dan memahami. Tetap saja kita memiliki pemikiran berbeda di setiap kepala. Namun, selalu ada jalan tengah untuk memberikan solusi terbaik. Akan ada waktunya satu di antaranya untuk mengalah. Tidak mungkin sama-sama keras yang membuat robohnya pertahanan kita bersama. Seperti dalam kehidupan ada gelap dan terang, ada hitam dan putih, dan ada keras dan lunak. Menjadi pelengkap satu sama lain, bukan untuk mendorong untuk unggulkan kemampuan sendiri. 


Continue reading Kepada Jodohku Nanti
, ,

Cintamu Tak Lagi Semanis Dulu, Sayang!

 



Jika dulu kamu puja diriku begitu megah sampai kauberikan segala kabar yang kadang tak pernah kutanyakan, kini kamu berganti sedingin es batu. Tak pernah sekalipun kamu memberiku kabar. Menanyakan kabar tentang dirimu hanyalah pekerjaan sia-sia. Centang birumu dulu yang selalu berbalas kini berganti centang biru tanpa balas. Kadang juga malah berwarna abu-abu yang membuatku kelu.


Aku tahu, ini terlalu norak bagimu. Pemberian kabar saban hari hanya membuatmu semakin terkekang. Padahal kau tahu, bukan? Jika hubungan tanpa komunikasi akan berubah menjadi sebuah prasangka. Mengertilah engkau, jika satu hari tanpa kabarmu selalu membuatku bertanya. Bagaimana keadaanmu? Apakah hari ini kamu mengalami kesulitan? Atau ada cerita apa dalam satu hari ini. Aku ingin mendengarkan segala ceritamu itu yang begitu berekspresi dengan ragam emosi.


Sayang, jangan marah! Jika aku selalu memberimu pesan tentang pertanyaan keadaanmu juga tentang kabarku hari ini. Aku hanya ingin membuatmu lega atas segala kegiatan yang telah kulakukan. Bila kamu akan khawatir akan sirna mendengar segala penuturanku. Tetapi, sayang. Mengapa kau tak pernah membalasnya. Apakah rasamu mulai meluntur. Apakah cintamu padaku sudah mengkabur hingga cintamu tak lagi semanis dulu.

 

Ah, sudahlah Sayang! Jika kamu selalu begini, biar aku yang mencoba untuk berjuang. Tentang hatimu kini aku memang sudah tak tahu lagi. Bagaimana pun prasangka selalu membuatku ragu akan keseriusan ucapanmu dulu. Aku tahu jika kau hari ini sedang berusaha mengejar segala hal yang kita butuhkan nanti. Meskipun begitu, bisakah kau ceritakan lelahmu? Apa yang kau pendam aku ingin sekali mengetahuinya, tapi untuk hal tertentu memang tak bisa dipaksakan, bukan? Aku akan tetap menunggumu menjelaskan. Aku tetap menunggumu bercerita tentang segala peritiwa yang kamu alami, tentang segala keinginan yang ingin kau capai. Aku menunggumu benar-benar menunggumu meski rasanya hubungan ini tak semanis dulu.


Orang-orang selalu berkata kepadaku, Sayang. Jika cinta manis dalam usia dewasa sudah tak diperlukan terpenting pengertian. Padahal pengertian yang saling mengerti juga termasuk cinta manis, kenapa itu tak bisa dipahami oleh mereka? Kenapa aku selalu dianggap sebagai pengacau hubungan kita? Niatku hanyalah komunikasi dalam hubungan kita agar tak putus.





Continue reading Cintamu Tak Lagi Semanis Dulu, Sayang!
, ,

Melupa Tentang Kita

    


    Kala kita sama-sama meleburkan diri untuk berpura-pura lupa agar tak lagi merasa tentang kecewa dan lara yang akan datang. Merimbun di dalam kalbu tiap raga kita. Bukan bermaksud untuk tak mengenali lagi kisah kita atau memaksa menimbun di tempat paling jauh dalam diri. Hanya saja, itu bukan waktunya lagi untuk menunjukkan romantisme cinta kita ini. Jika kita kembali, akan ada banyak yang semakin melara. Kita akan bahagia di atas luka. Akan kejam juga bagi mereka, sebab keegoisan kita. Kita ada karna sebab dan berpisah juga karna sebab, jika kita kembali bagaimana dengan hati yang lain?


    Aku tahu melupa tentang kita bukanlah hal yang mudah, banyak kenangan masih membayang dalam setiap gerak. Setiap ucap jua memiliki kenang, dan setiap tempat akan ada putaran film yang membangkitkan memori lama. Begitu romantisnya kita, namun sekarang harus dikubur jua. Simpanlah rasa ini tanpa harus mereka tahu. Lalu, biarkan sedikit-demi sedikit, detik demi detik terlupa. Kita sudah tidak ditakdirkan bersama, sebab di antara kita ada hati yang harus dijaga.


    Jika kita mengego, memaksa keadaan, mengembalikan segala kenang dan rasa, bukankah ini sebuah bencana? Hubungan kita kembali diungkap namun nantinya akan terlarang. Kita adalah rasa yang datang kembali di waktu yang salah. Kita hanya bisa mengenang tanpa bisa memutar ulang. Kita hanya bisa memimpi yang kemudian harus dibuyarkan kembali. Sebab, adanya kita saat ini adalah cela bagi mata tiap orang. Kita adalah luka yang menyengsarakan.


    Sudahlah jangan kau tangisi ini, berbahagialah bersama dia yang kau pegang tangannya sedang aku akan melupakan rasa ini bersamanya yang memegang tanganku. Meski harus berpura-pura lupa, ini juga menyakitkan bagiku. Kau datang kembali dengan hubungan baru saat rasa cintaku padamu masih belum padam. Kau menanyakan rasaku padamu sedang kau terikat pada hati yang baru pula aku pada jalan baru yang mencoba melupa hal tentang kita yang telah lama berakhir. Cukup, kita harus melupa.


Kita telah berada pada jalan yang berbeda dan baru, mengapa harus kembali pada jalan lama dahulu.



    Sudahlah kenang dalam diri kita hanya sebatas kenang bukan untuk diungkit. Takdir kita hanya untuk menjadi kawan bukan pasangan. Mari melupa tentang kita, kembali pada tangan yang sudah lama menanti kita memegang erat. Tak apa kali ini kita merasa begitu tersayat, terluka, dan melara. Waktunya kita pura-pura lupa, biarkan bahagia datang kembali dengan cara yang berbeda meski tak bersama.


    Tersenyumlah dahulu, hapus tangisanmu. Aku tak bisa memegangmu dan mengapus air matamu seperti dulu. Itu hanya akan membangkitkan rasa kembali. Cukup kali ini kita membicarakan rasa ini berdua. Selanjutnya kita tak akan begini. Kita harus berjalan maju, bukan? Kenangan kita di masa lalu biarkan pada tempatnya. Mengertilah aku juga terluka, tapi tetap saja ada hati yang harus dijaga.


Tulisan ini terinspirasi oleh lagu yang berjudul Pura-pura Lupa karya Pika Iskandar yang dipopulerkan oleh Petrus Mahendra. Sebenarnya juga tulisan ini muncul di kala mimpi tidur menggentayangi. Hehehe


Salam Literasi. Salam hangat



Obral Kata Veve


Continue reading Melupa Tentang Kita
, ,

KOSONG

  


  Ini hanyalah tulisan kosong tanpa makna, hanya sekadar curhatan belaka jika si penulis bingung untuk menulis apa. Bingung menuliskan cerita apa dan tentang hal apa. Sebabnya, ini kosong tanpa makna. Maka dari itu, tak usahlah tuk dibaca, sebab akan sia-sia.


    Apa yang terpikir masih rancu, semuanya terasa rumit, terasa hampa dan hambar. Tidak berselera untuk diungkapkan. Semua hanya kumpulan kata yang tanpa sengaja berbaur menjadi satu dalam sebuah post tanpa makna.


    Jika kalian tetap ingin membaca, itu terserah saja. Terpenting sudah diingatkan sejak awal jika ini kosong. Bukan apa-apa. Bukahkah kalian akan merugi membacanya? Cukupi saja sebab ini kosong.


    Berada dalam fase dimana "Writer's blog" memang menyebalkan. Mancet ide dalam menulis hanya akan membuat diri semakin malas saja menulis, kurangnya bacaan yang dibaca dan pengetahuan yang didapat akhirnya menjadikan tulisan kosong tanpa makna. Penulis pun berakhir memiliki mood yang rusak.


    Ini adalah tulisan paling menyebalkan yang tertulis. Seperti deretan kata tanpa tujuan. Ngalor-ngidul tanpa ada sasaran. Padahal dalam menulis pun harus memiliki tujuan dan amanat yang jelas. Bukan "korlis" alias sokor nulis. Iya, memang menulis tetapi ... jika ditanya apa yang ditulis tidak tahu. Jika ditanya apa yang bisa diambil dalam sebuah tulisan yang telah dibuat, bingung dengan apa jawaban seharusnya.



    Bagaimana lagi, menulis hanya karena keterpaksaan. Jadi, hanya sebagai tuntutan bukan keinginan. Mungkin maunya nulis kaya penulis yang tenar, tapi untuk membaca saja tak mau. Observasi saja ogah-ogahan. Akhirnya acak-acakkan yang dibuat. Jadi kosong.


    Kalau mau menulis malah nglantur seperti ini, ya namanya penulis abal-abalan suka nulis sakarepedewe. Balada penulis musiman, sukanya nulis pada hal yang sedang tenar semata. Jika, tak ada berita malah membuat berita yang semena-mena hanya untuk mendrobrak viewers bukannya kasian pada pembaca yang terkena rayuan headline tanpa isi? Clicbait mencari keuntungan tanpa ada kemanfaatan kedua belah pihak. Menghabiskan waktu berharga pembaca, sungguh ironisnya dunia.


    Lah, kan dari awal sudah kukatakan ini omong kosong belaka kenapa dibaca berkala? Kamu merugi aku yang tertawa. Kuulangi lagi ini hanya kosong semata buka apa-apa. Jangan marah begitu, wajahmu malah memerah.


    Menulis bukan masalah rupa, banyak diksi namun kurang isi. Menulis itu seni, ada isi juga diksi. Ada deskripsi yang merujuk detail juga eksplorasi yang membahas penjelasan. Tak lupa menulis juga memiliki persuasi yang bersifat ajakan. Kalau tulisan ini hanya buntelan nasi tanpa seni. Apalagi isi, kan ini tulisan kosong!

Sekian, dari penulis korlis. Mohon permisi jangan emosi.


Salam literasi

Aku cinta kalian

Jangan lupa membaca penuh isi, jangan cuma berimajinasi.

    


Continue reading KOSONG
, ,

Tentang Setia, Kadang Suka Terluka



 Pernah mendengar kalimat, "Setia itu mahal!"? Bagaiamana menurutmu, benarkah seperti itu? Apa yang membuatnya mahal? Pernah setia terhadap seseorang? Bagaimana rasanya?


Namun, sudah taukah apa itu setia?
    Jika merujuk pada KBBI, setia berarti berpegang teguh, teguh hati, taat, dan patuh. Setia bisa pada janji, pendirian, atau pada ikatan, dan sebagainya. Jika setia memiliki arti yang sangat luar biasa seperti itu, bukankah memang benar setia itu mahal? Sebab setia penuh dengan keloyalan dan kepatuhan.


Semahal itu kenapa suka terluka?

    Kenapa setia harus dibayar luka? Kenapa dalam hubungan percintaan yang paling mencintai suka sekali menjadi yang paling tersakiti sebab terlalu berpegang teguh pada hubungannya? Tak mau berpaling pada yang lain meski sering terkhianati?


    Kadang pemikiran yang seperti itu sering sekali masuk ke dalam otak kita, kembali membuat semua terlihat rumit dan cukup membingungkan. Tentang hubungan, percintaan, dan kesetiaan yang sering menaburi luka pada pemiliknya.


    Tapi ... bukankah cinta tanpa tapi dan imbalan, lalu ketika kita benar menggunakan setia dalam hubungan dan terluka, kenapa harus menyalahkan orang lain? Saat itu benarkah ada cinta di hati kita? Atau sekadar suka dan obsesi belaka?

    
    Setia, kadang suka terluka sebab di dalamnya penuh harap sebuah imbalan untuk mendapatkan hal yang sama seperti apa yang kita lakukan. Terlalu fokus pada timbal balik, sampai lupa dengan rasa yang sebenarnya di hati. Menghitung jumlah kesetiaan? Lalu, meluapkan saat kita merasa tersakiti.
Bukannya kita sendiri yang memilih untuk setia? Bukannya sudah tau apa itu setia? Kenapa sekarang harus menyerang balik?



Jika kau tak ingin terluka tetaplah mencintai dengan tanpa tapi dan sebab, tetaplah setia pada yang kau cintai tanpa meminta timbal baliknya. Gunakan ketulusanmu, bukan akal bulusmu. Gunakan hatimu bukan emosi dan obsesi.


    Walaupun begitu, untukmu yang hanya menerima kesetiaan ... bukankah dalam hubungan itu ada kata "saling"? Kenapa kau tak juga setia? Kadang ini sangat menyebalkan jika kau tak merasa cemas tentang pengkhianatan yang kau buat. Melupakan segala hal yang telah diperbuat dari orang yang mencintaimu tulus, ah itu benar-benar membuat kacau.


    Pernahkah kau berpikir sebentar, jika orang yang selalu berada di sisimu bisa bosan dan pergi karna sifat semenamu ini?
    Jika tidak kau benar, luar biasa kali ini! Kau benar hebat melakukannya, karna hatimu sudah kau tutupi.


    Kembali pada kalian yang selalu setia, tetap tulus tanpa harus menunggu mendapatkan kesetiaan. Sebab, suatu saat kau akan mendapatkan itu. Jangan ragu untuk selalu setia.

Kala rasa telah menemukan tuannya

Gejolak asmara kian membara

Menuntun takdir untuk bersama

Mulailah bahagia melanda


Meski temu tak menentu

Tak pernah kumeragu tentangmu, Tuan

Tak pernah sekalipun mencari sandaran baru

Sebab mencintaimu adalah keikhlasan

Tulungagung, 21 Januari 2021

 Bertepat pada tanggal 21 tahun 21 dan abad 21. Aku menuliskan puisi untukmu yang sedang jatuh cinta dan menetapkan kata setia sebagai penguatnya. Padamu pula yang merindui sang kekasih, sebab tak mau beralih, semoga tetap kuat. 



Continue reading Tentang Setia, Kadang Suka Terluka
, ,

Kenapa Meyerah?

  Apakah dunia ini terlalu sulit bagimu? Sampai kau rasa semua mata menghakimi dirimu. Seakan memaksamu untuk berhenti dari apa yang kau lakukan. 

Memberimu duri dalam setiap kali langkah yang kau buat. Kau merasa kalah dan tak tahu harus berbuat apa. Begitu, kan yang kau rasa?


    Segala pijakan kau pijak runtuh seketika, membuat limbung dan terjatuh. Kau merenung lalu berdiam diri, menangisi segala apa yang terjadi. Kau frustasi, dan segera ingin mengakhiri hidupmu sendiri. Sayatan di tangamu sudah banyak, tetapi kaurasa itu belum bisa menghilangkan segala rasa sakit di dada.


    Ini menyesakkan, untuk bernapas saja harus kesulitan. Semua beban terasa di pundak juga pikiran. Kau sekali lagi bertanya pada dirimu, "Apa yang harusnya kulakukan? Kenapa aku selalu gagal untuk menjalani segala inginku? Apa harus ku akhiri?".

Dalam hal ini, kau selalu ragu dalam memutuskan benarkah siap menanggungnya jika segalanya diakhiri?


    Kau selalu ragu dalam hal itu, hingga banyak luka yang ada di tubuhmu. Kau masih takut meninggalkan semua yang ada di dunia. Takut akan hukuman, takut akan kepergian, takut akan kekhawatiran orang yang akan kau tinggalkan. Itu semua ketakutanmu.


Sebabnya. sekarang aku akan bertanya, "Kenapa menyerah? Apakah duniamu benar-benar runtuh?"

    


 

Kau tak harus melakukan itu semua, kau tak perlu memikirkan kematian yang akan kaubuat jika kau gagal kali ini, jika semua rencana tak sesuai dengan pengharapanmu, jika banyak cacian yang kaudapat, dan jika tak ada yang mendukungmu untuk bangkit.

 

    Kau tak perlu merasa dirimu harus dikasihani orang lain, mengharapkan uluran tangan dari orang lain, mengharapkan rasa iba dari orang lain, mengharapkan semangat dari orang lain. Kau tak perlu! Apa yang kau harapkan dari manusia? Tak selamanya yang ada di sampingmu tetap mendampingimu selalu bahkan mempercayaimu atau mendukungmu. Jangan menunggu harapan dari manusia!


Apa salahnya jika kau tak bisa melakukan?


Kau tak salah dalam hal itu, kau tak salah juga jika kegagalan masih menempelimu, jika semua kesengsaran senang menggelayutimu. Tenang saja, masih ada proses yang akan berlanjut dalam titik nadzirmu ini. Jika kau tak kuat, MENANGISLAH SEKENCANGNYA, KELUARKAN SEGALA BEBANMU. Tapi, jangan sampai kau mengakhiri hidupmu sebelum kau sukses melakukan apa yang kau mau.


    Bukannya kau masih ingin merasakan apa yang namanya sukses, yang sudah dirasakan orang lain? Jika mereka bisa menikmati itu, bukannya sedikit menyebalkan kau tak mencicipi juga. Tentunya dari hasil kerja kerasmu. Ya, dari segala rasa yang telah kau rasakan kau akan temukan jawaban dan mimpi yang kau cari itu.


Lalu, ketika kau ditinggalkan oleh segala kepergian yanga ada, semua orang yang kau cintai telah tiada. Apakah kau harus berhenti juga?


    Setelah kau berjuang sekuat tenaga, dan kau hampir melakukan apa yang kaumau, kau akan berhenti? Merelakan segala yang kau lakukan. Segala proses yang kau jalani akan sia-sia. Kau tau betapa kecewanya mereka, jika kau menyerah begitu saja. Kau menyia-nyiakan hidupmu karena kaupikir peganganmu sudah hilang. Padahal kau masih mempunyai itu.


    Meski tak terlihat kau masih mempunyai, kau masih bisa memegang segala kenangan yang ada saat kau bersama mereka, kau masih bisa berpegang pada Tuhanmu, kau masih bisa menunjukkan pada mereka. Karna bahagiamu akan membuat mereka lega.


Kau mengerti sekarang, kenapa kau tak seharusnya menyerah? Kenapa tak seharusnya menyia-nyiakan hidupmu kali ini?


    Karna kau belum mencicipi suksesmu, kau kau belum berbahagia kembali, karna anganmu masih panjang, dan karna ada orang yang selalu menunggu kamu bangkit dan berjuang kembali. Entah, siapa itu. Ada, pastinya orang yang menunggumu kembali. Menunggumu tersenyum bahagia dengan gengggaman yang kuat.


Kutegaskan padamu, kau layak memperjuangkan hidupmu!


Continue reading Kenapa Meyerah?
, ,

Jika Kita Bukan Sebuah Takdir

 



    Kebersamaan yang kita jalani, begitu mewah kurasa. Rintangan-rintangan telah kita lalui bersama. Tangis bersama pula sudah sering kali kita rasakan berdua. Mengenang awal jumpa, membuat semu merah di pipi kian merona. Sebab, adanya kita memang tak terduga. Berawal dari kegemaran yang sama kita dipertemukan.

    Tingkah konyolmu itu membuatku terus tertawa, entah kau sengaja melakukannya atau pura-pura. Bagiku kau sungguh tulus melakukannya. Di antara tawamu, kau menggenggam seribu misteri yang kutak tahu apa itu. Kau itu aneh tapi kusuka. Kau jahil, tapi kunikmati segala kejahilanmu. Kau tak pernah malu saat berjejer bersamaku. Kauanggap tuan putri bagimu, begitu luar biasa kau jaga diriku.

    
Aku pernah bermimpi, bagaimana jika akhirnya kita akan menua bersama. Mungkin, ini akan menjadi kisah hidupku yang sempurna. Caramu menghargaiku, caramu mencoba mengerti apa yang kurasakan, kau selalu berusaha terbaik untuk itu. Jika ini benar terjadi, akan menjadi kisah utama yang akan kuceritakan pada anak-anak kita. Hingga kisah ini melegenda sepanjang masa di keluarga kita, sampai kita tutup usia bersama.

    Sayangnya takdir kita bukan menua bersama. Kita memang selalu bersama, suka-duka tak pernah kita lalui sendirian. Selalu ada kau dan aku untuk bertahan di tengah badai yang ada. Kisah kita terlalu manis, sampai melupakan akhir apa yang terjadi nanti. Kita terlalu senang secara dini, sampai-sampai melangkahi takdir yang ada.

    Pada saat bahagia menyelimuti kita, kejadian tak terduga datang. Kita dihantamkan oleh kenyataan, jika kita bukan sebuah takdir.


    Kita adalah sebatas kata mampir kemudian berakhir pada kata sendiri saja. Tak ada kata berdua atau bersama, seperti tamu spesial yang mana ada tenggat waktu juga untuk melakukan perpisahan. Bersama daun gugur, kau pergi untuk selamanya. Tak lagi bisa ku pandang seperti sebelumnya.

Untukmu, kupersembahkan sebuah " Bait-bait Perpisahan "

Gugur satu demi satu daun
Temani tangis yang mengalun
Genang airmata telah jatuh
Pertahanan sudah runtuh

Kenang tetiba mulai mengangkasa
Hadirkan lagi rasa lama yang ada
Aku terluka, tentang kita tak bisa bersama
Dan, jika kembali hadirmu bukannya itu keajaiban nyata

Lagu, aroma, tempat, segala kenang kita
Sudah sering kurindui saat sore tiba
Harap kau kembali lagi
Nyatanya kau sudah pergi

Tiap kali sosokmu kutilik pada gawai
Tetes bening membasai pipi
Ingatkan tentangmu samar samar pergi
Benar, kau sudah tak di sini lagi

Lagi, aku menangis sendiri 
Dalam kenang tentangmu, selalu tentangmu

Tulungagung 14 Januari 2021


______________________________________
    Puluhan kata terukir di sini, sebab karena sebab. Aku tak bisa menjabarkan tulisan ini berawal dari apa. Hanya saja tulisan ini kubuat untukmu yang sedang mengenang pergi, tentang hadir yang harus pergi dan tak kan kembali lagi.

    Untukmu yang merasa sendiri, mari kita merangkul bersama. Benar, kehilangan membuat diri kita seperti setengah mati. Menahan sesak yang tak kunjung damai lagi. Memaksa betahan, meski kaurasa tak mampu melakukannya. Ingat kali ini kita bersama. Bukan kau sendiri yang akan menikmati pedih di hati. Kita ada di sini membagi beban bersama, agar lega cepat datang.

Ingat, meski dia pergi kau harus tetap memperjuangkan hidupmu. Kau harus kuat. Tahan sedikit lagi, oke?

Continue reading Jika Kita Bukan Sebuah Takdir
, ,

Mengikis Luka Bersama, Menyemai Bahagia Berdua

    

 

Tentang dua manusia yang menatap pada lara, memulai untuk saling bicara. Mengenang segala pahitnya lalu selalu mengiringi tiap jejak langkah untuk bergerak maju. Menghabat lajunya langkah, membuat semakin nelangsa. Sungguh seperti drama melodi yang rusak.

    Kita dua manusia, meratapi nasib yang tak mau berpihak pada kata bahagia. Memberikan suntikan patah hati tiap kali rindu menggebu, meminta ulasan kisah lama menjadi kembali nyata. Tentang bahagia bersama dia yang pernah kita cinta. 

    Menelisik, betapa lara selalu membersamai. Berikan jeda sebentar, membuat kita menjadi sering menggunakan kata "pernah" untuk alasan memahami satu sama lain. Terurai pula sekat antara kita, kemudian tiada, lalu mendekat. Membuat kita menjadi erat.

    Tentang kita dua manusia yang mulai menenun kembali kata cinta, merajut asa bersama. Meski, sedikit ragu dalam bertindak, sebab luka pernah dirasa memberikan efek cemas kala ketakutan untuk jatuh pada lubang yang sama datang. 

    Harap-harap cemas, akhirnya kita keluar pada kelam yang selalu menghantui. Berpijak pada harapan yang mulai disusun bersama, kita berikan ulas senyum tuk buktikan bahwa kita bukan lagi sepasang hati yang mata. Sebab, kita adalah sepasang manusia yang sedang berjuang bersama.

    Bahagia mulai kita ciptakan, kabut sendu semakin samar. Hilangkan ragu perlahan, kita melangkah sedikit demi sedikit. Bersama tiap langkah yang selalu kita eratkan pegangan tuk yakinkan pada kekuatan yang ada. 

    Kita, kini menjadi dua manusia, bernapaskan lega. Menghirup udara dengan bebas, teriakkan "Berani" dengan lantang. Tantang dunia, kita tak akan kalah pada medan perang yang ada. Jika lelah, kita putuskan memberi jeda lalu memuat ulang segala asa yang tersematkan pada dada setiap diri kita.

    Jika esok datang, misteri menghantui, kita tak lagi gentar. Sebab, kali ini kita datang bersama namun berperinsip pada masing kita. Sebagai usaha kala kita harus berpisah tak akan ada luka yang harus dikhawatirkan lagi.

    Memang kita bermula pada rasa luka yang sama, ditinggalkan dengan cara berbeda namun pernah memahami arti rasa sakit keduanya. Bukankah ini adalah takdir kita?

    Tentang kita yang kembali ada, tak perlu cemas akan perpisahan, Akan ada waktu dimana temu akan menunggu. Tak perlu bersikap keras pada diri untuk tak jatuh cinta. Sebab ancap kali ini kamu merasa sakit yang tak dijabarkan ingatlah kenangan yang menjadikan sebuah pelajaran bersama,

Aku, kamu, dan dua hati yang sedang patah.
    

Salam hangat!
Salam Cinta!
Salam literasi!!!


Continue reading Mengikis Luka Bersama, Menyemai Bahagia Berdua
, ,

Jika Suatu Hari



 

Jika suatu hari ...

    Jika suatu hari ... kata tak lagi bermakna dan ucap sudah tak didengarkan, kita adalah kata tanpa makna tak perlu diingat. Cukup kehampaan saja yang datang, tak perlu luka ikut menyambutnya. Ini bukan sebuah kisah sedih, hanya perjalanan yang berjalan sesuai arusnya. Pertemuan, perpisahan, itu memang sudah wajar, kan? Tak usah tangis yang diam-diam berbicara. Kita memang sudah tak seirama.

    Jika suatu hari ... kekalnya kita sebatas doa, jangan pernah merasa sia-sia datangnya cinta. Kau tau? Jatuh cinta tak ada yang menduga. Datang tanpa menyapa, malah kadang pergi meninggalkan luka. Tak apa, bukannya itu hal alami? Mencintai berlebih hanya membuat pedih.

    Jika suatu hari ... apa yang pernah kita lakukan bersama menjadi sebatas kenang, aku tak pernah menyesal. Memang kita dulu yang pernah tawa berubah rasa menjadi asing tak saling sapa. Sudah! Itu hal lama tak perlu menduga bagaimana dan kenapa ada akhir.

Namun ... sebaliknya ...

    Jika suatu hari ... doa -doa yang dulu dilangitkan berubah menjadi kenyataan tanpa diduga. Jangan takjub! Mungkin inilah takdir kita untuk bersama. Hargai waktu bersama, sebab sesal suka datang pada bagian akhirnya. Membuat nelangsa, itu sungguh menyedihkan bukan?

    Jika suatu hari ... ada yang membuatmu tertawa, menutupi luka yang telah ada. Jangan menghindari hanya karna trauma akan cinta. Cobalah dulu untuk memberikan kesempatan padanya. Jodoh tak ada yang tau.

    Jika suatu hari ada tawa bahagia, ada rasa yang tak pernah kau duga. Nimkmatilah sesuai kadarnya, jangan terlalu erat digenggamnya nanti bisa lepas. Kamu, orang pantas memperjuangkan bahagiamu.


    Jika suatu hari tulisan ini sangat berarti bagimu, jangan lupa untuk tetap membacanya. Sebab tak ada yang tau obat hati itu apa dan bagaimana.


Salam hangat dari Obral Kata Veve

Sampai jumpa di blog selanjutnya 

 


Continue reading Jika Suatu Hari
, ,

Tentang Kamu


BAB BARU
Tentangmu


Ini adalah awal baru kuceritakan tentangmu. Awal mula bertemu dan mengenalmu. Aku tahu ini bukan romansa klasik yang bisa menggelitik kalbu. Ini, hanya kisah kecil berfokus padamu.
.

Iya, kamu.
Kamu yang awalnya kukira pengganggu, mendekat denganmu hanya menambah masalah. Kamu yang kukira menyebalkan, kadang membuat muak saat melihat kelakuanmu.

_
Kamu yang kukira pematah hati perempuan, berdampingan denganmu hanya akan menambah kekecewaan.

Banyak hal yang kucela tentangmu.
Banyak yang kubenci tentangmu.
Semua keburukanmu membuatku sewot sendiri. 

▶[Hey! Kenapa harus sewot? Padahal kamu tak pernah mengusik? Hey! Kenapa aku yang repot urusanmu?]
_
Benar, aneh bukan?
Pikiran liarku terus berporos padamu. Lama-lama aku yang mulai mendekat. ▶[Ini konyol! Tetapi, nyata. Menyebalkan!] _
Kamu tahu inilah awal kita bertemu. Berawal sikap menyebalkanmu membuatku marah dan semakin mendekat padamu.
Dugaanku semua terpatahkan, saat kuterbiasa olehmu.
_
Bukan kamu saja yang menyebabkan kekacauan, juga mereka yang tersakiti olehmu.

Aku tahu, dan aku paham jika wanita memang benar-benar perasa.
Aku tahu jika sikapmu itu adalah perwujudan keingin tahuanmu terhadap mereka. Kamu penasaran, dan mereka melibatkan perasaan.
Inilah yang mengakibatkan ada hubungan yang kaku karna ada keterlibtan perasaan. Kau tampak cuek meski tahu mereka menganggapmu lain. Kau hanya berpikir itu bukan urusanku, karna aku tak terlibat persaan konyol ini.

Tetapi pernahkah kau tau? Mereka terlalu mendamba akan dirimu. Mereka percaya jika perhatianmu bukan sekadang basa-basi belka melainkan menuju hal lebih dalam.Cinta. Mereka anggap kau menjadikan mereka utama padahal kau jadikan mereka pengalih suasana. Kau jadikan mereka teman tetapi mereka menjadikanmu teman kencan. Ah, inilah keslaah pahaman yang membuat kacau. Kau dan mereka sama-sama tak mau mengerti perasaan satu sama lain. Memihak sendiri dan akhirnya terbuka luka.


_____
📝: @veve_oo97 📷: @veve_oo97
Continue reading Tentang Kamu