Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
, ,

Balada Bukber, Niat Temu Kangen menjadi Ajang Pamer Kesuksesan


 

    Bulan Ramadhan sudah berjalan sepertiganya, undangan untuk berbuka bersama masih silih berganti datang. Entah itu buka bersama dan agenda silaturahmi dengan komunitas, organisasi, atau sekolah baik sudah lulus atau pun belum.


    Sayang sekali, agenda buka bersama yang memiliki makna untuk menyambung tali silaturahmi menjadi sebuah tragedi pecahnya konflik. Ini karena tidak lain adu pendapat menentukan agenda buka bersama (bukber) yang akan dijalankan. Baik tentang waktu, tempat, menu, absensi, bisa menjadi masalah yang runyam. Bahkan, ketika agenda buka bersama (bukber) yang sudah dipastikan ternyata menjadi sebuah wacana semata, membuat kekecewaan bagi yang sudah mengharapkan agenda berjalan.


    Paling kacaunya jika antar anggota dan panitia saling menyalahkan atas penghapusan agenda yang akan dijalankan. Hilangnya komunikasi, membuat agenda yang bisa dirancang dengan baik bubar tidak terarah dengan jelas. Menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan dari panitia itu sendiri.


    Namun, bukankah ini sebuah agenda rutin? Kenapa tidak membuat panitia tetap saja agar kegiatan buka bersama (bukber) tidak menimbulkan perselisihan yang akhirnya merenggangkan sebuah hubungan pertemanan itu? Bukankah tentang adanya temu kangen adalah harapan bersama? Kenapa menjadi urusan perorangan?


    Permasalahan seperti ini hanya akan memberikan sebuah jawaban. Ya, tentang seharusnya kita sadar akan pertemanan yang telah dibangun. Hingga akhirnya saling bantu membantu mewujudkan sebuah agenda bersama. Komunikasi yang terbuka memberikan pemahaman antar anggota untuk memahami situasi dan masalah yang terjadi sampai menemukan sebuah solusi yang dipikul bersama.


Bagaiamana jika buka bersama (bukber) itu terjadi?


    Jika buka bersama (bukber) itu terjadi, akan terjalin komunikasi antar sesama yang kadang memberikan efek baik juga efek buruk, Efek baik ketika niat buka bersama (bukber) dilakukan semata untuk membuka kembali tali persaudaraan. Benar-benar ikhlas saling merentangkan tangan, menyambut satu sama lain dalam bersaudara, menjaga hubungan untuk tidak menyinggul hal-hal yang memiliki unsur pembicaraan pribadi.


    Kadang kala agenda buka bersama ada, hanya menjadi ajang pamer kesuksesan. Menanyakan temannya tentang apa yang sudah dicapai dan kemudian menujukkan pencapaian dirinya. Ini bukan lagi ajang temu kangen, hanya sebuah ajang dan perlombaan siapa yang terbaik. Menghilangkan niat awal untuk bersaudara.


Lantas ketika buka bersama, apasih hal-hal yang seharusnya tidak dipertanyakan?

Pertama, jangan pernah menanyakan bekerja di mana, lagi ngerjain apa sekarang?

Kedua, Kapan kamu lulus?

Ketiga, Kapan kamu menikah?

Keempat, Kok kamu jadi gini ya? (Terkait fisik)


    4 hal pertanyaan yang harus kamu hindari saat buka bersama karena ini hanya akan menyakiti lawan bicaramu jika pertanyaan tersebut memiliki efek sensitif bagi pendengarnya. Tidak perlu menanyakan hal tersebut sebenarnya kamu akan tahu sendiri, baik dari media sosialnya maupun dari pernyataan sang empunya sendiri.


    Buka bersama bukan ajang pamer penghasilan dan pekerjaan, buka bersama bukan ajang pamer pencapaian. Namun, buka bersama ajang menyambung tali persaudaraan. Tidak hanya untuk sebuah hubungan persaudaraan juga tentang agenda saling bekerja sama untuk mencari pahala dengan bakti sosial dan juga khataman bersama.

Continue reading Balada Bukber, Niat Temu Kangen menjadi Ajang Pamer Kesuksesan
, ,

Konflik Wadas, Bahaya Pertambangan untuk Lingkungan Sekitar



    Mengingat akhir-akhir ini santer terdengan "Konflik Wadas" yang menimbulkan beberapa pertanyaan. Tentang apa masalah awalnya? Apakah hanya tentang bendungan atau tentang pertambangan yang akan dilakukan di desa itu? Kenapa sesama warga saling melapor? Paling hangat menjadi pembicaraan adalah masalah pertambangan yang akan dilaksanakan di Desa Wadas.


    Beberapa hari terakhir konflik yang terjadi di desa Wadas menjadi hal yang sangat menggemparkan publik, karena terdapat 9 korban luka-luka dan 11 penangkapan warga, pengurus LBH Yogyakarta yang dianggap sebagai provokator. Setelah bersitegang antara warga dan aparat kepolisian yang ada di tempat kejadian.


    Konflik ini terjadi lantaran masih ambigunya ganti rugi yang diberikan juga tentang kerusakan apa yang terjadi jika pertambangan bantuan andesit di lakukan di Desa Wadas. Pertambangan ini dicetuskan sebab akan ada pembuatan Bendungan Bener untuk keperluan irigasi petani di sekitar bendungan tersebut. Ditambah lagi terdengar isu tentang adanya sebagian warga yang ikut turut melaporkan warga lain saat warga turun aksi menentang pertambangan di Desa Wadas.


    Masyarakat sekitar memang setuju akan adanya bendungan yang dibangun, warga tidak mempermasalahkan itu, hanya saja yang menjadi awal keributan ketika bahan pembuatan bendungan yakni bantuan andesit yang akan digali di Desa Wadas melalui Pertambangan Batuan Andesit. Ini memunculkan keresahan sebagian warga tentang dampak pertambangan yang akan ada setelah pertambangan ini benar-benar dilakukan. Sampai pada waktu sosialisasi tentang proyek Bendungan Bener dan Pertambangan Batuan Andesit sedikit warga yang datang.

Bukan tentang dampak secara langsung, tetapi dampak seumur hidup tentang bagaimana lingkungan akan tercemar terutama sumber mata air dan ancaman longsor yang bisa datang sewaktu-waktu. Ini benar-benar membuat warga sangat khawatir.

 

    Menurut artikel dari nu.or.id melalui wawancara terhadap Helmy salah satu pengurus PBNU yang mengatakan bahwa seharusnya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk turut melibatkan diri dalam menengahi konflik antara aparat dan warga.


    Karena bagaimanapun juga tentang pertambangan di Desa Wadas gubernurlah yang menurunkan SK untuk bisa melakukan pertambangan tersebut. Setelah adanya ramai-ramai tentang Gubernur Ganjar pranowo untuk turun tangan, akhirnya gubernur mulai angkat bicara.

    Menurut artikel dari solopos.com yang berjudul Ini Saran Ganjar Terkait Bentrok Aparat & Warga di Desa Wadas, gubernur mengatakan jika dari kabupaten yakni PEMKAB Purworejo harus melakukan sosialisai kembali agar tidak terjadi konflik dan perlu adanya dialog terbuka. Gubernur juga menyatakan bahwa mereka sudah setuju tentang pembangunan Bendungan Bener.


    Namun, yang lebih diungkap dalam penytaan gubernur tentang Bendungan Bener bukan tentang Pertambangan Batuan Andesit yang menjadi akar konflik ini.


    Tentang Bendungan Bener mereka memang bagus jika dibangun, namun untuk pertambangan sangat mengusik warga tentang dampak yang akan dialami oleh warga sekiitar. Bagaimana tercemarnya sumber air?Tentang bagaimana longsor akan menimpa warga.


    Konflik Desa Wadas perlu penanganan serius agar bisa diselesaikan dengan baik. Baik dari pihak warga maunpun pihak aparat. Karena sudah menjadi rahasia umum tentang adanya sekat antara aparat kepolisian dan masyarakat. Konflik Desa Wadas hanya akan menjadi alasan kesekian kali terkait sekat aparat dan warga yang menjadi melebar.


    Membahas kembali secara khusus tentang apa yang akan terjadi tentang dampak pertambangan di lingkngan sekitar, menurut jurnal Al'adl Volume IX Nomor 1, Januari-April 2017 yang berjudul Dampak Pertambangan Terhadap Lingkungan Hidup Di Kalimantan Selatan dan Implikasinya Bagi Hak-Hak Warga Negara yang ditulis oleh Nurul Listiyani bahwa terdapat dampak negatif bagi lingkungan:


1. Dampak pertambangan dalam waktu singkat dapat mengubah bentuk muka tanah dan dengan topografi yang membuat ketidakseimbangan pada sistem ekologi sekitar lingkungan. Pada hal ini munculnya dengan tanda kerusakan lingkungan juga pencemaran lingkungan.


2. Dampak pertambangan juga mengakibatkan penceramaran lingkungan hasil dari proses pertambangan tersebut. Lingkungan menjadi tidak sehat.


3. Pertambangan yang tidak melihat tentang keselamatan kerja juga kondisi geologi bisa mengakibatkan bencana alam semisal tanah longsor, gempa, dan keruntuhan. Banyak sekali berita kecelakaan kerja yang dimana terjadi keruntuhan yang mengakibatkan adanya korban dalam kecelakaan kerja.


Berbagai dampak negatif ini sangat membuat masyarakat cemas di sekitar daerah yang akan dijadikan pertambangan, padahal setiap manusia mendapatkan hak atas lingkungan yang baik dan sehat. Jika dampak ini ada, bukankah telah menyalahi hak manusia untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat?


Source: Solopos.com, nu.or.id, ayosemarang.com

Continue reading Konflik Wadas, Bahaya Pertambangan untuk Lingkungan Sekitar
, , ,

Selamanya Terkenang, KRI Nanggala 402




Sebuah puisi untuk engkau, para pahlawan Bahari

Tugasmu begitu besar, menjaga laut NKRI

Tiada letih untuk kau keluhkan

Untuk negeri, urusanmu sendiri kau tinggalkan


Pahlawan Bahari

Kau tidak pernah pergi

Engkau masih ada di sini

Di tanah negeri yang kau cintai


Di pijakan bumi pertiwi

Laut dalam kau pantau

Lewat kapal selam yang kau kemudi

Keamanan laut tujuan engkau


Oh! Pahlawan Bahari

Begitu mulia tugas yang kau jalani

Bagaimana lagi, kau sudah terlalu cinta pada negeri ini

Negeri di mana kau dilahirkan, tanah bumi pertiwi


Hormat kami untukmu

Setelah engkau pilih misi berhargamu

On enternal patrol pilihanmu

Oleh sebab itu, tiada kata pergi dalam kamusmu


Engkau tidak pernah tenggelam

Engkau tidak tiada

Engkau tetap dalam misimu

Misi yang telah kau pilih untuk selamanya


Terima kasih

Terima kasih

Terima kasih

Sekali lagi terima kasih


Sudah saatnya engkau para prajurit negeri

Tenang dan damai dalam bahari

Tetap laksanakan misimu untuk bumi pertiwi

Biar kami yang mendoakanmu di sini


in memoriam KRI NANGGALA 402

Setelah diterbangkan tinggi. Dialiri deras, kemudian diledakkan dengan keras. Laut memelukmu dengan erat...

2021 penuh duka bagi pertiwi.


#krinanggala402

#prayforkrinanggala402


Continue reading Selamanya Terkenang, KRI Nanggala 402
, ,

Kepada Jodohku Nanti



    Aku akan selalu bersyukur atas apa yang telah dipilihkan Allah untukku, tidak serta merta aku menggantungkannya tanpa berusaha. Kepadamu yang selalu mengusahakanku lewat doa dan ikhtiar yang engkau lakukan, kuucapkan terima kasih.


    Terima kasih telah hadir di dalam hidupku dan berusaha pada ikhtiar dan doamu. Lewat sepertiga malam kaulangitkan kriteria yang engkau inginkan. Beribu kali pula namaku kau sematkan tiap lantunan doa yang ingin diistajabah oleh Allah. Kerja kerasmu membangun sebuah kehidupan yang akan kita karungi bersama. Adalah sebuah bukti nyata tentang cinta yang membutuhkan logika.


    Saban hari tak pernah terlintas di hatimu menyerah demi masa depan. Siang malam kau lakukan segala kerja keras untuk kehidupan yang layak. Mengeluh sesekali kau lakukan kemudian mengulang kembali apa yang kamu kerjakan. Kamu tak pernah bosan untuk terus berusaha, dan lagi-lagi kuucapkan terima kasih.


    Terima kasih telah membersamaiku, meski hanya sekali dua kali kita berbalas pesan dan mengobrol sekadarnya, akibat padatnya kegiatan di antara kita berdua. Memaksa kita untuk sadar jika cinta bukan sekadar kata yang terucap, juga pengorbanan untuk sebuah hari esok yang lebih cerah. Tak hanya bualan manis yang diperlukan, pun kerja keras demi kehhidupan yang terus berjalan.


    Suatu saat, tibanya kau ucapkan akad suci di mana apa yang telah lama diperjuangkan bersama menjadi nyata. Aku akan berkata kepadamu, "Ikhtiar kita belum selesai, Tuan. Awal mula bahtera kehidupan kita baru dimulai. Mari bersama berjalan tuk saling mengingatkan, jangan saling menyalahkan. Ikatan yang telah kita buat ini terlalu suci, jangan sampai dikotori."

    

    Segala hal yang terjadi akan kita jalani bersama, bukan lagi sendirian dan berpikir berusaha mandiri. Sebab itu menjadi awal sebuah kehancuran yang diwaspadai. Setelah akad, inilah janji ikatan bersama bukan sendirian saat awal jumpa.

    Jika dahulu hanya ada aku dan kamu, kini yang ada hanyalah kita bersama. Berpikir logis bukan hanya untuk saling mengasihi dan menyayangi pula untuk saling mengerti dan memahami. Tetap saja kita memiliki pemikiran berbeda di setiap kepala. Namun, selalu ada jalan tengah untuk memberikan solusi terbaik. Akan ada waktunya satu di antaranya untuk mengalah. Tidak mungkin sama-sama keras yang membuat robohnya pertahanan kita bersama. Seperti dalam kehidupan ada gelap dan terang, ada hitam dan putih, dan ada keras dan lunak. Menjadi pelengkap satu sama lain, bukan untuk mendorong untuk unggulkan kemampuan sendiri. 


Continue reading Kepada Jodohku Nanti
, , ,

Penyakit Kronis Literasi, Plagiarism Semakin Menggrogoti

    


    Bukan barang baru mengenai penyakit kronis dalam bidang literasi, sudah menjadi rahasia umum plagiarism menjadi momok bagi pegiat literasi. Kurangnya penekanan hukum yang pasti tentang plagiarism membuat para pelaku plagiasi atau plagiator dengan mudahnya melakukan hal yang membuat kerugian. Ini juga bisa menyebabkan kreativitas pelaku pun menurun dan kualitas dari sebuah tulisan akan rendah. Tak hanya dalam ranah sastra saja plagiarism terjadi, baik di ranah non sastra plagiarism juga semakin marak. Bahayanya, pelaku malah ditemukan di bidang akademisi, karya ilmiah, tugas akhir sering kali menjadi sorotan plagiarism. Di sisi lain di bidang sastra plagiarism terjadi sangat sering. Baru-baru ini menjadi perbincangan hangat para penulis tentang plagiarism yang diakui pelaku kemudian setelah menyangkalnya bahkan penerbit dari pelaku plagiator membelanya.


    Aneh dan sangat disayangkan jika plagiarism ini tidak ditindak dengan tegas. Melihat kasus yang terjadi rupanya plagiarism dianggap barang remeh yang sering dilakukan. Abainya terhadap hukum tentang plagiarism, membuat pelaku plagiarism seakan menganak pinak. Bahkan, bibit pelaku plagiarism semakin banyak. Contoh kecil dalam plagiarism mengambil gagasan penulis lain yang menurutnya bagus, kemudian diakuinya menjadi miliknya sebagai caption bagus untuk media sosialnya. Menginginkan dirinya seakan bijak padahal itu bukan buah pemikirannya. Hal yang dianggap sepele seperti ini, juga termasuk plagiarism sejatinya


    Sebelum membahas lebih banyak tentang plagiarism, apa sebenarnya plagiarism?

    

    Menurut kamus Oxford, plagiarize is copy another person's work, word, ideas, etc and pretend that they are your own. Jika diartikan plagiasi adalah menyalin pekerjaan, kata, ide, dan lain-lain yang kemudian berpura-pura atau mengakuinya jika itu miliknya. Melihat artinya saja sudah jelas ini perbuatan yang tidak dibenarkan menyalin pekerjaan orang lain kemudian diakui miliknya sendiri, sama saja mencuri pekerjaan itu. Pandangan dari penulis jelas plagiarism adalah pencurian sebuah karya baik pekerjaan, ide, atau hal apapun yang sangat merugikan bagi pemilik karya karna diakui oleh orang lain.


    Plagiarism secara mata terbuka sudah tidak dibenarkan, padahal sudah ada undang-undang yang mengaturnya berdasarkan pasal 113 UU No.28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman emat tahun dan denda paling banyak satu milyar rupiah. Denda yang termasuk luar biasa besar tetapi tidak memuat jera para pelaku plagiasi, benar-benar memprihatinkan! Sungguh berani para plagiator ini, ya?

    Namun, kenapa dengan adanya UU Hak Cipta masih terjadi plagiarism?

    

    Dinamakan plagiasi jika sudah menjadi milik melalui pembuatan hak cipta, yang demikian harus mengurus bebagai dokumen yang ada. Tidak semua paham tentang pendaftaran hak cipta, meski begitu jika penasaran bisa mendaftakan di E-Hakcipta untuk mendaftaran sebuah produk atau karya atau hal ang diakui milik. Namun, harus menunggu diterimanya status akun tersebut.

    

    Pendaftaran seperti ini juga termasuk hal yang menyulitkan terkadang. Sehingga tak semua orang membuat hak cipta atas karya yang dimiliki. Tidak hanya begitu, jika plagiator sudah memiliki pengikut banyak, apa yang dibuat sudah terlanjur dipercayai oleh para pengikut mereka sehingga kemungkinan besar malah menyerang pihak korban. Status tinggi atau kedudukan tinggi membuat ego plagiator tidak mudah mengakui perbuatannya.

    

Sanksi sosial yang didapatkan tidak membuat para pelaku jera, kepercayaan diri yang meningkat dan kepopulerannya dianggap sebagai senjata pemebelaan para pelaku. Sangat disayangkan jika para pelaku ini malah dibeli sedemikian rupa. Jangan sampai juga penerbit yang malah mendukung tindakan pelaku ini. Ini malah membuat semakin menjadi-jadi, membuka lahan yang luas bagi plagiator.


Lantas sebagai pegiat literasi, tindakan apa yang tepat?

1. Mematenkan hak milik atas karya yang dibuat.

Meski terlihat tidak mudah ini perlu dilakukan demi menjaga karya dari tindakan plagiasi, dengan mematenkan hak kita memiliki hak untuk menuntuk para plagiator yang berulah.


2. Menyadarkan publik tentang tindakan plagiasi yang sangat merugikan para pemilik karya.

Baru-baru ini pula banyak penulis yang bekerja sama mengkampanyekan tentang #saynotoplagiarism. Mengajak seluruh pegiat literasi untuk tidak melakukan plagiasi karena sangat merugikan dan membuat menurunnya kualitas SDM dari generasi penerus bangsa.


3. Selalu mengecek tulisan sendiri sudah tidak tercampur plagiasi atau tidak.

Banyak cara untuk meninjau tulisan sendiri dengan check online, misal bisa melalui plagiarism checker, plagiarism detector, dan situs lainnya yang bisa digunakan untuk mengeceknya.


4. Cara terakhir yakni melakukan pelaporan secara resmi agar ditindak melalui hukum yang ada.


    Melalui tindakan yang bisa dibuat sebagai pencegahan terjadinya plagiarism yang sudah menganak pinak dan menjadi barang biasa bagi pelaku plagiasi. Diharapkan dengan sadarnya plagiarism yang membahayakan segala pihak, mejadi semakin berkurang. Mari galakkankan hastag #saynotoplagiarism untuk menyadarkan semua puhak tentang bahaya palgiasi dalam bidang literasi ini khususnya.


    Ingat plagiarism merupakan tindakan pencurian, yang mana tak akan bermanfaat sama sekali sebuah hasil curian itu. Jangan tunduk adanya plagiarism, baik akademisi, penulis, atau pihak lainnya. Tetap saja plagiarism sebuah pelanggaran etika berat.



Salam Literasi!

Salam Hangat!

Obral Kata Veve




Continue reading Penyakit Kronis Literasi, Plagiarism Semakin Menggrogoti
, ,

Hari kartini 21 april, lahirkan sebuah emansipasi

 


    Tepat, 21 April sebuah tanggal bersejarah yang tak bisa dilupakan siapapun di negeri ini. Lahirnya sosok pelopor emasipasi wanita yang terkenal dengan sebuah karyanya berjudul "Habis Gelap, Terbitlah Terang". Bukan sekadar buku tanpa isi, melainkan sebuah pemikiran gemilang yang dituliskan. Tak salah lagi jika beliau memang digaungkan sebagai pembebas bagi wanita. Sebab beliau dengan pemikiran bahwa perempuan juga memiliki kebebasan untuk bersekolah, sampai-sampai beliau mendirikan sebuah sekolah pagi perempuan-perempuan di Jepara. Raden Ajeng Kartini itulah namanya. Pelopor wanita untuk mendapatkan haknya yang setara dengan laki-laki. Ia tak bermaksud mengungguli kaum laki-laki, hanya bermaksud menyadarkan jika wanita berhak untuk bebas tidak terikat pada kungkungan adat.

Sajak Perempuan dalam Tekanan

Adalah aku perempuan terbelenggu pada zaman lama. 
Di mana gerakan tak boleh dilakukan.
 Hanya diam meneruskan perintah para penguasa pilihan.
Adalah aku yang tak bisa menjejakkan langkah cita. 
Akibat kukuan adat yang pekat. 
Berdiam adalah jawaban, berontak adalah larangan.
Aku adalah boneka. Boneka perempuan penurut tak boleh berontak.
 Ah! Apalagi berteriak itu akan menjadi tragedi.
Aku adalah perempuan yang berserah pasrah akibat lontaran keinginan dihapuskan. 
Bungkam adalah pilihan satu-satunya.
Setiap air mata dipasungkan tak boleh keluar. Setetes jatuh, raganya akan runtuh. 
Cacian makian akan tumbuh.
Aku adalah perempuan beridealis, bercita, bergerak, namun diam sebab pilihan tunggalnya hanyalah diam.
Perempuan perempuan desa yang dibungkam oleh konservatifnya pikiran.
Bersuara adalah keinginan yang tak dapat diutarakan.
Perempuan bersajak, apresiasikan rasa lewat tulisan. 
Sebab tindakan sudah dibabat habis hilang tak ada yang dapat dilakukan.
Inilah sajak perempuan dinistakan oleh zaman.


    21 April bukan hari biasa dalam sejarah wanita, sebab jika tak ada pemikiran tentang emansipasi wanita bagaimana wanita hidup sampai sekarang? Tetap terjajah dan derajatnya berada di bawah laki-laki. Hanya sebagai alat tanpa tahu bahwa wanita pun tetap memiliki hak yang sama. Kartini dengan kegigihannya memperjuangkan wanita tidak merasa terkengkang meski ia sudah menikah, meski ia dibesarkan dala adat yang masih kental. Di mana wanita hanya memiliki tiga peran masak (Peran wanita di dapur menyajikan makanan bagi keluarganya), manak (Melahirkan keturunan), dan macak (Bersolek untuk suaminya, sebagai pelengkap bagi suami hiasa yang dipamerkan saja).

    Betapa menyedihkan jika pemikiran tentang wanita zaman dahulu masih diterapkan di saat sekarang. Tak ada lagi wanita yang bisa bersekolah sampai tinggi, tak ada lagi wanita yang memperjuangkan cita-cita, tak ada lagi wanita dengan bebas dan berani menjelajahi dunia. Sebab, perannya sangat dibatasi. Sebab, wanita dilarang bertindak demikian karna dianggap melanggar adat yang ada.

    Para wanita kini bebas, namun bukan berarti bertindak semaunya. Emansipasi wanita ada sebagai penentang adanya patriarki, sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang peran utama dalam segala bidang. Emansipasi wanita ada sebagai sanggahan jika wanita bisa ditempatkan dalam bidang-bidang yang biasanya diisi oleh laki-laki. Wanita bisa menjadi guru, polisi, tentara, dokter, pegawai perusahaan, dan pekerjaan lainnya.

    RA Kartini pun bukanlah sebagai penganut feminisme yang ekstrim, ia berdiri untuk para wanita yang terjajah. Beliau pun senang berliterasi hingga ia sering menulis surat yang berisi pemikiranya yang merujuk pada surat Al Baqarah ayat 257

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

    Hal ini di dapatnya ketika beliau memahami alquran dari ulama yang bernama KH Shaleh Darat, beliau pula yang menafsirkan makna Alquran dengan pegon jawab atas keluh Kartini yang susah memahami alquran dengan bahasa yang belum bisa dimengerti. Pemikiran kritis Kartini dari tafsir surah al Baqarah ayat 257 menciptakan tulisan-tulisan yang dibukukan dengan judul Habis Gelap, Terbitlah Terang.

Tulisan ini pula yang menjadikan wanita terangkat derajatnya, sebab tak hanya cara mendirikan sekolah. Melalui tulisan suaranya tentang betapa suramnya kehidupan wanita zaman dulu menjadi dipahami oleh banyak orang. Tujuannya sudah jelas ingin menerangi kegelapan bagi kaum wanita.

Bukankah emansipasi wanita ada sebagai sanggahan adanya patriaki yang melekat pada negeri ini di zaman dahulu?

    Padahal kaum wanita dan laki-laki bisa berkerja sama membangun negeri lebih baik. Konsolidasi yang kuat dibutuhkan kerja sama banyak orang dan pemikiran banyak orang. Sebabnya Kartini ada untuk mengangkat derajat wanita agar bisa bersama-sama membangun negeri bukan membangun ego saling merasa kuat dan benar sendiri.

"Habis gelap, terbitlah terang!"

Ialah engkau Raden Ajeng Kartini
Salah satu pelopor emansipasi wanita negeri
Berikan cahaya, tandakan kita tak terampas lagi
Lahirkan era baru bagi wanita di bumi pertiwi

Wanita tak lagi dijajah sampai ngeri
Kungkungan adat bukan hal yang perlu ditakuti
Sebab sudah tertulis hak bagi wanita negeri 
Untuk maju bersama kaum laki-laki

Tetapi, kenapa semua orang tak mau mengerti 
Masih ada stereotip feminisme dan patriarki
Menimbulkan petaka 'tuk saling membenci
Bukan memberikan kasih sayang saling memahami?

Habis gelap terbitlah terang
Bukan tentang saling menyerang
Inilah sebuah tanggapan
Tentang wanita pun bisa berjuang

Habis gelap terbitlah terang
Sebuah pemikiran gemilang
Menyingkirkan satir yang terlalu menjulang
Bahwa wanita bukanlah barang

O, Raden Ajeng Kartini
Terima kasih telah berjuang
_Obral Kata Veve


Continue reading Hari kartini 21 april, lahirkan sebuah emansipasi
,

Berhentilah Untuk Khawatir

 

Mengapa kamu begitu cemas kali ini? Bukankah kamu sudah melewati ribuan hari seperti ini? Sampai detik ini pun kamu masih berdiri di sini?


    Hidup ini hanya sekali, jika kamu tak mencoba melawan kekhawatiranmu apa yang akan kau buat selanjutnya? Selalu bersembunyi di dalam tempurung karena mengkhawatirkan hal yang seharusnya tak perlu kamu khawatirkan. Semua akan terus berjalan, semua akan terus berproses, dan semua memiliki risiko tersendiri dalam setiap tindakan yang akan dipilih. Itu semua adalah hal wajar.

    Khawatir memang baik, agar bisa memilih risiko terkecil setiap tindakan. Agar bisa mencari solusi yang efektif dalam setiap hal yang akan terjadi jika tak sesuai dengan keinginan. Membuat diri lebih mematangkan rencana dan bersiap atas munculnya kejadian yang tak terduga. Namun, jika kamu khawatir berlebihan sampai membuat dirimu pusing setiap malamnya, itu benar-benar tak baik. Overthinking yang kamu hadapi hanya akan menjadi sebuah beban lalu, terus mengendap dalam otakmu hingga memunculkan masalah baru, penyakit salah satunya.

    Aku tahu dalam hidup kita boleh memilih, memilih mana yang kamu anggap aman bagimu. Memilih mana yang kamu anggap sebagai pengembangan diri. Itu urusanmu, memang seperti itu. Tak ada kewajiban untuk memaksa memilih sebuah tantangan agar memacu adrenalin-mu. Suatu kesalahan juga jika orang yang memaksa pilihamu. Tetapi, pernahkah kamu memiliki ingin yang kamu takuti sendiri? Ingin yang kamu gapai tetapi tak berani untuk mencoba walau sekali?

    Padahal hidup ini tak bisa diulangi, sekali kamu mendapat waktu tak bisa memutar kembali rasa ingin yang kamu rasakan saat itu. Kamu bukan Tuhan yang bisa menciptakan waktumu sendiri. Sebabnya, karena ini hanya sekali dalam seumur hidupmu, bukankah lebih baik kamu coba?

    Cobalah meski kamu tak akan tahu berhasil atau tidak, itu akan lebih melegakan untuk diingat dibandingkan sebuah penyesalan yang akan kamu sesali seumur hidup. Waktu yang kamu mendapat kesempatan, lalukan! Cari kesempatanmu, nikmati hidupmu ini. Pastinya lakukan sesuai inginmu, menjadikanmu sebagai manusia bebas tanpa kekhawatiran.



    Seperti saat ini, ketika aku mencoba untuk terus menulis. Terus membuat karangan yang mungkin sama sekali tak akan terbaca, namun aku tak mau menyesal jika apa yang ada di dalam benak ini tak kutuliskan dalam sebuah judul bersama beberapa paragraf untuk menjelaskan segala unek-unek yang ada. Aku tak menyesal menggunakan waktu malamku menuliskan hal apa yang kurasakan. Jika tak segera kutulis, semua ini pun akan menguap begitu saja tanpa sisa dan aku tak mau itu terjadi.

Berhentiah untuk khawatir, kamu tak akan pernah tau jika penyesalan seumur hidup yang disebabkan kegelisan atas perbuatan sendiri akan lebih menyakitkan dari apapun itu.

    Jangan kapok untuk melangkah, meninggalkan kekhawatiran yang ada, dengan percobaan awalmu. Bagaimana kamu belajar tentang hidup jika tak ada pelajaran yang tersisa, sebab kamu berdiri dalam Zona Nyamanmu sendiri. Di mana kamu tahu pasti jawabannya.


    Aku, kamu, kita, mereka, semua memiliki kekhawatirannya masing-masing. Namun, pilihan untuk mencoba menggunakan nyalinya hanya dipilih oleh beberapa orang saja. Termasuk kamu yang akan menjadi pemilih nantinya. 


Continue reading Berhentilah Untuk Khawatir
,

Karna Semua Pernah Mengalaminya

 



    Kita selalu pernah dalam masa tidak baik-baik saja, juga pernah menjadi tokoh antagonis dalam kisah orang lain. Meski banyak perkataan jika semua tergantung pilihan dan atas segala pilihan yang diambil akan menjadi sebab akibat bagi diri kita. Tidak sepenuhnya benar, jika kita harus tenggelam di dalam pilihan penyesalan tanpa akhir.


    Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut orang lain. Begitulah cara berjalannya sebuah fase kehidupan. Berada di atas, di bawah, atau berada pada kekosongan tanpa ingin memilih ini dan itu. Semua pernah mengalaminya. Tak ada yang salah akan hal itu.

    

    Apa yang pantas,apa yang tidak pantas semua pernah mengalaminya. Merasa bersalah atas pilihan yang diambil. Merasa tak pantas mendapatkan apa yang telah diraih. Merasa iri atas apa yang diperoleh orang lain. Semua orang pasti pernah mengalaminya.


    Bukan suatu kesalahan, jika kita berada di posisi itu. Tetapi, bukan juga sebagai kewajaran jika ada yang lebih baik untuk dituju. Namun, kita malah mengambil hal yang seharusnya dihindari. Kadangkala, juga  menjadikan tameng suatu keadaan yang dialami sebagai hal kewajaran untuk melakukannya. Tidak dapat dipungkiri juga semua pernah melakukannya.


    Tak ada yang benar-benar murni dalam diri manusia ketika memiliki ambisi, selalu ada pola pikir lain untuk menuju apa yang diinginkannya. Menjadi egois tanpa memikirkan orang lain. Fokus pada dunia yang dimiliki. Keadaan ini juga semua pernah mengalaminya.




    Semua pernah mengalaminya dalam kehidupan masing-masing atas segala perilaku yang dianggap kewajaran. Perbedaannya hanya soal waktu. 

Ada yang berada di masa lampau, ada yang berada di masa datang, ada juga yang hanya berada dalam pikiran semata karna ia hanya berani menjadikannya sarang di dalam otaknya tanpa perlu tindakan, atau bahkan ia melakukan dengan pekerjanya orang lain.

    

    Dalam kehidupan ini semua memiliki porsi masing-masing, mau seperti apa hidup ini tergantung bagaimana cara kau menerima apa yang telah terjadi pada kehidupanmu.

Continue reading Karna Semua Pernah Mengalaminya
, ,

Tenggelam dalam Rutinitas, Apa Kabar Prioritas?

     



    Sering kali berada dalam pusaran rutinitas yang tanpa henti terus memaksa kita selalu pada garis lintas yang sama, setiap hari kita melakukan repetisi kegiatan yang menjemukan. Membuat kita melakuakan kegiatan pada hal pasti yang sudah ratusan kali kita ketahui, ketimbang suatu hal baru yang belum tentu kita tahu. Rutinitas?

Hal rutin, suatu prosedur yang teratur tanpa ada perubahan. Ajeg.


    Melawan rutinitas demi prioritas, yang belum diketahui hasilnya akan membuat jeda untuk berpikir lumayan lama sebab risiko yang akan dihadapi tak ketara, tak terlihat, dan tak bisa diprediksi. Suatu hal yang tak pasti sering kali dihindari karna tak mau merugi. Namun, jika ini berkaitan dengan hidupmu akankah kamu masih memikirkan suatu kepastian? Suatu hasil akhir? 




    Hal tak pasti akan selalu ada dalam hidup kita, ketahuilah! Sebabnya ada pilihan dalam setiap melangkah, akhirnya selalu ada keharusan untuk memilih, memilih pada jalan biasa dengan risiko yang telah ada, atau hal baru yang sebenarnya akan mendongkrak kehidupanmu sebelumnya. Menjadikan bisa dalam keadaan asing yang sebenarnya sangat kausukai.


    Untuk berada dalam hal seperti ini, makanya perlu ada skala. Ukuran, peritungan untuk menentukan mana yang akan kaupilih dan jalani. Ya, kita perlu membuat sebuah Skala prioritas, ukuran kebutuhan yang tercatat dengan baik yang akan menjadi acuanmu dalam bertindak. Karna tanpa perencanaan yang jelas segala tindakanmu bisa saja menjadi kacau balau di luar ekspetasi. Meski kadang, masih saja ada hal yang tak sesuai perkiraan, tetap perlu perencanaan yang akan meminimalisir risiko yang ada.


Penentuan skala prioritas bisa didasarkan oleh beberapa hal, semisal:


  1. Kebutuhan. Kebutuhan yang memang sangat penting bagimu, mana yang menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersiermu. Kebutuhanmu, hanya dirimu yang mengetahui. Sebab setiap kebutuhan orang-orang berbeda namun sama dalam hal; sandang, pangan, dan papan. Lalu, pendidikan, dan sebagainya.
  2. Pendapatan. Keuangan yang kau punyai dan kebutuhan yang harus kaucukupi. Antara bekerja keras untuk mencukupi segala kebutuhan, atau bersantai ria lupakan kebutuhan.
  3. Perencanaan Masa Depan. Perencanaan masa depanmu, ingin menjadi apa dirimu, dan kebutuhan apa yang harus dipenuhi untuk masa depanmu akan mempengaruhi skala prioritasmu. 
      

    Melalui beberapa pertimbangan itulah kamu akan mengetahui mana yang harus kamu lakukan, karna kamu sudah memiliki skala prioritas, penentu tingkat paling tinggi dan rendah sebagai acuan. Tidak selamanya rutinitas akan berada pada posisi awal yang kau kerjakan akan ada prioritas lain yang kadang juga harus sempat kau lakukan dahulu. Kadang kala memang kehidupan tak berjalan layaknya normal seperti biasa, apa yang biasa kau kerjakan ini bisa menjadi hal kesekian kali karna diundur oleh hal yang urgent, ada secara tiba-tiba sebab suatu hal.


    Skala prioritas, ini juga membantu kita untuk tak ragu dalam pengambilan keputusan. Seperti kita telah mencapai keputusan final, namun meragu karna takut ini pilihan yang salah. Namun, jika kita melihat skala prioritas kita akan memantapkan diri untuk berani mengambilnya.


    Jika prioritasmu sudah teratur sedemikian rupa, mari kita jalani apa yang sudah terencanakan. Jangan hanya menjadi sebuah tulisan yang tertempel di tembok semata dan luntur terkena bocoran air loteng, atau kabur terkena angin saat membuka pintu.


    Kurangnya kepercayaan diri dalam menjalankan skala prioritas sering kali terjadi, sudah berencana tapi tak terlaksana. Sudah terhitung, tetapi ragu menetapkan. Kembali lagi, semua akan terjadi jika kamu kerjakan. Hidupmu kamu yang mengaturnya. Meski begitu, jangan sekali mengkhianati apa yang sudah kautulis, itu menyakitkan. Seperti kamu mengkhianati dirimu sendiri, terlalu miris bukan?

Continue reading Tenggelam dalam Rutinitas, Apa Kabar Prioritas?
, ,

Melupa Tentang Kita

    


    Kala kita sama-sama meleburkan diri untuk berpura-pura lupa agar tak lagi merasa tentang kecewa dan lara yang akan datang. Merimbun di dalam kalbu tiap raga kita. Bukan bermaksud untuk tak mengenali lagi kisah kita atau memaksa menimbun di tempat paling jauh dalam diri. Hanya saja, itu bukan waktunya lagi untuk menunjukkan romantisme cinta kita ini. Jika kita kembali, akan ada banyak yang semakin melara. Kita akan bahagia di atas luka. Akan kejam juga bagi mereka, sebab keegoisan kita. Kita ada karna sebab dan berpisah juga karna sebab, jika kita kembali bagaimana dengan hati yang lain?


    Aku tahu melupa tentang kita bukanlah hal yang mudah, banyak kenangan masih membayang dalam setiap gerak. Setiap ucap jua memiliki kenang, dan setiap tempat akan ada putaran film yang membangkitkan memori lama. Begitu romantisnya kita, namun sekarang harus dikubur jua. Simpanlah rasa ini tanpa harus mereka tahu. Lalu, biarkan sedikit-demi sedikit, detik demi detik terlupa. Kita sudah tidak ditakdirkan bersama, sebab di antara kita ada hati yang harus dijaga.


    Jika kita mengego, memaksa keadaan, mengembalikan segala kenang dan rasa, bukankah ini sebuah bencana? Hubungan kita kembali diungkap namun nantinya akan terlarang. Kita adalah rasa yang datang kembali di waktu yang salah. Kita hanya bisa mengenang tanpa bisa memutar ulang. Kita hanya bisa memimpi yang kemudian harus dibuyarkan kembali. Sebab, adanya kita saat ini adalah cela bagi mata tiap orang. Kita adalah luka yang menyengsarakan.


    Sudahlah jangan kau tangisi ini, berbahagialah bersama dia yang kau pegang tangannya sedang aku akan melupakan rasa ini bersamanya yang memegang tanganku. Meski harus berpura-pura lupa, ini juga menyakitkan bagiku. Kau datang kembali dengan hubungan baru saat rasa cintaku padamu masih belum padam. Kau menanyakan rasaku padamu sedang kau terikat pada hati yang baru pula aku pada jalan baru yang mencoba melupa hal tentang kita yang telah lama berakhir. Cukup, kita harus melupa.


Kita telah berada pada jalan yang berbeda dan baru, mengapa harus kembali pada jalan lama dahulu.



    Sudahlah kenang dalam diri kita hanya sebatas kenang bukan untuk diungkit. Takdir kita hanya untuk menjadi kawan bukan pasangan. Mari melupa tentang kita, kembali pada tangan yang sudah lama menanti kita memegang erat. Tak apa kali ini kita merasa begitu tersayat, terluka, dan melara. Waktunya kita pura-pura lupa, biarkan bahagia datang kembali dengan cara yang berbeda meski tak bersama.


    Tersenyumlah dahulu, hapus tangisanmu. Aku tak bisa memegangmu dan mengapus air matamu seperti dulu. Itu hanya akan membangkitkan rasa kembali. Cukup kali ini kita membicarakan rasa ini berdua. Selanjutnya kita tak akan begini. Kita harus berjalan maju, bukan? Kenangan kita di masa lalu biarkan pada tempatnya. Mengertilah aku juga terluka, tapi tetap saja ada hati yang harus dijaga.


Tulisan ini terinspirasi oleh lagu yang berjudul Pura-pura Lupa karya Pika Iskandar yang dipopulerkan oleh Petrus Mahendra. Sebenarnya juga tulisan ini muncul di kala mimpi tidur menggentayangi. Hehehe


Salam Literasi. Salam hangat



Obral Kata Veve


Continue reading Melupa Tentang Kita
, ,

Selamat Datang Pebruari, Sampai Jumpa Januari

       


    Menunggu kapan datangnya hari selanjutnya, memaksa hari yang kita lalui ini harus segera usai. Seakan terburu-buru lari pada keadaan yang sedang dialami. Melupakan kita telah berjuang sampai hari ini. Namun, memperlambat diri untuk tetap menetap juga bisa melukai sendiri. Kita tak bisa mempercepat waktu juga tak bisa kalut dalam lalu.

       Januari telah usai kali ini, meski segala beban berat juga tanggungan masih saja ada. Waktu berlalu begitu cepat, sedang rintangan tak segera beralih dari diri. Sampai-sampai berpindah sedikit saja cukup menyulitkan. Bukan kita yang berlalu, namun waktu. Waktu selalu mengusik untuk segera pergi dan berpindah pada pijakan lain. Namun kita masih saja di sini.

        Kadang sebenarnya yang muncul dalam pikiranku ini, "Kita yang mengejar waktu atau waktu yang mengejar kita." Segalanya telah usai namun kita masih saja tak mau pergi, tetap pada luka yang masih tersemat. Masih menjamu pun mendambakannya, menganggapnya tak mau pergi padahal yang mengikat luka untuk menetap adalah diri sendiri.

      Januari telah berakhir. Namun, kenapa penat masih saja terus menghampiri. Lelah, marah, dan segala kecewa ... masih saja ada. Ini ... aku yang mengalah pada keadaan atau pasrah akan keinginan? Hal yang membuatku meratapi nasib, sebabnya ada pada diri sendiri. Kita yang tak pernah pasti menginginkan menetap atau pergi.

    Sudah beberapa kali mengingatkan untuk bangkit, namun sepertinya susah dilakukan. Hanya mudah diucapkan. Berpikir semua baik-baik saja padahal, kau sudah bersimpuh menghadapi beban yang mengajak bergulat dengan paksa.



    Sudahlah, januari telah berakhir untuk apa mencemaskan apa yang sudah terjadi?
    Bukankah kita ini harus mengikuti arus waktu agar kita dapat berjalan lebih maju selangkah? 

    Seperti itu, mari kita rayakan bulan baru. Bulan baru, semangat baru. Selamat datang Pebruari, semoga bahagia lekas menemani. Segala penat di Januari lekaslah berganti dengan suka cita yang dinanti. Selamat datang Pebruari jangan merasa puas diri sebab telah lepas pada bulan Januari, beban kita masih menggelayuti segeralah untuk disingkirkan. Selesaikan tugas yang telah lama kau hindari.

    Mulai hidup kembali, jangan biarkan diri menjadi layu lagi. Ini bulan baru, harusnya ada inovasi baru dalam hidup juga. Terus berkembang dan mengembangkan diri sebab hidup ini terus berjalan tak pernah berhenti. Jangan sampai waktu menghunusmu membuatmu pergi.

    Kita yang baru, juga waktu yang terus saja melaju. Kita yang menentukan nasib kita sendiri.


Salam hangat, Salam cinta dariku


Obral Kata Veve



Continue reading Selamat Datang Pebruari, Sampai Jumpa Januari
,

Nasibmu Tergantung pada Usahamu

    



    

Pernah suatu kali mendengar sebuah quote dari  Zhou Fei, tokoh drama dan novel yang berjudul The Legend of Fei. Perkataan yang seperti ini, "“請記住,您的命運懸在劍尖上〜週飛 (“Qǐng jì zhù, nín de mìngyùn xuán zài jiàn jiān shàng.” Zhōu fēi) yang berarti "Ingat, nasibmu tergantung di mata pedang." Sedang mata pedang mengarah ke depan selamanya.

    Pedang di sini bisa diumpamakan sebagai jalan atau metodemu. Metode dalam bertahan hidup. Pedang juga bisa diumpakan jika kau sebagai petani ia menjadi sebuah cangkul. Bagaimana cara menjadikan cangkul berguna itu juga tergantung bagaimana cara kamu menggunakan. Di lain sisi, dalam ajaran islam juga disebutkan dengan jelas di dalam Al-Qur'an dalam surat al Baqarah ayat 286 yang berbunyi:

 

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

 

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

 

    Nasib kita, baik itu buruk atau bagus kita sendiri yang menentukan. Apa yang ingin kaucapai, apa yang ingin kauraih, apa yang akan kauperbuat, dan apa yang ingin ada dalam hidupmu. Semua berada di tanganmu. Jika kau mengeluh atas apa yang terjadi dalam hidupmu, lebih baik kautengok dahulu apakah ini memang benar kesalahan orang lain atau memang kau belum benar-benar serius untuk merubah nasibmu.

 

    Bisa jadi, segala kemalanganmu itu dari dirimu sendiri. Bukan untuk menyudutkan, tetapi coba kita melihat dari perspektif lain tentang dirimu. Jangan selalu menjadikan dirimu sebagai korbannya, karna kita tak pernah tahu jika kita bisa menjadi pelaku untuk kemalangan diri kita sendiri. Coba tanamkan dalam dirimu, "Nasibku tergantung bagaimana usahaku." Ini sangat berguna untukmu dalam memacu motivasi untuk selalu berusaha, tanpa terus mengandalkan orang lain. Sebab, kadang ada waktunya kita untuk mencoba melangkah terlebih dahulu untuk mencicipi rasanya. Rasanya berani bertindak dan tidak menunggu orang lain meraih kita.

 

    Tak selamanya yang kamu percaya dapat diandalkan, sebabnya kamu harus berani untuk memulai. Jangan menunggu menjadi urutan kedua, ketiga, dan seterusnya. Jika bisa menjadi pertama sebagai pencoba kenapa harus menunggu? Apakah sebegitu takutnya kamu untuk memulai? Padahal, permulaan adalah awal kita menuju hari baru. Kapan semua datang? Jika kau tak mendatangi terlebih dahulu? 

 

    Berani mengambil risiko bukan suatu kesalahan. Ini bukan kesalahan, jika nanti yang akan kamu lakukan dan mulai akan ada hambatan dan risiko. Itu memang tahapnya, jika nanti kamu berjalan tidak dapat dipungkiri akan ada kerikil yang berjejer di sepanjang perjalanan. Meski sudah hati-hati pula bisa menjatuhkan kita. Risiko dalam sebuah perjalanan adalah hal wajar, ambilah risiko itu dan minimalisir segala yang ada.

 

    Tidak masalah jika nanti gagal, setiap kegagalan akan ada cerita dan hikmah. Kamu tak perlu takut. Gagal dalam usahamu bukan berarti bakal gagal selamanya. Jika kamu takut gagal, kamu tak akan pernah memulai. Jika seperti itu, kamu hanya menggantungkan nasibmu pada orang lain. Bukannya nasibmu tergantung pada usahamu sendiri? Apa kamu lupa?

 


 

    Waktu yang tepat mengubah nasibmu adalah saat ini. Saat kamu baca tulisan ini, segera saja. Tak perlu ditunda. Keburu orang lain melakukan terlebih dahulu. Apa yang ada, kesempatan, rintangan, atau apapun ambil saja! Kamu perlu melakukannya sekarang, bukan besok atau nanti.

 

    Namun, ingat! Usahamu akan lebih manjur lagi jika kamu berpegang pada agamamu, Tuhanmu, dan nasehat orang tuamu. Pasalnya 3 hal itu mengandung spirit, hirah, dan semangat bagimu. Jika tidak ketiganya setidaknya dua di antaranya tetap kamu penuhi. Kamu adalah manusia, kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan, perlu spirit yang kuat untuk menghadapi segalanya. 

    Ah! Apakah kamu sudah mencapai akhir kalimat yang kubuat ini? Tentunya saja sudah, bukan? Tetang percaya tidak kalimat yang kuketik ini itu urusanmu. Aku hanya ingin berbagi bersama dengamu. Aku pun masih mencoba, biar kita mencoba bersama agar dapat menikmati sukses bersama. Jangan kauambil hati kalimatku ini. Selalu seenaknya sendiri. 

Salam literasi!

 

Salam hangat 

 

Obral Kata Veve

 

Continue reading Nasibmu Tergantung pada Usahamu
,

Ada Cerita dalam Setiap Perjalanan



    Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Dalam perjalanan yang ditempuh, tentunya selalu ada cerita yang menemani. Cerita itu pun beragam, baik itu menyenangkan atau menyedihkan atau bisa jadi keduanya ada. Dalam kesedihan dan kesenangan yang ada, merupakan bagian dari sebuah perjalanan hidup yang telah dialami.

    Kesadaran untuk bertindak akan terjawab setelah melalui beberapa cerita panjang dalam perjalanannya. Dan, yang kutahu pasti: aku, kamu, kita, memiliki cerita. Bisa berkaitan di antara kita, bisa juga tak ada kedekatan sama sekali. 

    Tentang perjalanan yang suka membuat muram juga bersemu merah, ada kalanya penyesalan mendadak datang. Bilamana apa yang diinginkan tak sesuai dengan kemauan yang ada. Jika dalam ceritaku ada penyesalan terhadapmu, tentang bagaimana harusnya aku berlaku. Terlalu membucin, kata sebagian orang. Ah! Kadang ini memang tak bagus, mau berhenti untuk sewajarnya tetapi kenapa terlalu susah.

    Harusnya penyesalan terbesarku tentang bagaimana cerita hidupku sendiri yang semakin semrawut. Bagaiamana cara mengubahnya agar keluar jalur semu itu. Bukan malah mengubek-ngubeknya hingga tergiur oleh kefanaan yang ada di dalamnya.

    Sebenarnya, yang harus kupahami jika ini adalah ceritaku kenapa harus berpusat di kamu?

    

Bukankah sebaiknya semua kufokuskan pada peranku dalam perjalanan hidup ini. Bagaimana diri menikmati kehidupan dengan secangkir kopi dan buku yang ingin kubaca. Salah! Terlalu datar jika hanya ini saja. Bagaimana jika ceritaku ini berfokus pada caraku menghadapi tantangan yang ada?

    


Tentang kehidupan yang akan selalu tetap datar jika tak menemui tantangan yang dihidangkan, hanya berhenti pada zona nyaman semata. Ini sebenarnya kurang baik. Karena hidup akan memiliki cerita indah jika kita melaju, bukan diam dan berhenti pada jalur aman.

    Bagaimana? Masih ada waktu untuk mengubah cerita hidupmu sendiri agar lebih menarik untuk diulas jika ada teman atau keturunanmu yang memintamu untuk bercerita di masa senja nanti. Lebih baik jika kita bercerita tentang indahnya petualangan dalam meraih jati diri. Tentang bagaimana mengangkat diri yang telah lama terjerembab dalam bayangan semu. Bukan hanya tentang ceritaku terhadapmu saja. Karna aku khawatir jika nanti ini ditanyakan aku tak bisa menjawabnya. Sebab, ceritamu dan aku hanya aku saja yang memilikinya. 

    Ini bukan malu jika bertepuk sebelah tangan, ini ... bagaimana aku menjelaskan? Ini tentang bagaimana aku tak akan malu jika aku hanya berfokus di kamu saja lupa dengan kehidupanku lainnya. Maka dari itu ceritaku tentangmu kusimpan saja sendiri. Kualihkan fokusku pada tantangan yang akan kuhadapi, seperti kataku tadi. Tidak menyenangkan hanya mengikuti zona nyaman. Harus ada pergerakan lain.

    Buatlah sebanyak-banyaknya cerita hidupmu. Jadikan sebagai kisah fantastis yang bisa kau rangkum dalam sebuah buku. Tak hanya dinikmati olehmu saja juga orang lain yang mungkin mendapatkan kemanfaatan dari ceritamu. Tak akan sia-sia juga jika ini dapat menjadi cerita yang berdaya.

    Jika nanti kau bertanya tentang ceritamu di kehidupanku, kita akan bahas sendiri bersama dua cangkir kopi yang menemani. Kali ini aku ingin mereka tahu tentang perjalanan hidupku yang lainnya. Kamu tak akan marah tentang itu, bukan?

    Kita semua memiliki cerita masing-masing, sekarang saatnya bercerita bagaiamana menjalani hidup yang kadang menjadi pasti di masa sekarang juga bisa berubah menjadi tak masuk akal di masa mendatang. Aku meminta kalian semua menuangkan masing-masing kisah kalian dalam sebuah tulisan. Teruntuk kalian yang membaca tulisanku, aku menantang kalian bercerita tentang perjalanan hidup kalian!

Aku juga akan memulai bercerita kembali lain kali. Untuk saat ini, kita buka dengan tulisan semrawut ini. Pembukaanku memang acakadul, mohon dimaklumi.


    

Continue reading Ada Cerita dalam Setiap Perjalanan
, ,

KOSONG

  


  Ini hanyalah tulisan kosong tanpa makna, hanya sekadar curhatan belaka jika si penulis bingung untuk menulis apa. Bingung menuliskan cerita apa dan tentang hal apa. Sebabnya, ini kosong tanpa makna. Maka dari itu, tak usahlah tuk dibaca, sebab akan sia-sia.


    Apa yang terpikir masih rancu, semuanya terasa rumit, terasa hampa dan hambar. Tidak berselera untuk diungkapkan. Semua hanya kumpulan kata yang tanpa sengaja berbaur menjadi satu dalam sebuah post tanpa makna.


    Jika kalian tetap ingin membaca, itu terserah saja. Terpenting sudah diingatkan sejak awal jika ini kosong. Bukan apa-apa. Bukahkah kalian akan merugi membacanya? Cukupi saja sebab ini kosong.


    Berada dalam fase dimana "Writer's blog" memang menyebalkan. Mancet ide dalam menulis hanya akan membuat diri semakin malas saja menulis, kurangnya bacaan yang dibaca dan pengetahuan yang didapat akhirnya menjadikan tulisan kosong tanpa makna. Penulis pun berakhir memiliki mood yang rusak.


    Ini adalah tulisan paling menyebalkan yang tertulis. Seperti deretan kata tanpa tujuan. Ngalor-ngidul tanpa ada sasaran. Padahal dalam menulis pun harus memiliki tujuan dan amanat yang jelas. Bukan "korlis" alias sokor nulis. Iya, memang menulis tetapi ... jika ditanya apa yang ditulis tidak tahu. Jika ditanya apa yang bisa diambil dalam sebuah tulisan yang telah dibuat, bingung dengan apa jawaban seharusnya.



    Bagaimana lagi, menulis hanya karena keterpaksaan. Jadi, hanya sebagai tuntutan bukan keinginan. Mungkin maunya nulis kaya penulis yang tenar, tapi untuk membaca saja tak mau. Observasi saja ogah-ogahan. Akhirnya acak-acakkan yang dibuat. Jadi kosong.


    Kalau mau menulis malah nglantur seperti ini, ya namanya penulis abal-abalan suka nulis sakarepedewe. Balada penulis musiman, sukanya nulis pada hal yang sedang tenar semata. Jika, tak ada berita malah membuat berita yang semena-mena hanya untuk mendrobrak viewers bukannya kasian pada pembaca yang terkena rayuan headline tanpa isi? Clicbait mencari keuntungan tanpa ada kemanfaatan kedua belah pihak. Menghabiskan waktu berharga pembaca, sungguh ironisnya dunia.


    Lah, kan dari awal sudah kukatakan ini omong kosong belaka kenapa dibaca berkala? Kamu merugi aku yang tertawa. Kuulangi lagi ini hanya kosong semata buka apa-apa. Jangan marah begitu, wajahmu malah memerah.


    Menulis bukan masalah rupa, banyak diksi namun kurang isi. Menulis itu seni, ada isi juga diksi. Ada deskripsi yang merujuk detail juga eksplorasi yang membahas penjelasan. Tak lupa menulis juga memiliki persuasi yang bersifat ajakan. Kalau tulisan ini hanya buntelan nasi tanpa seni. Apalagi isi, kan ini tulisan kosong!

Sekian, dari penulis korlis. Mohon permisi jangan emosi.


Salam literasi

Aku cinta kalian

Jangan lupa membaca penuh isi, jangan cuma berimajinasi.

    


Continue reading KOSONG