Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
,

Ternyata Bukan Rumah



 

Satu


Mempercayai
rasa nyaman bukan berarti itu sebagai jawaban. Kadang kala nyaman datang karena kamu ingin. Karena pula ekspetasi yang ditinggikan sampai lupa pada kenyataan jika nyamanku hanya pada sisimu bukan padanya.

 

Dua

Mungkin begini, kamu terlalu salah mengartikan rasa baik dan sopan dia kepadamu. Terlalu jauh menerka maksud yang sebenarnya cukup sederhana untuk dipahami. Anganmu terlalu jauh, sampai-sampai kamu tidak sadar yang sedang berlari hanya kamu sendiri, bukan kamu dengan dirinya.

Berlebihan, memang itulah pikiranmu. Polosnya dirimu sampai salah artikan makna.


Tiga 

Benar dia hanya bersikap baik bukan sedang jatuh cinta kepadamu, dia hanya bersikap segan bukan terpesona pada hadirmu.

Sakit? Bukankah itu ulahmu sendiri. Kamu terlalu mengkhayal seperti drama televisi. Menjadikan setiap lakunya adalah perlakuan spesial untukmu seorang. Padahal dia cukup biasa melakukannya pada semua wanita. Karena dari awal tak ada niat untuknya menjadikanmu pemilik hatinya.

 

Empat

Haha .. mau tertawa sedikit, ternyata saat ini kamu dikecewakan oleh ekspetasi sendiri. Baru sadar ketika perlakuannya yang berbeda saat bergegas meninggalkanmu pada posisi awal, sendirian. Benar bukan?

 



Rasa nyamanmu masih tertinggal, tetapi hadirnya sudah menghilang. Kamu terpaku sendiri pada tempat sama, sedang dia sudah dengan ikhlas melanjutkan perjalanannya.

 

Lima

Ya, ternyata kamu bukan rumahnya. Hanya tempat persinggahannya semata. Tempat menepi tatkala badai dating. Tempat berteduh tatkala hujan mengguyur. Sebab kamu bukan rumahnya untuk menetap, maka ia berlaku baik sebagai formalitas semata. Dirinya hanya balas budi, kenapa yang kamu berikan malah hati?

Bukankah ini ironi?


 

 

Continue reading Ternyata Bukan Rumah
, , ,

Semacam Pesan dari 2020

   


 Sejenak kita merenung pada satu tahun terakhir, banyak kejadian yang menghampiri sampai tak tahu mana yang harus dilewati terlebih dahulu. Utamanya pandemi corona yang tepat pada tanggal 31 Desember 2019 kemarin, juga tepat satu tahun ini diketahui oleh WHO kemudian merambat menyebar sampai penjuru dunia. Berawal dari ini, kita mengenal artinya kehilangan dan kegagalan. Mengenal arti menunda dan tabah.

    Tawa yang semula tampak biasa menjadi barang mewah tuk didapat. Sebab, banyak pedih yang terlihat. Kehilangan, kesedihan, kemelaratan, kegelapan, meramu menjadi satu hingga menyebabkan putus asa dan lara berkepanjangan. Semua tampak abu-abu bahkan mendung. 

    2020, mengajarkan kita paham bahwa segala kesempatan yang ada haruslah segera diambil. Tak perlu ditunda atau malah dinomor dua-tigakan. Tak banyak orang dapat menemui kesempatan yang ada. 2020, haruslah mengerti waktu sangat berharga. Kapanpun kita bisa terjajah oleh waktu hingga tertinggal dan menyesal. Segala temu yang tampak tak menarik kini, barang sedetik begitu berharga.

    2020, gundah datang menghampiri juga menyebabkan ragu terus berderu tanpa mau menyurut. Hingga kelu sebagai hasil akibat ketidakbisaan menetapkan sesuatu. 2020, yang jauh semakin mendekat. Sedang, yang terdekat terlihat begitu jauh. Komunikasi memiliki jarak lagi sekat yang erat.

    2020, empati kita diuji. Bisa peduli atau bahkan menuli. Apa yang terlihat di mata tentang kesengsaran sebagai cerminan kehidupan kadang baik atau buruk. Mengajak untuk berpikir tindakan apa yang perlu disesuaikan. Memberikan efek kupu-kupu tatkala bisa berbagi bersama.

    Semacam pesan 2020 untuk 2021, inilah satu tahun terakhir. Mengakibatkan kita harus bersabar dan bekerja keras. Belajar pada setiap kejadian yang ada untuk selalui mengevaluasi diri. Agar bisa menempatkan diri dan berpijak pada tumpuan yang tepa. Tak lagi selalu memangku tangan menunggu bantuan datang.

    Untuk kalian tersayang, yang sudah mampu tegar dan ada sampai sejauh ini, terima kasih. 

   


    Terima kasih sudah mau berusaha sekuat tenaga melewatinya. Terima kasih pada hatimu yang tabah terhadap segala masalah. Terima kasih sudah mengikhlaskan tentang kehilangan yang cepat datang. Terima kasih menggunakan waktu berhargamu pada sebuah impianmu. Terima kasih, sudah berjalan sejauh ini meski keluh kesahmu selalu membersamai kamu sampai putus asa terhadap hidupmu. Terima kasih, meski kamu goyah kamu mencoba lagi untuk bangkit dari keterpurukan.

    2021 telah menunggumu, segala rencana sebaikanya sudah kamu persiapkan terlebih dahulu. Kelak jika pijakan pertamamu runtuh kamu masih memiliki pijakan kedua, ketiga dan seterusnya agar kamu tetap melangkah maju. Jangan bersedih tentang kehilangan yang ada di belakangmu. Tak apa, kamu bisa menengok tapi tak harus menetap apalagi terjerat sampai kau pasrah.

    2021, telah menunggu. Jadikan 2020-mu sebagai acuanmu agar kamu bisa membuat diri semakin terlatih bukan tertatih. Jangan ragu lagi, jangan menunda lagi. Sebab setiap kesempatan tak akan ada yang tahu itu akan menjadi terakhir atau kedua. Jika kamu tak menemuinya lagi kamu bisa lega telah menggunakan di awal kali.

    Inilah kilas balik 2020, dengan penuh tangis kamu telah melewatinya. Kuucapkan selamat!



Continue reading Semacam Pesan dari 2020
, ,

Cerpen Petaka Memotret Senja

Oleh Mya Veronica


Sore itu tampak indah, sebab lukisan senja di langit begitu mewarna. Momentum seperti memang cocok diabadikan. Aku berusaha membidik object dengan komposisi yang pas; titik fokus, subjek, dan tata letaknya. Ya, aku ingin memakai rule of thrid. Sayangnya tak sejago itu untuk melakukannya. Sangat sulit, butuh fokus bagi diri ini yang amatir.
Bergelut dengan senja membuat lupa waktu, keindahannya memang menakjubkan. Sudah mulai petang waktunya bergegas pulang, jika tidak sudah dipastikan omelan ibuk akan terdengar di telinga. Aku mengajak adikku untuk pulang. Baru saja menyalakan montor. Seorang wanita muda datang di hadapanku. Ada ilusi apa yang dibawanya membuatku melongo dalam beberapa menit. Padahal aku pun seorang wanita. Ada yang tidak beres pikirku saat mulai sadar.
"Adikku!" aku memekik.
Sial
Sena diculik wanita muda itu. Belum sempat mengejarkan dia sudah hilang. Tidak mungkin pulang dengan cara seperti ini. Menemukan adik adalah cara yang tepat. Segera saja kaki ini kulangkahkan tempat Kyai Badrus. Seorang yang mempunyai ilmu tinggi. Bukan orang biasa, menemukan tempat lelembut saja beliau bisa. Aku yakin wanita itu bukan manusia. Ilmuku masih cetek, tapi untuk merasakan aura apa sudah sanggup.
Untungnya Kyai Badrus ada di depan rumahnya. Tanpa basa-basi aku menceritakan permasalahanku.
"Nduk, adikmu digowo lelembut. Saiki ono ning kerajaan e kono. Nggonmu lek moto mau," ucap Kyai Badrus.
"Nggeh, Nyai. Kula ajenge teng mrika."
Benar, dugaanku. Sena diculik lelembut. Apa yang ada di dada sudah menggebu-gebu. Ingin sekali membuat peritungan pada lelembut itu.
Sesampai di tempat yang ditunjukkan Kyai Badrus, langkah kaki ini kupercepat. Kucari letaknya dan secepatnya memasuki kerajaan itu. Gila! Semua penghuni di kerajaan itu wanita semua. Kucari bentukan wajah yang sama dengan sosok yang kutemui tadi.
Aha! Akhirnya ketemu.
'Bug'
Bogem mentah bersarang di pipi lelembut itu.

"Mana, adikku?!"

Belum mengaku, aku berteriak.

"Mana adikku?!"

Sudah siap untuk membogem lagi. Lelembut itu menujukkan potongan tubuh. Sial! Lelembut ini telah merubah adikku.

"Kembalikan dia atau kita tarung lagi!"

Lelembut itu menyusun potongan tubuh itu dan mengembalikan adikku.
Syukurlah aku lega.
****
'Gedebug'

Aku jatuh dari tempat tidur. Cuma mimpi. HAH!
Tetapi, kenapa bogeman itu sangat terasa? Aku berpikir.
Ini adalah cerita dari mimpiku gais😂😭
Continue reading Cerpen Petaka Memotret Senja
, ,

Cerpen "Kisah Kita: Bad Girl vs Bad Boy"








Nabila Atmajaya
               Seorang cewek yang rajin berubah bandel akibat berpacaran dengan Gandi Rajasa. Cowok gantengnya minta ampun. Mirip dengan aktor korea bernama Yoo seung hoo, tapi ini adalah produk Indo. 
    Bila dan Gandi dulunya dua kutub beseberangan menyatu karna cinta. Akhirnya mengakibatkan satu kutub itu tari menarik, yang lemahlah yang mengikuti perilaku yang kuat. Gandi suka tawur, Bila ikut suka. Gandi suka bolos, Bila juga diajak. Bila dan Gandi suka banget ngisengin guru mereka saat pelajaran berlangsung. Percintaan petaka mereka dimulai dari sini.
    Ya di SMP BINUS. Sekolah menengah pertama, terkenal dengan kepandaian siswanya harus rusak oleh ulah dua sejoli ini. Anak remaja yang sedang mencari jati diri dengan sukA bertindak seenaknya.

                Saat ini, Bila sedang berada di kelas mengikuti jam pelajaran ke-dua. Matematika yang diajar oleh Pak Hakim, guru killer juga guru Kesiswaan. Bila sangat menyukai matematika hingga kemarin saja ia mendapatkan juara 1 saat olimpiade Matematika tingkat Provinsi. Apa yang diterangkan gurunya ia dengarkan dengan baik. Sampai ia melihat ada W.A dari pacarnya yang mengatakan bahwa sang pacar sudah berada di depan kelasnya. Tentu ia akan mengabaikannya. Kesenagannya terhadap rumus tidak ada yang boleh mengganggunya. Suara samar-samar terdengar di balik jendela ...

      "Bil! Bil! Psst!" seru Gandi. tampak Gandi sedang jongkok di depan kelas delapan F. Gandi mengintai ke sana kemari melihat situasi apakah guru yang mengajar kelas 8 F itu memperhatikannya. Kembali Gandi mememanggil seseorang yang berada di dalam kelas.

       "Bil! Ayo cepat! Pstt! Heh!" Gandi sudah tak tahan. Kakinya kesemutan karena terlalu lama jongkok. Sementara gadis yang dipanggilnya belum menoleh padanya.
Tidak ada cara lain, Gandi bersiap melempar batu ke arah Bila. Nabila Atmajaya. Cewek Gandi.

'Pletak'

Yash! Lemparan itu sudah melesat jauh mengenai Pak Hakim, guru yang mengajar di kelas itu. Jangan lupa dengan sematan belakang nama Pak Hakim, Guru Killer! Mampus, buat  Gandi!

       "Siapa yang melempar batu ini!" Pak Hakim menggelegarkan suaranya.

Mampus, mampus, mampus Gandi, batin Gandi

     Melihat amarah Pak Hakim, seisi kelas hanya terdiam kecuali Nabila. Ia sudah tahu siapa yang membuat ulah seperti ini. Orang yang usil minta ampun, yang suka buat keonaran di sekolah. Siapa lagi kalau bukan sang kekasih. Gandi! Ia tau sedari tadi Gandi memanggilnya.

Salah siapa ngajak bolos waktu pelajaran Pak Hakim, batin Nabila. 

       Nabila sudah cekikikan sendiri membayangkan ekspresi Gandi yang ketakutan jika Pak Hakim mengetahui ulahnya. Serli, cewek yang berada di samping Nabila menyikut.
        "Bil! Pak Hakim menatapmu garang, tuh!" kata Serli pelan.

Bila langsung menatap depan. Inikah karma? Bila yang ditatap garang Pak Hakim langsung saja menciut. Bila merutuki kebodohannya.

         "Bila! Kenapa kamu tertawa? Cepat keluar dari kelas saya!" titah Pak Hakim.

"Tap-"

"Sudah saya bilang, KE LU AR!" tangan Pak Hakim menunjukkan arah pintu.
Bila benar kesal hanya karena menertawakan guru matematika itu dia harus ke luar kelas. Menginjak satu langkah ke luar, Bila sudah disambut oleh Gandi.

         "Lu dari tadi dengerin gue manggil, kan? Ngapa diem aja?" tanya Gandi, menyelidik.

         "Lu kira bolos pas jam Pak Hakim itu mudah?" tanya Bila balik.

         "Tapi, akhirnya lu bisa? Halah nggak usah sok polos! Kayak orang nggak pernah bolos aja!" kata Gandi

    Keduanya memasuki area kantin belakang sekolah, basedcamp Genk Qing. Geng yang berkuasa di daerah Bandung. Geng nomor satu yang di takuti anak S M P. Beda lagi kalau SMA sudah ada komunitasnya sendiri. Bila sudah setahun lebih berpacaran dengan Gandi.

         "Woi Bu bos sama Pak bos datang, nih! Traktir dong?" ucap Sholeh, member Genk Qing.  Anaknya rada kocak. Punya selera humor tinggi. Sampai tingginya temannya semua pada nggak ngerti. Bajigur emang!


           "Eh couple goal kita baru hadir, nih! Kemana aja?" tanya Bekti, member Genk Qink yang terkenal play boy. Suka gonta-ganti pacar. Bahkan merangkapkan pacar. Emang gila si Bekti ini. Julukannya Playboy cap kadal. Kenapa harus Kadal, yak? Entahlah tak ada yang tau. Tanya aja langsung sama Bekti.

             "Biasa Queen-ku masih pacaran ama rumus matematika. Heran rumus begituan aja paham, masak rumus cinta aja kagak paham!" sindir Gandi

          "Bilangin ama Bos lu, siapa suruh buat Pak Hakim marah. Malah damprat ke gue lagi!" sindir Bila.

Apaan tadi katanya sayang, sayang malah ngajak bolos. Apaan tadi, nggak bela gue saat diusir sama guru killer itu. Malahan nunjukkin cengiran di hadapan gue! gerutu Bila.

Sebelum Bila mulai menggerutu lagi, ada salah satu member Qing yang belari ke arah mereka. Wajah lebam, Terlihat habis kena pukul.
      "B-bos, G-geng Alaska ngajak duel lagi," ucap Heru.

       "Sial!" umpat Sholeh
 
       "Cepat kumpulkan anggota kita! Leh! Bawa pasukanmu.  Ti, bawa pasukanmu juga! Cepat kita akan balas mereka!" ucap Gandi, ia tampak geram. Pasalnya Geng Alaska ini suvah sering mengajak due tetapi tetap saja mereka akan kalah.

       "Haduh! Gue bakal ketemu Kucing liar itu lagi. Nggak ada kapok-kapoknya, sih mereka!" gerutu Bila

       "Ayo, bil! Kita buat strategi. Mereka lupa bahwa ini wilayah kita," ajak Gandi, sambil mengelus pucuk kepala Bila.

Sekejap mereka memasuki ruang rahasia Qing. Ruangan yang hanya diketahui oleh geng itu sendiri. Ruangan diskusi taktik yang akan digunakan saat situasi seperti ini. Bila seorang kutu buku mempunyai rumah kedua di perpustakaan beda halnya seorang anak Geng Qing memiliki rumah kedua di sini.
       "Bil, kita pakai cara yang mana lagi biar mereka kapok?" tanya Gandi

     "Aku punya ide! Kita buat mereka malu. Kita menggunakan umpan. Gue akan jadi umpannya. Sementara itu kalian siap-siap di posisi kalian masing-masing sergap mereka!" ucap Bila santai

     "Lo gila, ya! Lo lupa sama Reno yang selalu memiliki obsesi denganmu, Hah!" Gandi tak percaya dengan ucapan pacarnya kali ini.

       "Sayang, gue nggak bakal kenapa-napa. Lu lupa kalau gue seorang warga dalam hal silat?" Bila berusaha menyakinkan.

       "Lalu bagaimana dengan kucing liar itu? Lu bakal dibunuh sama dia!"Gandi marah.

     "Hei selama gue bisa menguasai Reno, Kucing Liar itu tak bakal berkutik!" sahut Bila.

       "OKE, gue mengizinkan menjalankan ide gila lu ini. Tapi, Lu harus hati-hati ya!?" Gandi melembut.

       Gandi dan Bila segera mengabari ide yang akan dijalankan saat tawuran terjadi. Ini tawuran yang menurut Bila sangat mendebarkan.  Bagaimana tidak, Gandi pertama kalinya patuh dengan aturan dari Bila.

###
Bila sudah berada di lokasi. Ia tahu Reno pula sudah menunggu Geng Gandi datang. Segera saja ia menghampiri Reno.

        "Hai, Ren! Apa kabar?" tanya Bila basi-basi, sebenarnya ia sudah mau muntah menanyakan kabar Reno. Bagaimanapun ini taktik yang sudah dibuatnya.

       "Aduh, beb. Kok nggak sama bodyguard lu. Udah putus atau gimana? Gue siap menampung Lu," Reno mulai berulah.

          "Bukan putus, tapi bosen aja. Ini semua geng lu mau ngapain? Tawur lagi?" tanya Bila memancing.

        "Gue ngajak tawur Geng Qing. Lu sudah tau, kan?" 

        "Owh ... tau. But, ngapain tawur sih?" Bila mulai melembutkan bicaranya mencoba mengorek informasi.

       "Heh bitch! Nggak usah sokap ama abang gue! Minggir sono!" teriak Heni, si kucing liar yang selalu berusaha dekat dengan Gandi.

       "Eh, pus-pus ikut abang lu, ya? Eh!"pura-pura bersalah memanggil Heni. Bila menutup mulutnya. Emang Bila ini agak tengil juga.

Saat di situasi dimana Reno melupakan tauwannya. Bila mengisyaratkan mereka untuk segera muncul.
        "Hai, bro. Mau ngapain sama cewek gue! Urusan kita masih baru dimulai, loh!" sapa Gandi, ia merangkul Bila erat.

       "Bangsat! Kampang! Sini lu!" umpat Reno.

         "Heh! Lu ngajak tawur tapi kekurangan personil, tuh!" ejek Gandi
Reno melihat sekitarnya. Benar saja geng lawan membawa personel lebih dari yang ia kira. Tak cukup dari itu Reno segera mengisyaratkan salah satu anggotanya memanggil kawan lain.

'Bug, bag'

Semua sudah chaos mereka sudah saling menendang sana sini. Reno dan Gandi bertarung hebat. Heni dan Bila pula sudah saling tampar dan tinju. Mereka emang perempuan bar-bar. Setengah jam mereka tawur dan belum selesai, polisi datang melerai mereka. Sialnya mereka ketahuan dan diserahkan oleh pihak sekolah masing-masing.

           "Saya kecewa dengan kamu Bila. Padahal kamu siswa berprestasi, bisa-bisanya kamu ikut tawur. Bapak akan scors kamu 2 minggu dan ini surat panggilan untuk orang tuamu."

            "Baik, pak."

           "dan kamu Gandi! Bapak D.O kamu. Jangan lupa panggil orang tuamu. Jangan gunakan orang kantin lagi untuk menemui saya!"

           "Astaga, Pak! Perhatian banget sampai tau aja kalau kemarin yang datang bukan ortu saya," jawab Gandi santai.

            "Masih bisa santai kamu?!"  Bentak Pak Wahyu, Waka Kesiswaan SMP Binus.

           "Ya, gimana lagi dong, Pak. Saya kelewat bahagia."

            "Sudah! Kalian keluar!"

     Seusai diusir oleh Waka Kesiswaan, Bila bingung. Tidak mungkin ia mengatakan pada ibunya jika ia di scors karna selama di rumah Bila menjadi gadis pendiam dan baik.
            "Gan, gimana nih gue? Nggak mungkin ibu gue tau tentang ini. Bisa-bisa dibeleh gue!" tanya Bila.

            "Yaudah, ntar nyewa gojek aja untuk jadi ortu palsu lo!" jawab Gandi enteng. Soal beginian emang Gandi pintar cari solusi. Solusi kampret .

###
            "Begini, anak Bapak sudah lama menjadi bandel. Bahkan sering pula mengerjai gurunya karena itu saya men-scors-nya. Tolong pantau perkembangannya. Kasian kalau dia harus dikeluarkan padahal prestasinya sangat bagus," ujar Pak Wahyu

                "Waduh, Pak. Ini Neng Bela suka begitu maaf, ya?" jawab Bang Ojol

                 "Sebentar, Neng Bela? Bukannya anak bapak Bila, ya? Juga jaket bapak ada warna ijo-ijo itu. Bapak ojol?"

                 "Eh, bukan Pak!"

                  "Apa ini suruhan Bila?"

                   "Eng ...  gini Pak Say-"

                  "Sudah saya paham. Nanti jika bertemu anak begundal itu suruh menghadap saya bersama ORANG TUA ASLINYA." Pak Wahyu sudah dibuat geram oleh tingkah 2 anak itu. Tidak tanggung-tanggung surat untuk Bila dikirim lewat pos ke rumahnya.

                  Bila dan Gandi yang mendengar kemarahan ini hanya bisa diam mematung. Ucap mereka dalam hati, Mampus!
###

                Saat di rumah ibunya sudah menemukan surat yang selama ini disimpannya. Ibunya sangat terkejud. Bisa-bisanya anak yang dibanggakan ini melakukan hal-hal buruk di sekolahnya.

              "Bila, ... ibu mau bertanya denganmu. Bagaimana ini bisa terjadi? Ibu nggak paham. Kamu di rumah baik-baik saja, taat mengerjakan  tugas, sholat pun selalu tepat waktu. Tapi, kenapa kamu melakukan ini?" Rani bertanya lembut.

         "Anu, Bu ... Bila sebenarnya ...." Bila mengatakan semua kisah cintanya sampai kenakalannya.

           "Ya sudah, besok Ibu akan ke sekolah," putus Rani.

          "Sekarang kamu tidur, gih!"

        Bila memasuki kamarnya. Ia merebahkan badannya yang telah lelah ini. Bukan hanya fisik pikirannya sudah lelah. Sampai akhirnya Bila tertidur dengan sendirinya. 

          Ini sudah subuh waktunya Bila sekeluarga sholat subuh berjamaah. Rutinitas keluarga yang tak pernahg dilewatkan. Setelah sholat subuh Bila melanjutkan bugar paginya di lingkungan dekat rumahnya. Sekadar pemanasan gitu. Saat Bila berjalan di sekitar rumahnya, terdengar bisik-bisik tetangga yang mengatakan bahwa ia cewek pakai. Otomatis Bila marah.

          "Buk, jangan gosipin saya di belakang! Apalagi nggak tau faktanya diam aja!" lontar Bila. 

Lantas ibu-ibu penggosip tadi segera pergi menjauh dari Bila. 

 Emang enak disindir langsung? batin Bila

Bila memang bukan anak baik baik tetapi, ia tau aturan mana yang harus dijaga. Batas apa saja yang harus ditolerir atau tidak. Bila bukan cewek ba-bar tanpa ilmu. Nakal boleh aja asal jangan bloon.

         Sesampai di rumah Bila segera bersiap untuk ke sekolah menemui wakakes tercinta bersama ibunya.
            Tepat di depan kantor Bila sudah berkeringat dingin. Ia sangat takut jika ia akan dikeluarkan oleh pihak sekolah. Memang, jika dipikir Bila sudah kelewat batas. Bila ingin saja menyesal. Tetapi, ini? Semua sudah terlanjur, bukan?
 
             "Saya akan mengizinkan Bila tetap di sini asal dia melakukan tes keperawanan. Saya kira Bila bukan perempuan baik-baik."

             Mendengar perkataan kepala sekolah itu, Rani geram. Ia tahu bagaimana kelakuan anaknya ini. Tidak mungkin Bila melakukan hal-hal diluar batas. Bila sejak kecil dididik agama dengan baik. Gila saja kepala sekolah ini!

           "Maksud Bapak apa?! Kalau cara Bapak seperti ini mending Bila ke luar sekolah ini!" ucap Rani garang.

           "Enak saja Anda berkata seperti itu! Anda bahkan tidak tau kondisi anak saya dengan baik. Silakan saja Anda mengeluarkannya! Saya akan carikan sekolah lain!"

Rani menggeret tangan anaknya, ia tidak terima anaknya diperlakukan serendah itu.

        "Kepala sekolahmu, sangat kurang ajar! Besok langsung Ibu carikan sekolah yang bagus!"

         "Tapi, Bu?"

        "Tak ada bantahan! Kamu bakal pindah ke Bandung dan sekolah di sana."

Rani memasuki mobilnya, Bila langsung mengikuti Ibunya ke mobil. Tidak ada pilihan lain, Bila memang harus pindah sekolah. Urusan bertemu Gandi bakal sulit.

To: Bad Boykuh

Gan, gue bakal pindah ke Bandung. Kita bakal susah ketemu.

Lima menit sudah pesan itu dikirim tak ada balasan dari Gandi. Huft ...

###


           Saat berada di rumah Bila langsng tidur. Ia kecewa dengan Gandi yang tak ada kabar begitu saja. Sial emang! Malam ini Bila putuskan untuk berjalan di sekitar taman komplek rumah. Ponselnya berdering.

From: Bad Boykuh
 Maaf habis ngumpul di basedcame. Kita bakal atur ketemu terus, kok Beb. Jangan kawatir. Oke?

To: Bad Boykuh
Janji, kan? Jangan tinggalin gue. Aku nggak bisa tanpa lu.

From: Bad Boykuh
Iya, janji. Senyum trus pulang cepat! Gue tau lu di depan supermarket! Istirahat. Gue mau keluar lagi.

               Mendengar perkataan pacarnya Bila langsung pulang dengan wajah berseri. Ia bahagia untuk saat ini.

               Hari-hari mereka dilalui dengan mudah. Gandi masih mau mengunjunginya di Bandung tiap minggu. Gandi masih sering mengajaknya nonton dan satu hal yang berubah tak ada bad couple di sekolah mereka dahulu. Bila menjadi pribadi baik meski masih berpacarn dengan Gandi. Hingga suatu saat Gandi meminta Bila membujuk Tante Irma untuk menyekolahkan di sekolah yang sama. Semua menjadi berubah! Gandi sudah tak sama.

              "Bil, kita putus aja gue udah bosen sama lu!" ucapan Gandi membuat hati Bila luruh seketika. Sakit itulah yang dirasakan.

               "Gue tau lo berubah semenjak sekolah di sini. Lu cuma ngincer orang hits! Emang bangsat lu! Lu udah berubah, Gan!"

               "Terus gue harus gimana? Kalau udah ya udah! Nggak usah diungkit yang lalu. Bye!" Gandi meninggalkan Bila begitu saja. Emang bangsat cowok itu. Sudah dikasih hati malah ngelunjak-author

                 Bila termenung dan menangis sendirian di bawah hujan yang mulai deras. Bagaimana pun Gandi memang tak bisa dipertahankan. Gandi emang bajingan. Bila harus berhenti berharap dan memulai hal baru untuk lebih baik.

Cowok sejati, nggak bakal ngerusak hubungannya hanya karena bosan. Sebab bosan dalam berhubungan adalah hal wajar. Yang nggak wajar nggak bisa ngendaliin nafsu untuk satu wanita saja.

        Mungkin Bila bakal trauma, tapi inilah yang terbaik baginya. Bukan tentang melupakan yang harus dilaluinya saat ini. Ini tentang cara bagaimana menata hatinya kembali.




Psst! Bagi kalian yang ingin ceritanya menjadi sebuah cerpen seperti ini. 
Kirim ceritamu lewat g-mail veronicawardah31@gmail.com atau yang mau curhat boleh juga.
Aku menantikan cerita kalian!
Continue reading Cerpen "Kisah Kita: Bad Girl vs Bad Boy"
,

Cerpen "Cerita kita: Fair Playboy Cap Sandal Jepit"


CERITA KITA: FAIR PLAYBOY CAP SANDAL JEPIT
Oleh Veronica

    “Lu tau nggak beritanya si Fair?” tanya Bebey. Cewek manis primadona kampus.

    “Emang kenapa dia? Pasalnya dia udah ngilang tiga hari kalo nggak salah,” tutur Galih sahabat Fair.

Fair ialah cowok berpredikat playboy "cap sendal jepit" di kampus Mahadarma.
Continue reading Cerpen "Cerita kita: Fair Playboy Cap Sandal Jepit"