, ,

Jika Kita Bukan Sebuah Takdir

 



    Kebersamaan yang kita jalani, begitu mewah kurasa. Rintangan-rintangan telah kita lalui bersama. Tangis bersama pula sudah sering kali kita rasakan berdua. Mengenang awal jumpa, membuat semu merah di pipi kian merona. Sebab, adanya kita memang tak terduga. Berawal dari kegemaran yang sama kita dipertemukan.

    Tingkah konyolmu itu membuatku terus tertawa, entah kau sengaja melakukannya atau pura-pura. Bagiku kau sungguh tulus melakukannya. Di antara tawamu, kau menggenggam seribu misteri yang kutak tahu apa itu. Kau itu aneh tapi kusuka. Kau jahil, tapi kunikmati segala kejahilanmu. Kau tak pernah malu saat berjejer bersamaku. Kauanggap tuan putri bagimu, begitu luar biasa kau jaga diriku.

    
Aku pernah bermimpi, bagaimana jika akhirnya kita akan menua bersama. Mungkin, ini akan menjadi kisah hidupku yang sempurna. Caramu menghargaiku, caramu mencoba mengerti apa yang kurasakan, kau selalu berusaha terbaik untuk itu. Jika ini benar terjadi, akan menjadi kisah utama yang akan kuceritakan pada anak-anak kita. Hingga kisah ini melegenda sepanjang masa di keluarga kita, sampai kita tutup usia bersama.

    Sayangnya takdir kita bukan menua bersama. Kita memang selalu bersama, suka-duka tak pernah kita lalui sendirian. Selalu ada kau dan aku untuk bertahan di tengah badai yang ada. Kisah kita terlalu manis, sampai melupakan akhir apa yang terjadi nanti. Kita terlalu senang secara dini, sampai-sampai melangkahi takdir yang ada.

    Pada saat bahagia menyelimuti kita, kejadian tak terduga datang. Kita dihantamkan oleh kenyataan, jika kita bukan sebuah takdir.


    Kita adalah sebatas kata mampir kemudian berakhir pada kata sendiri saja. Tak ada kata berdua atau bersama, seperti tamu spesial yang mana ada tenggat waktu juga untuk melakukan perpisahan. Bersama daun gugur, kau pergi untuk selamanya. Tak lagi bisa ku pandang seperti sebelumnya.

Untukmu, kupersembahkan sebuah " Bait-bait Perpisahan "

Gugur satu demi satu daun
Temani tangis yang mengalun
Genang airmata telah jatuh
Pertahanan sudah runtuh

Kenang tetiba mulai mengangkasa
Hadirkan lagi rasa lama yang ada
Aku terluka, tentang kita tak bisa bersama
Dan, jika kembali hadirmu bukannya itu keajaiban nyata

Lagu, aroma, tempat, segala kenang kita
Sudah sering kurindui saat sore tiba
Harap kau kembali lagi
Nyatanya kau sudah pergi

Tiap kali sosokmu kutilik pada gawai
Tetes bening membasai pipi
Ingatkan tentangmu samar samar pergi
Benar, kau sudah tak di sini lagi

Lagi, aku menangis sendiri 
Dalam kenang tentangmu, selalu tentangmu

Tulungagung 14 Januari 2021


______________________________________
    Puluhan kata terukir di sini, sebab karena sebab. Aku tak bisa menjabarkan tulisan ini berawal dari apa. Hanya saja tulisan ini kubuat untukmu yang sedang mengenang pergi, tentang hadir yang harus pergi dan tak kan kembali lagi.

    Untukmu yang merasa sendiri, mari kita merangkul bersama. Benar, kehilangan membuat diri kita seperti setengah mati. Menahan sesak yang tak kunjung damai lagi. Memaksa betahan, meski kaurasa tak mampu melakukannya. Ingat kali ini kita bersama. Bukan kau sendiri yang akan menikmati pedih di hati. Kita ada di sini membagi beban bersama, agar lega cepat datang.

Ingat, meski dia pergi kau harus tetap memperjuangkan hidupmu. Kau harus kuat. Tahan sedikit lagi, oke?

0 Comments:

Posting Komentar

Salam cinta, mari berdiskusi di kolom komentar!