Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
,

Cerpen Mya Veronica Hadiah Untuk Makky

 Hadiah Untuk Makky

Mya Veronica

Cerpen Mya Veronica Hadiah Untuk Makky

 

 

Kalo nakal mah gampang, tinggal buat onar

Susahnya kita bangkit dari nakalnya, udah di posisi nyaman soalnya

****

“Eh, dia mau kesini!” kata Burhan sambil berlari menuju tempat duduknya. Makky yang tak mengerti ucapan itu, kembali bertanya.

“Siapa?” tanya Makky berjalan mendekati bangku Burhan.

Makky duduk di samping bangku Burhan. Kakinya ia jejakkan di kursi. Putung rokok yang menghiasi jari telunjuk dan tengahnya ia jatuhkan lalu ia injak. Merokok adalah kebiasaannya. Di mana pun tempatnya ia tak peduli. Sekolah pun tak jadi masalah.

            “ Pak Tua! Dia sudah datang dan berjalan ke arah sini,” kata Burhan.

            “SIALAN! Mengganggu kesenangan saja!” umpatnya.        

            Derap kaki Pak Rahmat telah terdengar. Seperti biasa Makky berjalan begitu santainya. Ia tak merisaukan kemarahan yang akan ia dapat. Tak ada rasa takut atau pun hormatnya pada seorang guru. Guru yang terkenal dengan sebutan guru killer. Pak Rahmat, guru itu mengajar bidang agama.

            “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Sapa Pak Rahmat.

            “Wa’alaikumussalam.” Jawab muridnya serempak.

Mereka murid kelas XII IPS 3. Semua menjawab kecuali Makky. Ia malah asyik menaruh kakinya diatas mejanya. Semula guru itu tersenyum mendengar muridnya kompak menjawab dengan semangat. Berkat Makky senyum itu pudar. Anak didiknya satu itu memang terlewat bandel. Tak ada sopan santun atau ucapan halus yang diucapnya.

“Makky! Apa yang kamu lakukan? Cepat duduk dengan sopan!” hardik Pak Rahmat.

Ucapan pak Rahmat sontak membuat semuanya menghadap bangku Makky. Karena dasarnya badung, Makky hanya diam seperti tak pernah mendengar hardikan itu. Ia dengan asyiknya meletakkan earphone genggamannya pada tiap telinganya. Pak Rahmat yang sudah tidak kuat dengan tingkah Makky berjalan menghampiri bangku sang anak badung itu.

“Makky, jaga sikap kamu!” kata Pak Rahmat. Beliau menarik earphone yang ada di telinga Makky. Makky menatap gurunya dengan tatapan tak suka.

“Terserah saya!” tolaknya lalu menaruh lagi earphone itu.

“Ini sekolah Makky! Bukan tempat untuk bersenang – senang! Sekolah punya peraturan dan kau harus menaatinya. Kau siswa disini. Kau didik untuk menjadi pribadi yang baik, bukan?” jelas Pak Rahmat.

“Kalau saya tidak mau bagaimana? Bosan tahu!” kata Makky santai.

Helaan napas Pak Rahmat terdengar. Ia sangat menyayangkan anak didiknya menjadi seperti ini. Entah masalah apa yang dihadapi anak didiknya membuatnya menjadi pribadi kasar.

“Ingat Makky! Sekolah tempat mencari ilmu, bukan tempat melanggar aturan. Suatu saat kamu akan mengerti.” Pak Rahmat mengakhiri perdebatanya itu. Melangkah pergi memulai pelajarannya. Ia hampir menyerah pada Makky. Semua guru menyuruhnya untuk mengeluarkan Makky. Tapi tidak untuk pak Rahmat. Ia mempertahankan Makky.

***

Bel pulang sudah lewat sejak dua menit yang lalu. Makky sudah keluar dari gerbang sekolahnya. Ia lupa hendak menyeberang. Ia mengenakan earphone nya tanpa menoleh kanan dan kiri. Ia tak sadar jalan raya yang ia lalui terdapat mobil yang sedang berpacu keras ke arahnya. Tabrakan tak terelakkan. Sayangnya bukan Makky yang menjadi korbannya melainkan gurunya, Pak Rahmat. Guru yang amat ia benci. Guru itu tadi mendorong Makky hingga jatuh di trotoar.

“Auuww!!! teriak Makky. Ia meringis kesakitan, tangannya terbentur badan trotoar. Ia bangkit melihat siapa yang telah menolongnya itu. Makky terbelalak jika gurunya lah sang penyelamatnya.

“Pak Rahmat!” pekik Makky.

Ia tak percaya apa yang ada dihadapannya. Ia mengucup matanya memastikan sekali lagi apa yang ia lihat. Namun benar adanya. Ia ingin marah. Namun harus marah pada siapa? Makky berteriak meminta bantuan. Segerombol siswa yang belum pulang pun membantu Makky menelponkan ambulan rumah sakit. Makky mengikuti ambulan itu.

***

Sesampai dirumah sakit, Makky menunggu Pak Rahmat di pintu UGD. Ia tak diperkenankan masuk meski berulang kali ia berteriak. Ia sangat mengkhawatirkan gurunya itu. Selang beberapa jam, dokter yang menangani Pak Rahmat keluar dengan mimik serius.

“Bagaimana keadaanya, dok?” tanya Makky khawatir.

“Maaf, gurumu nyawa beliau tidak tertolong, mohon adik bersabar. Doakan beliau, waktu meninggal 15.30,” ucap sang dokter menyesal.

Seakan teringat akhir perdebatannya pada sang guru, Makky menangis. Ada rasa sesal yang kini menelusuk pada relung hatinya. Belum sempat ada kata maaf yang ia ucapkan pada sang guru, namun takdir telah menemuinya terlebih dulu. Makky benar -benar tak dapat melupakan perlakuan buruknya itu. Seakan roll film yang selalu berputar pada otaknya kini.

Peristiwa yang tak terduga ini mengingatkan Makky untuk merubah sikapnya. Ia sadar guru itu ada baiknya. Meskipun cara mendidik muridnya kadang terlewat kasar. Itu semata hanya menginginkan muridnya menjadi lebih baik darinya. Makky sang anak badung kini memulai jalan barunya. Menjadikan diri sebagai pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Makky mengubah skor kenakalanya menjadi skor prestasinya. Ia menjadikan guru yang telah meninggalkannya sebagai panutan sepanjang masa. Jasa guru memang tak bisa di pungkiri. Kita sebagai murid tak bisa membalasnya. Hanya bisa mendoakan untuk yang terbaik untuknya.

 

Sekolah sebenarnya asyik untuk mencari ilmu

Kitanya saja yang khilaf dan tak mau tahu akan hal itu

(Muhammad Makky)

Continue reading Cerpen Mya Veronica Hadiah Untuk Makky

CERPEN Surat untuk Kamala


 Surat Untuk Kamala
Mya Veronica

 

Seluas apapun langit ketika hati tak bisa berpaling pada lalu

Seakan menjadikan langit itu sempit

Karena setiap temu menjadikan kita berbalik pada lalu


***

Sudah satu tahun wanita itu mengurung diri, berkali – kali sahabatnya menghiburnya dan membuatnya bangkit. Namun, sama sekali tak ada perubahan berarti. Cukup sekali kepahitannya dalam memahami cinta membuat jati dirinya seakan hilang. Dulu sekali, wanita itu merupakan sosok yang ceria dan selalu aktif di organisasi mana pun. Ia terkenal sosok yang bersahabat, terbuka dan mudah bergaul. Tutur katanya yang lugas dan santai membuat teman – temannya tak sungkan mengajaknya berbicara. Sesekali diskusi kecil akan terjadi saat mereka membahas topik – topik hangat yang terjadi di negeri ini.


Tok tok tok . . . . .

Suara pintu kamar wanita itu diketuk sekali lagi. Sudah tiga kali pintu kamar itu diketuk tetapi tak ada jawaban sama sekali.


“Kamala! Nak, ini ada teman kamu datang, Ibu mohon buka pintunya!” kata Ningsih, Ibu Kamala. Wajah berkerut dengan tatapan nelangsa melihat pintu kamar putrinya.


“Nak, kamu berada di dalam kan? Ndak baik kamu mengurung diri terus. Kasihan Ibu Nak,” kata Ningsih sekali lagi.


“Biar aku saja Bu, yang membujuknya,” kata pemuda bersuara berat itu. Kira-kira umur pemuda itu sejajar dengan Kamala, menginjak umur 20 tahunan.


“Makasih, Nak. Semoga Kamala mau untuk keluar dari kamarnya,” lirih Ningsih kemudian berjalan pergi meninggalkan pemuda itu.


Pemuda itu mengambil alih nampan makanan yang dibawa oleh ibunya Kamala. Ia kemudian memanggil Kamala sekali lagi.


“Mal! ini aku Rayhan. Kamu nggak lupa, kan? Ayuk buka pintunya. Ada sesuatu yang harus aku kasih tahu,” kata Rayhan.


Namun tak ada jawaban malah suara seorang wanita yang menangis. Mendengar itu Rayhan berteriak .

“Mal! Please jangan kayak gini! Kamu nggak boleh nyiksa diri kamu sendiri. Mal! Buka pintunya! Kamu harus tahu masalah sebenarnya!” teriaknya. Rayhan mungkin sudah terlalu frustrasi menanggapi sikap Kamala seperti ini, tidak hanya Kamala yang pedih. Rayhan malah lebih pedih lagi perasaanya. Rahasia itu haru segera dibongkar, pikirnya.


Krieett… Suara pintu terbuka sedikit dan Kamala masih sesenggukan menahan tangisnya. Rayhan yang tahu itu segera membuka lebar pintunya. Ia segera duduk di sisi kanan ranjang Kamala.

“Mal, Sudah setahun kamu kayak gini. Kamu nggak bisa nyiksa diri kamu sendiri, Mal. Please, jangan jadi orang lain! Mana Mala yang dulu?” kata Rayhan sambil mengelus pundak Mala. Ia meletakkan nampan makanannya di laci samping tempat tidur Kamala.


“Ray… hiks…,” Mala sesenggukan. Lidahnya kelu untuk mengatakan keluh kesahnya. Ia hanya bisa menangis dan menangis mengingat kenangan lalu itu.


“Mal! Please berhenti nangis ya? Aku nggak kuat lihat kamu kaya gini,” kata Rayhan sendu.

“Dia jahat, Han! Aku benci dia!” kata Mala lirih.

Dua kata ini sedikit menyayat hati Rayhan. Mala sudah membenci dia.

“Mal? Nggak ada kata maaf kah untuk dia?” tanya Rayhan.

“NGGAK! DIA JAHAT!” teriak Mala. Respon Kamala yang biasa disapa Mala ini membuat Rayhan termenung.


Rayhan menahan napas sebentar dan membuangnya secara kasar. Terdengar helaan napas panjangnya. Ia tak tahu apa yang akan menjadi keputusannya kini, menjadi hal baik baginya atau malah sebaliknya. Ia ingin mengubah mindset Mala tentang seseorang itu. Ia tak bisa membiarkan Mala terlalu larut dalam kebenciannya.


“Mal, ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu. Kuharap ini bisa membuatmu terlepas pada lalumu. Jangan memaksa diri jika kamu belum siap membukanya!” Rayhan menyerahkan sekotak kado pada Mala.


Mala dengan ragu menerimanya. Ia mengernyitkan dahinya ketika sebuah nama terpampang dalam sebuah tulisan diatas kado tersebut. Teruntuk Kamala Safitri Renjani. Tertulis dalam sepucuk surat itu.

“Apa ini?” tanya Kamala ragu.

“Ini untuk kamu. Kamu bisa membukanya. Tapi jaga mental kamu jika ingin membukanya. Kamu harus kuat, Mal.” Tutur Rayhan.


Kamala ragu. Namun ia tetap membukanya. Sedikit kotak itu terbuka. Terlihat benda yang membuatnya menutup mulutnya. Lantas, seketika itu Mala membukanya dengan cepat. Ada sebuah kotak musik, surat, dan cicin. Kamala mengenal cincin itu. Matanya memanas, tak kuat ia menahannya. Ia kembali terisak.


“Han! Apa ini?” Kamala terisak.

“Ini dari dia! Jangan kau buang! Baca dulu ya,” kata Rayhan lirih.

Mala dengan tangan bergetar mengambil cincin itu, cincin yang sama ia pakai saat ini. Cincin kenangan terhadap seseorang yang menyakitinya. Membuka lintasan ingatannya pada dia. Dia yang telah mengkhianati Mala.


Flashback on

Malam itu di mana Mala dengan seseorang yang dicintainya membuat janji untuk bertemu di Cafe Camarable. Mala dengan hati berbunga – bunga pergi ke tempat itu. Tak disangka ketika ia hampir sampai pada meja di mana mereka janjian, Mala melihat adegan yang membuatnya remuk. Tentang seseorang yang memperlihatkan kemesraan mereka tepat di hadapan Mala. Sosok itu dengan tega mencium wanita yang dibawanya di hadapan Mala. Mala kaget dan langsung menampar dia dan berlalu di hadapan mereka. Padahal dialah yang mengajak Mala bertemu. Tapi siapa sangka, bertemunya kali ini dengan sosok yang dicintainya sebagai awal kehancurannya. Sungguh tega sosok itu meremukkan hati Mala hingga tak bisa disatukan kembali.


Flashback off

“Aku nggak mau, Han! Dia itu pengkhianat!” kata Mala penuh benci.

Please, Mal. Baca dulu ya? Sebelum kamu buang,” kata Rayhan yang tahu Mala meremas surat itu. Mala semakin ragu. Namun, ketika melihat mata Rayhan terdapat sebuah permohonan yang mendalam, Mala membuka surat itu dan mencoba membacanya.


Teruntuk Kamala Safitri Renjani’

‘Wanita yang sangat kusayangi setulus hati’

“Bohong kamu!” Mala menangis.

Aku tahu saat ini kamu sangat membenciku…..


“Jika kau tahu kenapa melakukannya?” tanya Mala lirih.


Luka yang kutorehkan padamu teramat dalam dan begitu menyakitkan. Aku sadar, kesalahanku padamu begitu fatal hingga tak ada maaf di dalamnya. Mala, kau ingat aku pernah mengatakan bahwa kau adalah matahari bagiku.

Kau tahu kenapa aku mengibaratkanmu matahari? Kau itu motivasiku, membuatku selalu tersenyum dan membuatku untuk selalu semangat dalam menjalani hidup. Mala, aku tahu luka sulit disembuhkan. Perlakuanku padamu itu juga menyiksaku. Aku sangat bersalah padamu. Aku membuatmu terjun pada lubang hitam dan tak bisa membuat kembali. Aku ingin sekali membantumu bangkit dan menguraikan segala benang kusut yang membuatmu seperti ini.

Mala, saat kau membaca surat ini aku mohon maaf padamu, aku membuatmu menjadi begini. Tapi disana sudah ada Rayhan kan? Dia akan menjagamu setelah aku. Adikku itu, hehehe.... Dia sangat menyukaimu, Mal. Coba buka hatimu untuk dia ya? Aku tak bisa menjagamu lagi.

Mungkin kau bertanya kenapa aku berubah seperti itu? Mal, saat aku melakukannya pada Malika, itu karena kesengajaanku padamu. Aku membuatmu membenciku. Karena aku tahu, jika kau kehilanganku kau akan lebih sakit dan tak bisa melupakanku. Mala, saat itu aku mengidap kanker otak stadium akhir.


Hidupku tak banyak tersisa. Aku tak ingin menjadi bebanmu. Semua kulakukan untukmu agar kau tak mengingatku. Aku kira ini saat yang tepat untuk melakukannya. Penderitaanku akan habis. Aku tak perlu mengkhawatirkanmu lagi. Sayang itu bukan intuisi salah yang kusengaja, itu malah membuatmu hancur. Hancurmu itu membuatku semakin terpuruk dalam rasa kebersalahanku.


Mala, saat kau sakit, aku lebih merasakan sakit yang teramat. Keadaanmu yang begitu buruk, memaksaku ingin menemuimu. Namun aku sadar, bukan aku yang harus datang padamu. Karena kau akan semakin terjun ke dalam luka itu. Maka aku hanya bisa diam melihatmu dari jauh. Aku tahu setiap hari kau hanya mengurung diri di kamar dan Rayhanlah yang selalu memberimu semangat. Aku tahu itu.


Mal, saat kau membaca surat ini, aku ingin kau bangkit dan bahagia kembali seperti Mala yang kukenal dulu. Mal, kau itu matahari bagi orang banyak. Jangan pernah kau redup! Karena mereka tak bisa hidup tanpamu. Selalu bersinarlah, Mal. Aku akan membawa cintaku padamu ke dalam sanubariku. Ajal yang menjemputku pun tak sanggup merusak cintaku padamu. Terima kasih untuk hari indahku bersamamu. Terima kasih atas torehan cerita yang takkan pernah kulupakan.


Mal, berbahagialah dengan seseorang yang selalu mendampingimu. Maafkan aku!

Muhammad Sofyan Hanan

(Orang yang selalu menuliskan namamu di dalam hatinya)

 

Tetes air mata membasahi kertas, seakan menghapus tiap bait yang tertulis. Menjadi kabur. Mala memegang erat tulisan itu. Ada rasa yang hilang di dalam hatinya. Kebenciannya terhadap Sofyan kabur dengan sendirinya. Ia bergetar. Matanya menetes lebih deras. Isak tangisnya semakin kencang. Sofyan yang ia ketahui sebagai pengkhianat ternyata sosok rapuh yang membutuhkannya. Ada penyesalan terhadapnya. Lantas, bagaimana jika sesal kini tak ada artinya. Dia telah pergi bersama segenggam memori kenang indah yang terlukis di dalamnya.


“Han, tunjukkan di mana tempatnya sekarang!” rengek Mala.

“ Tapi, Mal…!” ucap Rayhan.

Please Han! Antarkan aku!” pinta Mala.


Rayhan yang tak kuasa akan hal itu, mengantarkan Mala pada tempat peristirahatan Sofyan sang kakaknya sekaligus kembarannya itu. Jarak mereka hanya lima menit semata.


Sekarang mereka telah sampai. Dengan sesenggukan, Mala minta maaf pada Sofyan. Mala merasa dirinya belum pantas untuk Sofyan. Mala terlalu memikirkan lukanya hingga ia tak sadar bahwa bukan dia yang terluka. Mala hanya bisa menangis. Ada tangan yang mengusap punggungnya.


 Ya, Rayhan. Cowok yang setia setiap dia berada pada titik terendahnya. Mala tersenyum pada Rayhan. Pada kedalaman hatinya, ia berjanji untuk bangkit. Menghapus benci dan menyisakan tempat untuk Sofyan di relung hatinya yang paling dalam. Ia bangkit merasakan tangannya digenggam oleh Rayhan.


 

Aku sadar waktu tak bisa diputar…

Tapi aku lebih sadar lagi aku harus menikmati waktu yang saat ini kujalani.

Teruntuk yang lalu biarlah menjadi saksi hidup pahitku.

Biarkan kenangan itu tergenggam sebagai pelajaranku yang berharga.

Terima kasih Sofyan yang mengajariku arti jatuh dan terima kasih Rayhan yang mengajariku arti bangkit.

Kini aku menginjak masa depanku menata kembali yang pernah tertunda.

Kamala Safitri Renjani

Continue reading CERPEN Surat untuk Kamala
,

Cerita Puasa: Tragedi Secuil Daging

    


    Tidak hanya kamu saja yang memiliki pengalaman berpuasa, aku pun. Kala itu aku berusia enam tahun dimana belum bisa mengetahui mana yang benar dan salah. Slalu menurut apa yang dikatakan Ibu. Ya, ibulah yang mengajarkanku apa itu puasa. Sudah sejak kecil aku diajarkan untuk belajar berpuasa, dimulai puasa mbedug yang artinya berpuasa namun pada bedug atau tengah harinya berbuka lalu dilanjutkan puasa. Dari nol kecil sudah belajar puasa mbedug kemudian di nol besar atau bisa disebut TK B puasa sore. Seperti adikku yang masih kecil pun diajari berpuasa seperti waktu aku masih kecil.

    Awalnya puasa sore di Ramadan pertama untuk mereleasekan puasa sore perdanaku lancar jaya, tak ada halangan. Aku bersemangat sekali. Namun, sangat disayangkan untuk hari ketiga ketika aku diajak nonggo, berkunjung ke rumah tetangga untuk berbicara ini itu tepatnya rumahnya di depan bengkel motor samping kanan rumah hal tak terduga terjadi. Rasanya pada saat itu, aku terlalu nurut, sampai diiming-imingi hal manis nurut saja.

    Berkat secuil daging yang langsung masuk ke tenggorokan, puasa soreku batal! Sungguh membagongkan bukan? Pada jam tiga kurang tiga jam lagi berbuka harus batal karena secuil daging tanpa rasa yang ngalir langsung tanpa perlu dikunyah masuk dengan sopannya ke perutku. Jika kuingat bagaimana awal mulanya, aku harus memutar otakku. Membuka, me-refresh lagi, lagi mengobrak-abrik folder lama di dalam otak. Mencari kejadian delapan belas tahun silam.

...

    "Mi, arep daging?" kata Palupi sambil mengunyah daging yang sebagian dipeganya, ditaruhnya di dalam baskom kecil berwarna abu-abu berbahan alumunium. Ia mengenakan kaos dalam oblong putih dan celana pendek berwarna kuning.

    Aku memerhatikan sebentar, menatap Palupi yang memakan daging itu penuh lahap. Di sampingnya ada kakak dan temannya yang ikut memakan daging. Tanpa sadar aku memakan air liurku sendiri. Glek.

   


    "Ndak! Aku poso nko batal" itu jawabanku pertama, mencoba untuk tidak tergoda meskipun itu sangat menggoda sekali. Bayangkan saja di saat-saat kritis memasuki waktu berbuka, kau disuguhkan pada pemandangan menggoda yang bisa membuatmu meneteskan air liur.

    "Ora batal, wong mek sak iris elo. Titik ki jajalen!" Palupi meyakinkanku lagi. Kali ini dengan perkataan bahwa jika memakan sedikit pun tak akan batal karena tidak terasa.

    "Mosok, ta? Nko diseneni ibukku aku!" aku mulai ragu dengan menggunakan tameng ibuk, agar mereka tak memberikanku irisan kecil daging itu. Sayangnya, perkataanku malah membuatnya memberikan irisan lebih kecil agar aku bisa mencicipi, lalu meyakinkanku dengan ucapan manisnya.

"Westo, ojo omong ibukmu nko nggak batal."

    Sekejab mendengar ucapan itu, seakan membuatku terhipnotis. Percaya saja jika kita tak berbicara tentang sepotong daging kepada ibu bakal membuat puasaku tetap sah-sah saja. Aku mulai menangkap uluran tangan itu, sedang ibukku sedang berbicara di teras rumah tertutup oleh mobil yang berada di depannya. Sedang aku, Palupi dan teman lainnya berada di samping mobil kiri agak mojok.

Aku mengambilnya dengan ragu lalu perlahan kumasukkan irisan itu di mulutku bukan dikunyah langsung saja tertelan di dalam tenggorokan dan masuk ke dalam perutku, setelah selesai pada irisan daging kecil itu ibuku datang menanyakan apa yang kulakukan sehingga terlihat sembunyi-sembunyi.

"Nyapo tasan? Ayok muleh!" ajak ibukku untuk pulang.

       Tiga jam setelahnya aku berbuka, lalu mengatakan jika aku memakan irisan daging itu. Seketika itu ibukku marah, berkata jika puasa sudah batal ketika memakan irisan daging itu.

    "Ngunui posomu batal, lek diweki ojo gelem lo. Ngerti? Mbok titik panggah mbatalne poso. Ngerti?" ibuk menasehatiku, sedikit keras hingga aku nangis sesenggukan. Mana tahu jika itu bisa membatalkan puasa meski daging itu yang langsung tertelan. Nyatanya aku tak bisa berbohong, tetap saja aku mengatakan kejadian tadi.

    Meskipun marah, ibuku menasehatiku jika puasa itu tidak boleh makan minum apapun meski itu sedikit karna tetap bisa membatalkan puasa. Gara-gara irisan daging itu, aku pun tak bergaul lagi dengan pemberi irisan daging selama puasa. Takut batal lagi, gegara pemahaman dan mudah tergoda ini.

...

"Ah! Tragedi secuil daging!"

Sebuah cerita yang sampai saat ini terus terngiang dalam otakku, ah tragedi penuh kenang sepanjang masa.

Continue reading Cerita Puasa: Tragedi Secuil Daging
,

Ramadan Kali Ini Bersama Kitab Kuning

    


    Ramadan sudah tiba, banyak di antara kita membuat jadwal kegitan selama Ramadan. Banyak rencana yang sudah ditetapkan. Semua memiliki keinginan tersendiri dalam mengisi Ramadan. Lebih leganya lagi setelah pandemi, Ramadan kali ini lebih bisa berekspresi lagi. Tidak terlalu menakutkan seperti awal pandemi dulu.

    Perkumpulan-perkumpulan yang dahulunya dilarang, kini mulai diperbolehkan asal mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Begitu dengan salat tarawih yang sudah diperbolehkan dengan mematuhi protokol kesehatan pula. Semua lebih tenang dari sebelumnya, meskipun mudik masih dilarang.

    Ramadan kali ini, lebih bisa menghirup udara segar. Tidak seperti dahulu yang terlalu muram. Kali ini banyak pengajian-pengajian yang digalakkan baik offline maupun online. Aku sudah menantikan Ramadan penuh semangat. Mendengar kegiatan yang dibuat oleh para pengurus IPNU IPPNU di desaku membuatku semakin bersemangat. Dengar-dengar sih akan diadakan mengaji kitab, dan aku pun tertegun sebentar mengingat kejadian enam tahun silam di mana aku masih duduk di bangku MAN yang saat itu pula aku sedang belajar di pondok pesantren di kota sebelah.

   

"Ah! Ini membuatku bernostalgia sebentar," gumamku. Ketika melihat notifikasi di grup pengurus. Anehnya aku bukan lagi pengurus organisasi tersebut karena memang aku sudah lengser jabatan. Mereka masih mengajakku diskusi, itu cukup membuatku senang.

Kala itu Ramadan sudah mendekat, namun belum ada tanda-tanda pasti tentang ngaji kitab yang diadakan, hingga jari ini gatal untuk bertanya kepada salah satu pengurus.

    "Sa, ngajine sido?"

Sangking penasarannya aku, bertanya melalui chat pribadi. Beberapa menit dibalas oleh Risa, pengurus IPPNU yang barusan kutanya.

    "Jadi, mbak. Tapi belum dirembukne, neh."

    Mendapat jawaban seperti, sudah cukup mengusir keraguanku tentang ngaji kitab yang akan diadakan. Seketika itu pula, notifikasi telponku berbunyi. Rupanya pertanyaanku tadi, segera ditanggapi para pengurus. Lumayan, responsif ini sangat melegakan. Mereka tak hanya berunding lewat online group saja juga bertatap muka langsung, dilihat dari bunyi chat itu.

    Pamflet ngaji kitab sudah disebar di group setelah dua hari pasca rapat, lalu mulai beramai-ramai dari kami para anggota dan pengurus IPNU IPPNU memostingnya dalam media sosial. Respon mulai beragam, hingga tetangga desa tertarik mengikutinya. Meski sebelumnya terdapat konflik tetang kitab dan ustaz yang akan menjadi guru kami saat mengaji yang kemudian terselesaikan dengan baik. Bahkan, kami mendapatkan kitab gratis dari beliau. 

    Ramadan pertama tiba, antusias mengikuti pun semakin membara. Apalagi kita meminta izin pada orang tua langsung mendapat lampu hijau. Bertekad belajar saat Ramadan ini memang sangatlah menyenangkan, terpaut umur berbeda dengan para teman yang ikut mengaji bahkan bukan lagi sebuah halangan. Terpenting sekali, niat untuk belajar. Ya, akhirnya Ramadan kali ini bersama Kitab "Taisirul Kholak Fil 'ilmu Akhlak" bersama para rekan dan rekanita IPNU IPPNU Ranting Tugu dengan ustaz kami Ustaz Nasih.

Bagaimana Ramadanmu?

    

Continue reading Ramadan Kali Ini Bersama Kitab Kuning
,

Cerpen : Lara Menuju Bahagia

 


Lara Menuju Bahagia

Oleh Veronica

 

“Kamu mau jadi apa! Pengangguran! Tidur saja kerjaannya, ah ... itu juga nulis nggak guna!” teriak Surti

Sundari hanya diam menanggapi ocehan emaknya itu sudah hari-harinya ia menyantap cacian dari ibunya. Bahkan sebenarnya ia bukanlah pengagguran. Ia adalah semester lanjut sudah tahap kritis yang terpaksa dan harus menyelesaikan tugas akhirnya, jika tidak D.O akan menghantuinya. Sundari tahu konsekuensi apa yang akan didapatnya. Keiinginan kuatnya menjadi penulis kadang membuat pikirannya untuk fokus pada satu hal itu. Ambisius katanya.

Padahal setiap hari ia mengerjakan tugas akhirnya, namun selalu ada kebingungan yang dirasa. Bukan masalah tidak bisanya. Tetapi, masalah yang menjonggol di otaknya. Statement yang mendekte dia bahwa ini bukan keahliannya. Ini tidak sesuai keinginannya. Terus kenapa diambil, Sun?



“Tiap hari aku coba ngerjain. Pagi siang malam tak coba paham, tetap aja aku merasa dodol. Apes!” gerutu Sundari.

Ia berbicara pelan takut emaknya tahu bisa digibeng dia. Sundari tipe cewek yang malas bergaul suka sembunyi di kamar, ini juga yang menyebabkan dirinya tidak bisa mengerjakan tugas akhirnya. Tak mau bertanya. Usahanya lewat online saja. Semua butuh bukti nyata bukan hanya chatting semata.

“Memang seharusnya aku benar-benar turun tangan!” Mas Ojim kakak satu-satunya Sundari.

“Apaan si, mas! Aku bisa sendiri!” tolak Sundari

“Bisa gimana, Sun? Dari tahun kemarin aja belum selesai! Fokus, Sun! Nggak usah mikir nulis dulu, bisa? Mak capek dengerin orang-orang bicarain kamu. Mak malu!” teriak maknya.

Sundari hanya bisa menunduk, ia tak dapat mengatakan apapun lagi. Dia tahu dia sudah mengecewakan maknya dengat sangat. Dia tahu dia tak bisa leha-leha untuk berdiam saja. Dia harus mematahkan egonya sendiri. Membiarkan akalnya berpikir bukan hati saja. Diputuskannya besok ia akan menemui dosen pembimbingnya. Berharap amarah dosen pembimbingnya pun tak terlalu ketara saat bertemu dengannya. Sudah berkali-kali Sundari di What’sApp temannya untuk hadir setiap bimbingan. Namun banyak alasan untuk bilang tidak siap. Kalau setiap ketemu bilang tidak siap, kapan selesainya?

Malamnya ia begadang mengerjakan revisan yang sudah dicatatkan oleh dosennya. Semangat dia seketika melambung naik. Tekadnya sudah di upgrade rupanya biar tak tertinggal dengan teman-temannya yang sudah bekerja atau pun melanjutkan study-nya.

“Oke! SEMANGATTTT!” teriak sekuat tenaga. Orang orang sudah tidur jadi tidak mungkin ada yang berkomentar tentang suaranya tadi. Semua orang di rumahnya terlalu terlelap  dalam tidurnya, nggak bisa diganggu termasuk Sundari ini.

Buku-buku yang dipersiapkan tahun lalu sekarang dibukanya kembali. Mengaitkan teori-teori yang tepat untuk penelitiannya. Ia juga membaca buku-buku tentang jenis penelitian yang diambil. Agar lebih mantap jika ditanya sang dosen. Ia harus bisa menjawab sumber yang ada.

Pagi-pagi sekali ia berpamitan pada ibunya. Rencananya hari ini ia akan memulai bimbingan perdananya setelah sekian lam mancet total. Tadi malam ia sudah menghubungi dosepem-nya dan kebetulan Belaiu bisa untuk membimbingnya hari ini.

‘Tok!’ ‘Tok!’ “Tok!’

“Selamat pagi!” ucap Sundari. Walau sedikit gugup ia coba sekuat tenaga untuk tak membuat mentalnya jatuh. Ini konsekuensi yang didapatnya. Saat ini ia harus berani dengan apa yang sudah diperbuatnya.

“Pagi! Silakan masuk!” Bu Haryani menjawab. Terlihat pula tampang tak sukanya. Ini ketakutan yang dipikirkan Sundari sejak dini hari tadi membuatnya mules keluar masuk wc bekali-kali.

“Bagaimana? Sudah, siap? Repot sekali, ya mbak?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Bu Haryani selaku dospemnya itu.

“Maaf, Bu. Saya sudah absen lama dalam bimbingan kali ini saya tobat. Sudah kritis soalnya.” Jawab Sundari

“Makanya kalau ada bimbingan ikut! Nggak keteteran kayak sekarang! Saya juga ngerusin yang lain!” sewot Bu Haryani

“Sekali lagi saya minta maaf. Saya akan bersungguh-sungguh,” yakin Sundari. Ia menyerahkan draft babnya.

“Ini banyak yang salah. Sudah saya tulisi. Baca! Perbaiki. Punya kamu banyak teori tapi sedikit kesimpulan dari penulis, GAP-nya ditambah jangan hanya satu.” Jelas Bu Haryani.

Meskipun awalnya ia merasa takut untuk sekarang ia malah merasa bersyukur. Ketakutan selama ini sudah dibabatnya sendiri. Ia makin rajin untuk melakukan bimbingan. Ia tak mau kuliahnya selama empat tahun ini sia-sia. Setiap hari ia tekun mengerjakan revisian yang ada. Hampir setiap malam ia begadang. Targetnya harus tercapai.

 

 

Kini tiba saatnya ia harus beriap-siap untuk acara wisudanya.

“Sun! Cepetan sudah terlambat mas nggak mau nanti ngepot dijalan. Mobilnya bapak sudah dipanasin. Ayok!” teriak Mas Ojim.

“Iya, Mas! Tungguin make sendal ini susah amat!’ tak ingin kalah ia berteriak kencang juga.

“Cepet! Ato tak tingal!” gertak Mas Ojim

Ini yang wisuda Mas Ojim atau aku, sih! Pake acara mau ditinggal. Emang kalau namaku dipanggil Mas Ojim mau maju? Gerutunya dalam hati.

Sundari cewek yang sekian lama terkuku oleh ketakutan dan keegoisannya kini bisa mendapatkan gelarnya. Usaha yang dilakukannya tak sia-sia sama sekali.

Teringat pula ia penah jatuh sejatuhnya yang membuatnya lupa pada tujuannya. Dia benar-benar terluka kala itu.

“Sun! Hubungan kita nggak usah dilanjut aja. Aku sudah mempunyai pengganti!terang Zulkifli pacar pertama Sundari

“Kamu putusin aku gegara selingkuhan kamu? Tega!” Sundari teriak. Ia tak menyangka orang yang disayangi menusuknya setajam ini. Lebih tepatnya dua orang yang disayangi, sahabatnya juga pacarnya.

“Kamu itu ribet! Nggak kaya Alfi bisa paham aku.” Zulkifli menambahi alasan putusnya.

“Sudahlah aku pergi!” Zulkifli berlalu dengan menggandeng Alfi. Kalian tahu ekspresi apa yang ditampakkan Alfi tersenyum senang atas kekalahan Sundari untuk mempertahankan hubungannya.

Sundari masih terpaku di sana. Di tepi sungai yang menjadi saksi bisu atas kehancurannya. Berbulan-bulan sundari tak mau memikirkan dirinya yang dilakukannya hanyalah melamun dan menonton film. Sampai suatu saat temannya mengajakknya untuk mengikuti lomba cipta puisi tak menyangka pula ia mendapat predikat Juara 1. Di situ ia menemukan pelampiasan yang tepat untuk putus cintanya. Ia merubah angannya yang menjadi guru biasa menjadi penulis. Setiap hari ia mencari info-info tulisan. Ia lupakan tugas akhirnya sampai emaknya bertindak tegas untuk itu.

SUNDARI PUTRI ANGGREINI LULUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS DINYATAKAN CUMLAUD PREDIKAT PERTAMA”

Mendengar namanya disebut lamunannya pada masa kelamnya buyar. Ia dengan napas panjang akhirnya tersenyum lega. Pelan-pelan ia berjalan ke atas panggung untuk sekadar mengucapkan sambutan dan terima kasih.

Benar, kegagalan bukan untuk ditakuti. Sebab darimana datangnya pengalaman jika tak pernah untuk mencoba. Tak masalah jika pertama kali kamu merasakan ketakutan untuk melangkah. Namun, selanjutnya ketika kau sudah memulai langkah pertama kamu akan berani melanjutkan langkah kedua dan selanjutnya. Orang yang gagal akan menjadi orang yang sukses, ketika mau bangkit dan terus mencoba. Tidak hanya diam dan menunggu keajaiban datang. Seperti tekad Sundari, yang mau bangkit atas kegagalannya. Mau mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas apa yang sudah dikerjakannya.


Sebabnya dari kita, mari berusaha terus meski kadang gagal dan jatuh datang mencoba membuat mundur kita. Tetap berani maju, oke?

Selesai

Tulungagung, 5 Februari 2020

 

 

 

Continue reading Cerpen : Lara Menuju Bahagia