Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
, ,

Sirius Part 3

Cerita sebelumnya Klik 



SIRIUS


"Hidup itu aneh! Mau ngindari masalah malah ketemu masalah. Ini keberuntungan atau kesialan, sih!"

Harusnya ini menjadi awal pagi yang cerah untuk Bintang, setelah semalaman tidur pulas juga membiarkan teman-temannya menghatui room chat-nya. Gedoran pintu kamar Bintang sudah mulai berbunyi. Tunggu, ini masih terlalu dini mama Bintang menjalankan aksi penggedoran kamar. Bintang masih ingin tidur lebih lama lagi.

"Bintang! Kamu ditunggu teman kamu! Cepat bangun! Jangan malu-maluin! Cewek tidur kayak kebo!" teriak Rani

Entah kenapa Bintang lebih memilih untuk melanjutkan tidur nyenyaknya. Selayaknya tidur panjangnya ini tidak boleh diganggu. Ini masih pagi begitulah menurut Bintang.

"Bintang Angkasa datang cepat bangun!" teriakan Rani 

"WHAT THE FUCK?!" Bintang berteriak.

"Bintang cepat bangun! Jaga ucapanmu!" 

Okelah, Bintang harus bangun. Ia tak mungkin membangunkan singa betina yang tumbuh dalam diri mamanya. Bisa kacau! Syukur-syukur Bintang tak mendapatkan guyuran air pagi.

"Baik, Ma! Bintang bangun, kok!" kata Bintang, ia sudah bergegas ke kamar mandi.

Pagi ini, Angkasa sudah mengacaukan kenyamanannya. Sial! Jika bukan karena mobil yang dibawa Angkasa dan ocehan mamanya, Bintang tak akan merusak tidur pagi ini. Untuk pertama kalinya Bintang harus menjadi "anak rajin" dengan keterpaksaan yang menyebalkan.

Sedikit ogah-ogahan Bintang bangun dan langsung saja ke kamar mandi. Kamar berantakan itu urusan nanti.Terpenting kali ini dia harus menyingkirkan parasit yang datang di rumahnya pagi ini.

# # #
Lima menit adalah waktu mandi untuk Bintang, sesudah itu Bintang pergi ke ruang makan. Ia tak mau untuk pingsan lagi gara-gara telat sarapan pagi. Big No! Gara-gara itu dia harus berurusan dengan orang yang selama ini dihindarinya. 

"Ma, sarapan pagi aku mana?" tanya Bintang

"Ambil sendiri, Bintang," Rani berkata demikian, padahal mengambilkan sarapan untuk Angkasa.

"Ayolah, anak mama sekarang siapa? Kenapa aku harus ngambil sendiri?" Bintang tentu saja tak terima

"Ngomong-ngomong Angkasa bukannya teman Bagas dulu, ya? Dulu sering ke sini, kan? Saat Bagas masih ada?" pertanyaan Rani seakan biasa saja. Kematian Kakak Bintang yang cukup membuat syok keluarga seakan terlupakan begitu saja.

"Ma, aku berangkat!" Bintang langsung saja ke luar rumah saat mendengar nama Kakaknya disebut. Tentu saja Bintang tak mau ada pembahasan tentang Kakaknya ini. Terlalu sakit untuk dikenang. Alasan-alasan kenapa Bintang menjadi orang yang seperti saat ini adalah kakaknya.

"Lo, jadi berubah gini sih! Nggak ada sopannya sama nyokap lu dan well, lu menjadi gadis nakal sekarang, ya?" Angkasa yang sudah selesai makan, langsung saja menjejalkan pertanyaan yang bodoh menurut Bintang.

"Lu, diem. Nggak usah ikut campur masalah gue!" sarkas Bintang

Penekanan yang dibuat Bintang menjelaskan, perubahan yang amat banyak. Sebut saja, ini cara Bintang mempertahankan dirinya untuk terlihat tegar di mata orang lain. Karena memang orang yang rusak berawal dari keedihan yang tak bisa ia obati sendiri. Pelampiasan-pelampiasan dalam hal-hal negatif adalah cara ampuh buat mereka untuk menjadi bahagia walaupun itu palsu.

"Yaudah, kalau nggak mau jawab sekarang. Cepet naik!" Angkasa menyuruh Bintang untuk segera menaiki mobil dan meluncurlah mereka menuju sekolah.

###

Part 3 kali ini lebi sedikit,mohon maaf ya! Ada bebrapa endala yang membuatnya sedikit hehehe

Continue reading Sirius Part 3
, ,

Sirius Part 2.4


Cerita sebelumnya ...

“Benar-benar most wanted punya pengaruh, ya?” sindir Bintang
“Nggak usah diliat, lo fokus jalan aja,” jawab Angkasa.

Meski sebal dan dongkol menyerang uneg-uneg Bintang, dia hanya menurut saja. Bagaimana tidak ia terlalu lemah untuk meladeni perdebatan yang tidak berguna ini. Angkasa lawan debat pasti tidak mau kalah dan akan terus mengoceh mengenai hal ini itu yang membuatnya semakin jengkel saja.
Dasar kutukupret sok dingin! Umpat Bintang dalam hati.
Tangannya menggenggam erat ingin sekali ia meninju kepala Angkasa. Sayangnya Bintang urungkan melakukan hal yang nggak masuk akal itu. Orang masih sakit masa mau menyerang orang sehat. Pastinya ia bakal kalah. Gengsi dong! Di perjalanan mereka hanya berdiam tak mengucapkan sepatah kata pun. Buang-buang tenaga.
“Mana kunci mobil, lu?” tanya Angkasa, setiba kaki mereka di area parkir.
“Noh! Di tas gue, cari aja sendiri!” ujar Bintang tak acuh.
Continue reading Sirius Part 2.4
, ,

SIRIUS Part 2.3







Mungkin menghadapi kenangan adalah pilihan terbaik, dari pada memaksanya untuk di kubur. Itu membuatmu semakin tercekik saja.


"Ayo! Hajar! Tendang! Tinju!" teriak Bulan penuh semangatnya.
"Bul! Ini bukan ARENA TINJU" gedek sudah Trea. Semua penonton melihat mereka dengan tatapan tanda tanya.
Trea hanya mengumpat dalam hatinya. Benar-benar Bulan bego!
Tidak sampai hati Trea berpikir kenapa memiliki teman yang sangat absurd ini. Seharusnya ia sudah musnahkan ke dasar Bumi. Mau dikata apa lagi mereka sudah bersahabat sejak SD.
Continue reading SIRIUS Part 2.3
, ,

Sirius Part 2.2



Astaga Angkasa sudah membuat kekacauan di hari kedua Bintang bersekolah. Ia ingin hidup tenang melupakan masa lalunya kenapa sekarang Angkasa juga datang mengingatkan masa lalunya kembali. Bagaimana mungkin apa yang sudah dipendamnya harus dikorek ulang?


“Apaan sih! Ini cuma minuman nggak ada yang spesial!” elak Bintang

“Bintang! Yang dikasih minuman di sini siapa? Elu dan Cuma elu lainnya enggak! So?”  jawab Trea

“Nah! Betul kata Trea. Di sini cuma elu yang dikasih Tang! Gue kagak padahal haus. Jadi, boleh minta kan?” ucap Bulan lugu. Memang benar Bulan sangat kehausan bahkan ketiganya.

“Eh, Bul! Itu minuman khusus buat B I N T A N G ngapai lu yang minum? Kembaliin!” Trea berujar, sudah gregetan dengan sikap Bulan. Teman terkoplaknya.

“Ya, maaf! Haus Trea mau beliin?” tanya Bulan.

“Beli sendiri sonoooo!” teriak Trea.

“HEH STOP! Ngapain kalian ribut sih ini cuma minuman. Nggak apa-apa kalau Bulan minta juga,” ucap Bintang menengahi kegaduhan temannya ini.

Di ujung lapangan Pak Wahyu sudah memandang tampang mereka sangar. Tajam matanya membuat semua muridnya begidik ketakutan. Bahaya! Alarm kegentingan sudah muncul. Gawat kalau Pak Wahyu ngamuk dua kali dihukum double!

“Kalian cepat ke sini!” Nah, kan. Pak Wahyu sudah mengomando mereka segera berkumpul dengan teman lainnya untuk mengikuti kelasnya.

“Baik, Pak!” teriak Bintang dan kedua temannya bersamaan. Bintang dan kedua temannya berlari menuju ujung lapangan. Olahraga masih kurang setengah jam, nggak mungkin mereka sia-siakan begitu saja.

Ngos-ngosan mereka sampai tempat pemanasan. Olahraga babak kedua dimulai. Setiap anak harus belajar untuk menendang bola, tidak cewek atau cowok sama. Setelah itu terserah bagi mereka untuk memainkan permainan yang ada atau hanya sekadar istirahat sambil menonton temannya yang bermain.

“Gilak! Tendangan gue tadi mantul banget!” seru Trea melihat tendangannya berhasi menjebol gawang.

“Iye dah lu keren. La gue melenceng ngenain Pak Wahyu! Parah! Untung nggak dihukum lagi,” curhat Bulan.

“Nggak apa-apa, Bul. Kapan-kapan belajar lagi. Siapa tau bisa mengenai kepalanya Pak Wahyu,” Bintang berusaha sok menaseati.

“Nah! Kalau ini gue setuju!” Trea semangat.

“Parah lu berdua!” Bulan cemberut.

“Yaelah, gini aja ngambek! Cemen lu!” ujar Trea.

“Udah ah! Mending istirahat yuk!” ajak Bintang.

Bintang dan kedua temannya akhirnya istirahat di tepi lapangan dan melihat teman cowok mereka bertanding dengan kakak kelas mereka. Jika dirasa perut Bintang mulai kambuh. Segera saja ia ke kamar mandi.

“Eh, Gais! Gue ke kamar mandi dulu, ya!” pamit Bintang

“Dianterin kagak?” tanya Trea

“Kagak, bye!” teriak Bintang dari kejauhuan.

Usai kepergian Bintang, Trea dan Bulan masih berlomba untung menyemangati kelas mereka.

"Ayo! Hajar! Tendang! Tinju!" teriak Bulan penuh semangatnya.

"Bul! Ini bukan ARENA TINJU" gedek sudah Trea. Semua penonton melihat mereka dengan tatapan tanda tanya.

Trea hanya mengumpat dalam hatinya. Benar-benar Bulan bego!


Continue reading Sirius Part 2.2