Scene di mana Xiao Tan mengintip asrama laki-laki diketahui Mo Liang Cheng hingga pertemuan-pertemuan selanjutnya menjadikan Mo Liang Cheng suami Xiao Tan dan ingatan Mo Liang Cheng kembali, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Mengapa ada scene di mana Xiao Tan dengan Mo Liang Cheng berperang? Apa yang terjadi ketika ada pasukan kegelapan muncul? Lalu Kenapa Mo Liang Cheng saling beradu pedang dengan sekawannya?
Special Happy Eid Al Fitr, Selamat Idulfitri 1442 H "Kita kembali nol-nol dan toleransi, ya"
Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd ...
Takbir telah dikumandangkan di seluruh penjuru, semua umat muslim bergembira menyambut hari nan fitri. Di mana hari kemenangan bagi kita yang telah menjalani puasa tiga puluh hari lamanya. Para ibu-ibu bersiap menyiapkan kue lebaran, bapak-bapak bersiap-siap berkumandang takbir di masjid, sedang anak-anak dengan suka cita menyambut datangnya hari kemenangan ini. Berbeda para remaja yang membantu kedua orang tuanya.
Di lain sisi para pekerja keras yang sedang merantau harus tabah menjalani idulfitri sendiri tanpa keluarga dan sebagian lainnya berjuang tetap melakukan pulang kampung dengan menerjang segala aral. Semua tak lain demi keluarga mereka.
Hari raya kali ini bukan hari raya seperti biasanya sebab dengan penuh keistimewaan yang menemaninya. Idulfitri dengan wabah yang masih berlanjut dari dua tahun yang lalu, pula bebarengan dengan hari penting umat Kristiani.
Tanggal 13 Mei 2021 bukan hanya tepat tanggal 1 Syawal 1442 Hijriah juga hari di mana kenaikannya Isa Almasih.
Hari raya penuh toleransi, berdampingan satu sama lain merayakan harinya masing-masing. Betapa membuat kita menjadi rukun dan tentram. Toleransi keagamaan akan sangat lekat pada hari ini dan akan menjadi penanda jika kita adalah umat yang saling toleransi.
Hari Idulfitri, saling bermaaf-maaf satu sama lain. Melebur dosa yang kadang tak merasa melakukannnya. Melapangkan dada memohon dengan ikhlas maaf kepada sanak saudara dan teman sekitar. Baik teman kerja, teman bermain, teman yang telah menjadi sahabat, teman tapi musuh. Bersama-sama ikhlas memaafkan dan meminta maaf.
Baik itu yang dibenci atau disayangi tetap adil dan imbang untuk meminta maaf tanpa pilih kasih. Karena kesalahan yang diperbuat juga memiliki efek yang sama. Baik sengaja maupun tidak, baik bercandaan maupun serius tetap sama bukan. Ramadan penuh berkah kini bersambut dengan Idulfitri pernuh toleransi yang indah.
Obral Kata Veve mengucapkan Selamat Idulfitri 1442, dengan berakhirnya Ramadan semoga kelak kita akan dipertemukan kembali. Memiliki kesempatan lagi untuk menyambutnya dengan rona bahagia di muka dan hati.
Banyak cobaan yang menimpa, malahan seperti kesedihan terus menghantui. Kehilangan silih berganti, bencana di negeri menerpa tiada henti. Berawal dari bulan Januari sampai Mei kini. Tangis lara pecah, namun tetap harus tabah. Bulan Ramadan penuh berkah akan ada rahasia tak pernah terjamah.
Kita manusia penuh alpa, belajar untuk terus berusaha dan berharap pada Sang Pencipta. Berharap hari nan fitri kembali bersih tak hanya dari kesalahan juga bencana yang menimpa. Harap kita semua segera terijabah Sang Maha Kuasa.
Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. Tetap semangat menjalani hari yang semua memiliki perbedaan dalam merayakannya. Tetap disiplin protokol kesehatan, utamakan diri dan lindungi orang sekeliling.
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim ...
Pencapaian Ramadan Kali Ini Selama Masa Pandemi
Ini sudah menjadi Ramdan ke-30, hari terakhir di Bulan Ramadan kali ini. Banyak suka dan duka datang. Kesedihan, kebahagian seakan terlewati begitu saja. Ada yang disangka-sangka dan tak dikira-kira selama satu bulan penuh.
Ramadan kali ini masih sama dengan tahun kemarin, bergelut dengan pandemi yang menyerang negeri. Masih berkutat berjuang melawan wabah yang tak kunjung reda. Kematian akibat wabah masih saja menghantui. Garda terdepan para petugas kesehatan banyak yang gugur. Masyarakat yang sudah menjaga protokol pun juga gugur.
Dua tahun lamanya berjuang, berharap wabah hilang dengan cepat.
Meskipun wabah datang di tengah Ramadan, tak membuat kita untuk mengurangi tingkat kekusyu'an dalam beribadah bukan?
Wabah bukan lagi penghalang untuk beribadah selama Ramadan. Masih banyak yang bisa dilakukan selama Ramadan. Mengaji melalui media yang disediakan pihak-pihak tertentu karena pematasan peserta. Pembagian sedekah, takjil, menjaga diri mematuhi protokol kesehatan, mengaji di rumah, membantu orang tua. Ini adalah contoh kegiatan yang bisa dilakukan selama pandemi.
Lalu, apa saja yang sudah kalian lakukan Ramadan kali ini selama pandemi?
Sudahkah melaksanakan apa yang sudah kamu rencanakan?
Jika belum, di hari terakhir ini jadikan Ramadanmu penuh khidmat. Masih belum terlambat untuk menuntaskan Ramadan yang menjadi terakhir di bulan ini. Bersedekah, berinfaq, membaca alquran bisa menjadi pilihanmu untuk beramal.
Apa yang Sangat Disayangkan Ramadan Kali Ini?
Apa yang Diharapkan Ramadan Tahun Selanjutnya?
Balada Bukber, Niat Temu Kangen menjadi Ajang Pamer Kesuksesan
Bulan Ramadhan sudah berjalan sepertiganya, undangan untuk berbuka bersama masih silih berganti datang. Entah itu buka bersama dan agenda silaturahmi dengan komunitas, organisasi, atau sekolah baik sudah lulus atau pun belum.
Sayang sekali, agenda buka bersama yang memiliki makna untuk menyambung tali silaturahmi menjadi sebuah tragedi pecahnya konflik. Ini karena tidak lain adu pendapat menentukan agenda buka bersama (bukber) yang akan dijalankan. Baik tentang waktu, tempat, menu, absensi, bisa menjadi masalah yang runyam. Bahkan, ketika agenda buka bersama (bukber) yang sudah dipastikan ternyata menjadi sebuah wacana semata, membuat kekecewaan bagi yang sudah mengharapkan agenda berjalan.
Paling kacaunya jika antar anggota dan panitia saling menyalahkan atas penghapusan agenda yang akan dijalankan. Hilangnya komunikasi, membuat agenda yang bisa dirancang dengan baik bubar tidak terarah dengan jelas. Menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan dari panitia itu sendiri.
Namun, bukankah ini sebuah agenda rutin? Kenapa tidak membuat panitia tetap saja agar kegiatan buka bersama (bukber) tidak menimbulkan perselisihan yang akhirnya merenggangkan sebuah hubungan pertemanan itu? Bukankah tentang adanya temu kangen adalah harapan bersama? Kenapa menjadi urusan perorangan?
Permasalahan seperti ini hanya akan memberikan sebuah jawaban. Ya, tentang seharusnya kita sadar akan pertemanan yang telah dibangun. Hingga akhirnya saling bantu membantu mewujudkan sebuah agenda bersama. Komunikasi yang terbuka memberikan pemahaman antar anggota untuk memahami situasi dan masalah yang terjadi sampai menemukan sebuah solusi yang dipikul bersama.
Bagaiamana jika buka bersama (bukber) itu terjadi?
Jika buka bersama (bukber) itu terjadi, akan terjalin komunikasi antar sesama yang kadang memberikan efek baik juga efek buruk, Efek baik ketika niat buka bersama (bukber) dilakukan semata untuk membuka kembali tali persaudaraan. Benar-benar ikhlas saling merentangkan tangan, menyambut satu sama lain dalam bersaudara, menjaga hubungan untuk tidak menyinggul hal-hal yang memiliki unsur pembicaraan pribadi.
Kadang kala agenda buka bersama ada, hanya menjadi ajang pamer kesuksesan. Menanyakan temannya tentang apa yang sudah dicapai dan kemudian menujukkan pencapaian dirinya. Ini bukan lagi ajang temu kangen, hanya sebuah ajang dan perlombaan siapa yang terbaik. Menghilangkan niat awal untuk bersaudara.
Lantas ketika buka bersama, apasih hal-hal yang seharusnya tidak dipertanyakan?
Pertama, jangan pernah menanyakan bekerja di mana, lagi ngerjain apa sekarang?
Kedua, Kapan kamu lulus?
Ketiga, Kapan kamu menikah?
Keempat, Kok kamu jadi gini ya? (Terkait fisik)
4 hal pertanyaan yang harus kamu hindari saat buka bersama karena ini hanya akan menyakiti lawan bicaramu jika pertanyaan tersebut memiliki efek sensitif bagi pendengarnya. Tidak perlu menanyakan hal tersebut sebenarnya kamu akan tahu sendiri, baik dari media sosialnya maupun dari pernyataan sang empunya sendiri.
Buka bersama bukan ajang pamer penghasilan dan pekerjaan, buka bersama bukan ajang pamer pencapaian. Namun, buka bersama ajang menyambung tali persaudaraan. Tidak hanya untuk sebuah hubungan persaudaraan juga tentang agenda saling bekerja sama untuk mencari pahala dengan bakti sosial dan juga khataman bersama.
Konflik Wadas, Bahaya Pertambangan untuk Lingkungan Sekitar
Mengingat akhir-akhir ini santer terdengan "Konflik Wadas" yang menimbulkan beberapa pertanyaan. Tentang apa masalah awalnya? Apakah hanya tentang bendungan atau tentang pertambangan yang akan dilakukan di desa itu? Kenapa sesama warga saling melapor? Paling hangat menjadi pembicaraan adalah masalah pertambangan yang akan dilaksanakan di Desa Wadas.
Beberapa hari terakhir konflik yang terjadi di desa Wadas menjadi hal yang sangat menggemparkan publik, karena terdapat 9 korban luka-luka dan 11 penangkapan warga, pengurus LBH Yogyakarta yang dianggap sebagai provokator. Setelah bersitegang antara warga dan aparat kepolisian yang ada di tempat kejadian.
Konflik ini terjadi lantaran masih ambigunya ganti rugi yang diberikan juga tentang kerusakan apa yang terjadi jika pertambangan bantuan andesit di lakukan di Desa Wadas. Pertambangan ini dicetuskan sebab akan ada pembuatan Bendungan Bener untuk keperluan irigasi petani di sekitar bendungan tersebut. Ditambah lagi terdengar isu tentang adanya sebagian warga yang ikut turut melaporkan warga lain saat warga turun aksi menentang pertambangan di Desa Wadas.
Masyarakat sekitar memang setuju akan adanya bendungan yang dibangun, warga tidak mempermasalahkan itu, hanya saja yang menjadi awal keributan ketika bahan pembuatan bendungan yakni bantuan andesit yang akan digali di Desa Wadas melalui Pertambangan Batuan Andesit. Ini memunculkan keresahan sebagian warga tentang dampak pertambangan yang akan ada setelah pertambangan ini benar-benar dilakukan. Sampai pada waktu sosialisasi tentang proyek Bendungan Bener dan Pertambangan Batuan Andesit sedikit warga yang datang.
Bukan tentang dampak secara langsung, tetapi dampak seumur hidup tentang bagaimana lingkungan akan tercemar terutama sumber mata air dan ancaman longsor yang bisa datang sewaktu-waktu. Ini benar-benar membuat warga sangat khawatir.
Menurut artikel dari nu.or.id melalui wawancara terhadap Helmy salah satu pengurus PBNU yang mengatakan bahwa seharusnya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk turut melibatkan diri dalam menengahi konflik antara aparat dan warga.
Karena bagaimanapun juga tentang pertambangan di Desa Wadas gubernurlah yang menurunkan SK untuk bisa melakukan pertambangan tersebut. Setelah adanya ramai-ramai tentang Gubernur Ganjar pranowo untuk turun tangan, akhirnya gubernur mulai angkat bicara.
Menurut artikel dari solopos.com yang berjudul Ini Saran Ganjar Terkait Bentrok Aparat & Warga di Desa Wadas, gubernur mengatakan jika dari kabupaten yakni PEMKAB Purworejo harus melakukan sosialisai kembali agar tidak terjadi konflik dan perlu adanya dialog terbuka. Gubernur juga menyatakan bahwa mereka sudah setuju tentang pembangunan Bendungan Bener.
Namun, yang lebih diungkap dalam penytaan gubernur tentang Bendungan Bener bukan tentang Pertambangan Batuan Andesit yang menjadi akar konflik ini.
Tentang Bendungan Bener mereka memang bagus jika dibangun, namun untuk pertambangan sangat mengusik warga tentang dampak yang akan dialami oleh warga sekiitar. Bagaimana tercemarnya sumber air?Tentang bagaimana longsor akan menimpa warga.
Konflik Desa Wadas perlu penanganan serius agar bisa diselesaikan dengan baik. Baik dari pihak warga maunpun pihak aparat. Karena sudah menjadi rahasia umum tentang adanya sekat antara aparat kepolisian dan masyarakat. Konflik Desa Wadas hanya akan menjadi alasan kesekian kali terkait sekat aparat dan warga yang menjadi melebar.
Membahas kembali secara khusus tentang apa yang akan terjadi tentang dampak pertambangan di lingkngan sekitar, menurut jurnal Al'adl Volume IX Nomor 1, Januari-April 2017 yang berjudul Dampak Pertambangan Terhadap Lingkungan Hidup Di Kalimantan Selatan dan Implikasinya Bagi Hak-Hak Warga Negara yang ditulis oleh Nurul Listiyani bahwa terdapat dampak negatif bagi lingkungan:
1. Dampak pertambangan dalam waktu singkat dapat mengubah bentuk muka tanah dan dengan topografi yang membuat ketidakseimbangan pada sistem ekologi sekitar lingkungan. Pada hal ini munculnya dengan tanda kerusakan lingkungan juga pencemaran lingkungan.
2. Dampak pertambangan juga mengakibatkan penceramaran lingkungan hasil dari proses pertambangan tersebut. Lingkungan menjadi tidak sehat.
3. Pertambangan yang tidak melihat tentang keselamatan kerja juga kondisi geologi bisa mengakibatkan bencana alam semisal tanah longsor, gempa, dan keruntuhan. Banyak sekali berita kecelakaan kerja yang dimana terjadi keruntuhan yang mengakibatkan adanya korban dalam kecelakaan kerja.
Berbagai dampak negatif ini sangat membuat masyarakat cemas di sekitar daerah yang akan dijadikan pertambangan, padahal setiap manusia mendapatkan hak atas lingkungan yang baik dan sehat. Jika dampak ini ada, bukankah telah menyalahi hak manusia untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat?
Source: Solopos.com, nu.or.id, ayosemarang.com
Selamanya Terkenang, KRI Nanggala 402
Sebuah puisi untuk engkau, para pahlawan Bahari
Tugasmu begitu besar, menjaga laut NKRI
Tiada letih untuk kau keluhkan
Untuk negeri, urusanmu sendiri kau tinggalkan
Pahlawan Bahari
Kau tidak pernah pergi
Engkau masih ada di sini
Di tanah negeri yang kau cintai
Di pijakan bumi pertiwi
Laut dalam kau pantau
Lewat kapal selam yang kau kemudi
Keamanan laut tujuan engkau
Oh! Pahlawan Bahari
Begitu mulia tugas yang kau jalani
Bagaimana lagi, kau sudah terlalu cinta pada negeri ini
Negeri di mana kau dilahirkan, tanah bumi pertiwi
Hormat kami untukmu
Setelah engkau pilih misi berhargamu
On enternal patrol pilihanmu
Oleh sebab itu, tiada kata pergi dalam kamusmu
Engkau tidak pernah tenggelam
Engkau tidak tiada
Engkau tetap dalam misimu
Misi yang telah kau pilih untuk selamanya
Terima kasih
Terima kasih
Terima kasih
Sekali lagi terima kasih
Sudah saatnya engkau para prajurit negeri
Tenang dan damai dalam bahari
Tetap laksanakan misimu untuk bumi pertiwi
Biar kami yang mendoakanmu di sini
in memoriam KRI NANGGALA 402
Setelah diterbangkan tinggi. Dialiri deras, kemudian diledakkan dengan keras. Laut memelukmu dengan erat...
2021 penuh duka bagi pertiwi.
#krinanggala402
#prayforkrinanggala402
Kepada Jodohku Nanti
Aku akan selalu bersyukur atas apa yang telah dipilihkan Allah untukku, tidak serta merta aku menggantungkannya tanpa berusaha. Kepadamu yang selalu mengusahakanku lewat doa dan ikhtiar yang engkau lakukan, kuucapkan terima kasih.
Terima kasih telah hadir di dalam hidupku dan berusaha pada ikhtiar dan doamu. Lewat sepertiga malam kaulangitkan kriteria yang engkau inginkan. Beribu kali pula namaku kau sematkan tiap lantunan doa yang ingin diistajabah oleh Allah. Kerja kerasmu membangun sebuah kehidupan yang akan kita karungi bersama. Adalah sebuah bukti nyata tentang cinta yang membutuhkan logika.
Saban hari tak pernah terlintas di hatimu menyerah demi masa depan. Siang malam kau lakukan segala kerja keras untuk kehidupan yang layak. Mengeluh sesekali kau lakukan kemudian mengulang kembali apa yang kamu kerjakan. Kamu tak pernah bosan untuk terus berusaha, dan lagi-lagi kuucapkan terima kasih.
Terima kasih telah membersamaiku, meski hanya sekali dua kali kita berbalas pesan dan mengobrol sekadarnya, akibat padatnya kegiatan di antara kita berdua. Memaksa kita untuk sadar jika cinta bukan sekadar kata yang terucap, juga pengorbanan untuk sebuah hari esok yang lebih cerah. Tak hanya bualan manis yang diperlukan, pun kerja keras demi kehhidupan yang terus berjalan.
Suatu saat, tibanya kau ucapkan akad suci di mana apa yang telah lama diperjuangkan bersama menjadi nyata. Aku akan berkata kepadamu, "Ikhtiar kita belum selesai, Tuan. Awal mula bahtera kehidupan kita baru dimulai. Mari bersama berjalan tuk saling mengingatkan, jangan saling menyalahkan. Ikatan yang telah kita buat ini terlalu suci, jangan sampai dikotori."
Segala hal yang terjadi akan kita jalani bersama, bukan lagi sendirian dan berpikir berusaha mandiri. Sebab itu menjadi awal sebuah kehancuran yang diwaspadai. Setelah akad, inilah janji ikatan bersama bukan sendirian saat awal jumpa.
Jika dahulu hanya ada aku dan kamu, kini yang ada hanyalah kita bersama. Berpikir logis bukan hanya untuk saling mengasihi dan menyayangi pula untuk saling mengerti dan memahami. Tetap saja kita memiliki pemikiran berbeda di setiap kepala. Namun, selalu ada jalan tengah untuk memberikan solusi terbaik. Akan ada waktunya satu di antaranya untuk mengalah. Tidak mungkin sama-sama keras yang membuat robohnya pertahanan kita bersama. Seperti dalam kehidupan ada gelap dan terang, ada hitam dan putih, dan ada keras dan lunak. Menjadi pelengkap satu sama lain, bukan untuk mendorong untuk unggulkan kemampuan sendiri.
Penyakit Kronis Literasi, Plagiarism Semakin Menggrogoti
Bukan barang baru mengenai penyakit kronis dalam bidang literasi, sudah menjadi rahasia umum plagiarism menjadi momok bagi pegiat literasi. Kurangnya penekanan hukum yang pasti tentang plagiarism membuat para pelaku plagiasi atau plagiator dengan mudahnya melakukan hal yang membuat kerugian. Ini juga bisa menyebabkan kreativitas pelaku pun menurun dan kualitas dari sebuah tulisan akan rendah. Tak hanya dalam ranah sastra saja plagiarism terjadi, baik di ranah non sastra plagiarism juga semakin marak. Bahayanya, pelaku malah ditemukan di bidang akademisi, karya ilmiah, tugas akhir sering kali menjadi sorotan plagiarism. Di sisi lain di bidang sastra plagiarism terjadi sangat sering. Baru-baru ini menjadi perbincangan hangat para penulis tentang plagiarism yang diakui pelaku kemudian setelah menyangkalnya bahkan penerbit dari pelaku plagiator membelanya.
Aneh dan sangat disayangkan jika plagiarism ini tidak ditindak dengan tegas. Melihat kasus yang terjadi rupanya plagiarism dianggap barang remeh yang sering dilakukan. Abainya terhadap hukum tentang plagiarism, membuat pelaku plagiarism seakan menganak pinak. Bahkan, bibit pelaku plagiarism semakin banyak. Contoh kecil dalam plagiarism mengambil gagasan penulis lain yang menurutnya bagus, kemudian diakuinya menjadi miliknya sebagai caption bagus untuk media sosialnya. Menginginkan dirinya seakan bijak padahal itu bukan buah pemikirannya. Hal yang dianggap sepele seperti ini, juga termasuk plagiarism sejatinya
Sebelum membahas lebih banyak tentang plagiarism, apa sebenarnya plagiarism?
Menurut kamus Oxford, plagiarize is copy another person's work, word, ideas, etc and pretend that they are your own. Jika diartikan plagiasi adalah menyalin pekerjaan, kata, ide, dan lain-lain yang kemudian berpura-pura atau mengakuinya jika itu miliknya. Melihat artinya saja sudah jelas ini perbuatan yang tidak dibenarkan menyalin pekerjaan orang lain kemudian diakui miliknya sendiri, sama saja mencuri pekerjaan itu. Pandangan dari penulis jelas plagiarism adalah pencurian sebuah karya baik pekerjaan, ide, atau hal apapun yang sangat merugikan bagi pemilik karya karna diakui oleh orang lain.
Plagiarism secara mata terbuka sudah tidak dibenarkan, padahal sudah ada undang-undang yang mengaturnya berdasarkan pasal 113 UU No.28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman emat tahun dan denda paling banyak satu milyar rupiah. Denda yang termasuk luar biasa besar tetapi tidak memuat jera para pelaku plagiasi, benar-benar memprihatinkan! Sungguh berani para plagiator ini, ya?
Namun, kenapa dengan adanya UU Hak Cipta masih terjadi plagiarism?
Dinamakan plagiasi jika sudah menjadi milik melalui pembuatan hak cipta, yang demikian harus mengurus bebagai dokumen yang ada. Tidak semua paham tentang pendaftaran hak cipta, meski begitu jika penasaran bisa mendaftakan di E-Hakcipta untuk mendaftaran sebuah produk atau karya atau hal ang diakui milik. Namun, harus menunggu diterimanya status akun tersebut.
Pendaftaran seperti ini juga termasuk hal yang menyulitkan terkadang. Sehingga tak semua orang membuat hak cipta atas karya yang dimiliki. Tidak hanya begitu, jika plagiator sudah memiliki pengikut banyak, apa yang dibuat sudah terlanjur dipercayai oleh para pengikut mereka sehingga kemungkinan besar malah menyerang pihak korban. Status tinggi atau kedudukan tinggi membuat ego plagiator tidak mudah mengakui perbuatannya.
Sanksi sosial yang didapatkan tidak membuat para pelaku jera, kepercayaan diri yang meningkat dan kepopulerannya dianggap sebagai senjata pemebelaan para pelaku. Sangat disayangkan jika para pelaku ini malah dibeli sedemikian rupa. Jangan sampai juga penerbit yang malah mendukung tindakan pelaku ini. Ini malah membuat semakin menjadi-jadi, membuka lahan yang luas bagi plagiator.
Lantas sebagai pegiat literasi, tindakan apa yang tepat?
1. Mematenkan hak milik atas karya yang dibuat.
Meski terlihat tidak mudah ini perlu dilakukan demi menjaga karya dari tindakan plagiasi, dengan mematenkan hak kita memiliki hak untuk menuntuk para plagiator yang berulah.
2. Menyadarkan publik tentang tindakan plagiasi yang sangat merugikan para pemilik karya.
Baru-baru ini pula banyak penulis yang bekerja sama mengkampanyekan tentang #saynotoplagiarism. Mengajak seluruh pegiat literasi untuk tidak melakukan plagiasi karena sangat merugikan dan membuat menurunnya kualitas SDM dari generasi penerus bangsa.
3. Selalu mengecek tulisan sendiri sudah tidak tercampur plagiasi atau tidak.
Banyak cara untuk meninjau tulisan sendiri dengan check online, misal bisa melalui plagiarism checker, plagiarism detector, dan situs lainnya yang bisa digunakan untuk mengeceknya.
4. Cara terakhir yakni melakukan pelaporan secara resmi agar ditindak melalui hukum yang ada.
Melalui tindakan yang bisa dibuat sebagai pencegahan terjadinya plagiarism yang sudah menganak pinak dan menjadi barang biasa bagi pelaku plagiasi. Diharapkan dengan sadarnya plagiarism yang membahayakan segala pihak, mejadi semakin berkurang. Mari galakkankan hastag #saynotoplagiarism untuk menyadarkan semua puhak tentang bahaya palgiasi dalam bidang literasi ini khususnya.
Ingat plagiarism merupakan tindakan pencurian, yang mana tak akan bermanfaat sama sekali sebuah hasil curian itu. Jangan tunduk adanya plagiarism, baik akademisi, penulis, atau pihak lainnya. Tetap saja plagiarism sebuah pelanggaran etika berat.
Salam Literasi!
Salam Hangat!
Obral Kata Veve
Hari kartini 21 april, lahirkan sebuah emansipasi
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Cerita Puasa: Tragedi Secuil Daging
Tidak hanya kamu saja yang memiliki pengalaman berpuasa, aku pun. Kala itu aku berusia enam tahun dimana belum bisa mengetahui mana yang benar dan salah. Slalu menurut apa yang dikatakan Ibu. Ya, ibulah yang mengajarkanku apa itu puasa. Sudah sejak kecil aku diajarkan untuk belajar berpuasa, dimulai puasa mbedug yang artinya berpuasa namun pada bedug atau tengah harinya berbuka lalu dilanjutkan puasa. Dari nol kecil sudah belajar puasa mbedug kemudian di nol besar atau bisa disebut TK B puasa sore. Seperti adikku yang masih kecil pun diajari berpuasa seperti waktu aku masih kecil.
Awalnya puasa sore di Ramadan pertama untuk mereleasekan puasa sore perdanaku lancar jaya, tak ada halangan. Aku bersemangat sekali. Namun, sangat disayangkan untuk hari ketiga ketika aku diajak nonggo, berkunjung ke rumah tetangga untuk berbicara ini itu tepatnya rumahnya di depan bengkel motor samping kanan rumah hal tak terduga terjadi. Rasanya pada saat itu, aku terlalu nurut, sampai diiming-imingi hal manis nurut saja.
Berkat secuil daging yang langsung masuk ke tenggorokan, puasa soreku batal! Sungguh membagongkan bukan? Pada jam tiga kurang tiga jam lagi berbuka harus batal karena secuil daging tanpa rasa yang ngalir langsung tanpa perlu dikunyah masuk dengan sopannya ke perutku. Jika kuingat bagaimana awal mulanya, aku harus memutar otakku. Membuka, me-refresh lagi, lagi mengobrak-abrik folder lama di dalam otak. Mencari kejadian delapan belas tahun silam.
...
"Mi, arep daging?" kata Palupi sambil mengunyah daging yang sebagian dipeganya, ditaruhnya di dalam baskom kecil berwarna abu-abu berbahan alumunium. Ia mengenakan kaos dalam oblong putih dan celana pendek berwarna kuning.
Aku memerhatikan sebentar, menatap Palupi yang memakan daging itu penuh lahap. Di sampingnya ada kakak dan temannya yang ikut memakan daging. Tanpa sadar aku memakan air liurku sendiri. Glek.
"Ndak! Aku poso nko batal" itu jawabanku pertama, mencoba untuk tidak tergoda meskipun itu sangat menggoda sekali. Bayangkan saja di saat-saat kritis memasuki waktu berbuka, kau disuguhkan pada pemandangan menggoda yang bisa membuatmu meneteskan air liur.
"Ora batal, wong mek sak iris elo. Titik ki jajalen!" Palupi meyakinkanku lagi. Kali ini dengan perkataan bahwa jika memakan sedikit pun tak akan batal karena tidak terasa.
"Mosok, ta? Nko diseneni ibukku aku!" aku mulai ragu dengan menggunakan tameng ibuk, agar mereka tak memberikanku irisan kecil daging itu. Sayangnya, perkataanku malah membuatnya memberikan irisan lebih kecil agar aku bisa mencicipi, lalu meyakinkanku dengan ucapan manisnya.
"Westo, ojo omong ibukmu nko nggak batal."
Sekejab mendengar ucapan itu, seakan membuatku terhipnotis. Percaya saja jika kita tak berbicara tentang sepotong daging kepada ibu bakal membuat puasaku tetap sah-sah saja. Aku mulai menangkap uluran tangan itu, sedang ibukku sedang berbicara di teras rumah tertutup oleh mobil yang berada di depannya. Sedang aku, Palupi dan teman lainnya berada di samping mobil kiri agak mojok.
Aku mengambilnya dengan ragu lalu perlahan kumasukkan irisan itu di mulutku bukan dikunyah langsung saja tertelan di dalam tenggorokan dan masuk ke dalam perutku, setelah selesai pada irisan daging kecil itu ibuku datang menanyakan apa yang kulakukan sehingga terlihat sembunyi-sembunyi.
"Nyapo tasan? Ayok muleh!" ajak ibukku untuk pulang.
Tiga jam setelahnya aku berbuka, lalu mengatakan jika aku memakan irisan daging itu. Seketika itu ibukku marah, berkata jika puasa sudah batal ketika memakan irisan daging itu.
"Ngunui posomu batal, lek diweki ojo gelem lo. Ngerti? Mbok titik panggah mbatalne poso. Ngerti?" ibuk menasehatiku, sedikit keras hingga aku nangis sesenggukan. Mana tahu jika itu bisa membatalkan puasa meski daging itu yang langsung tertelan. Nyatanya aku tak bisa berbohong, tetap saja aku mengatakan kejadian tadi.
Meskipun marah, ibuku menasehatiku jika puasa itu tidak boleh makan minum apapun meski itu sedikit karna tetap bisa membatalkan puasa. Gara-gara irisan daging itu, aku pun tak bergaul lagi dengan pemberi irisan daging selama puasa. Takut batal lagi, gegara pemahaman dan mudah tergoda ini.
...
"Ah! Tragedi secuil daging!"
Sebuah cerita yang sampai saat ini terus terngiang dalam otakku, ah tragedi penuh kenang sepanjang masa.













