Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
,

Cerita Puasa: Tragedi Secuil Daging

    


    Tidak hanya kamu saja yang memiliki pengalaman berpuasa, aku pun. Kala itu aku berusia enam tahun dimana belum bisa mengetahui mana yang benar dan salah. Slalu menurut apa yang dikatakan Ibu. Ya, ibulah yang mengajarkanku apa itu puasa. Sudah sejak kecil aku diajarkan untuk belajar berpuasa, dimulai puasa mbedug yang artinya berpuasa namun pada bedug atau tengah harinya berbuka lalu dilanjutkan puasa. Dari nol kecil sudah belajar puasa mbedug kemudian di nol besar atau bisa disebut TK B puasa sore. Seperti adikku yang masih kecil pun diajari berpuasa seperti waktu aku masih kecil.

    Awalnya puasa sore di Ramadan pertama untuk mereleasekan puasa sore perdanaku lancar jaya, tak ada halangan. Aku bersemangat sekali. Namun, sangat disayangkan untuk hari ketiga ketika aku diajak nonggo, berkunjung ke rumah tetangga untuk berbicara ini itu tepatnya rumahnya di depan bengkel motor samping kanan rumah hal tak terduga terjadi. Rasanya pada saat itu, aku terlalu nurut, sampai diiming-imingi hal manis nurut saja.

    Berkat secuil daging yang langsung masuk ke tenggorokan, puasa soreku batal! Sungguh membagongkan bukan? Pada jam tiga kurang tiga jam lagi berbuka harus batal karena secuil daging tanpa rasa yang ngalir langsung tanpa perlu dikunyah masuk dengan sopannya ke perutku. Jika kuingat bagaimana awal mulanya, aku harus memutar otakku. Membuka, me-refresh lagi, lagi mengobrak-abrik folder lama di dalam otak. Mencari kejadian delapan belas tahun silam.

...

    "Mi, arep daging?" kata Palupi sambil mengunyah daging yang sebagian dipeganya, ditaruhnya di dalam baskom kecil berwarna abu-abu berbahan alumunium. Ia mengenakan kaos dalam oblong putih dan celana pendek berwarna kuning.

    Aku memerhatikan sebentar, menatap Palupi yang memakan daging itu penuh lahap. Di sampingnya ada kakak dan temannya yang ikut memakan daging. Tanpa sadar aku memakan air liurku sendiri. Glek.

   


    "Ndak! Aku poso nko batal" itu jawabanku pertama, mencoba untuk tidak tergoda meskipun itu sangat menggoda sekali. Bayangkan saja di saat-saat kritis memasuki waktu berbuka, kau disuguhkan pada pemandangan menggoda yang bisa membuatmu meneteskan air liur.

    "Ora batal, wong mek sak iris elo. Titik ki jajalen!" Palupi meyakinkanku lagi. Kali ini dengan perkataan bahwa jika memakan sedikit pun tak akan batal karena tidak terasa.

    "Mosok, ta? Nko diseneni ibukku aku!" aku mulai ragu dengan menggunakan tameng ibuk, agar mereka tak memberikanku irisan kecil daging itu. Sayangnya, perkataanku malah membuatnya memberikan irisan lebih kecil agar aku bisa mencicipi, lalu meyakinkanku dengan ucapan manisnya.

"Westo, ojo omong ibukmu nko nggak batal."

    Sekejab mendengar ucapan itu, seakan membuatku terhipnotis. Percaya saja jika kita tak berbicara tentang sepotong daging kepada ibu bakal membuat puasaku tetap sah-sah saja. Aku mulai menangkap uluran tangan itu, sedang ibukku sedang berbicara di teras rumah tertutup oleh mobil yang berada di depannya. Sedang aku, Palupi dan teman lainnya berada di samping mobil kiri agak mojok.

Aku mengambilnya dengan ragu lalu perlahan kumasukkan irisan itu di mulutku bukan dikunyah langsung saja tertelan di dalam tenggorokan dan masuk ke dalam perutku, setelah selesai pada irisan daging kecil itu ibuku datang menanyakan apa yang kulakukan sehingga terlihat sembunyi-sembunyi.

"Nyapo tasan? Ayok muleh!" ajak ibukku untuk pulang.

       Tiga jam setelahnya aku berbuka, lalu mengatakan jika aku memakan irisan daging itu. Seketika itu ibukku marah, berkata jika puasa sudah batal ketika memakan irisan daging itu.

    "Ngunui posomu batal, lek diweki ojo gelem lo. Ngerti? Mbok titik panggah mbatalne poso. Ngerti?" ibuk menasehatiku, sedikit keras hingga aku nangis sesenggukan. Mana tahu jika itu bisa membatalkan puasa meski daging itu yang langsung tertelan. Nyatanya aku tak bisa berbohong, tetap saja aku mengatakan kejadian tadi.

    Meskipun marah, ibuku menasehatiku jika puasa itu tidak boleh makan minum apapun meski itu sedikit karna tetap bisa membatalkan puasa. Gara-gara irisan daging itu, aku pun tak bergaul lagi dengan pemberi irisan daging selama puasa. Takut batal lagi, gegara pemahaman dan mudah tergoda ini.

...

"Ah! Tragedi secuil daging!"

Sebuah cerita yang sampai saat ini terus terngiang dalam otakku, ah tragedi penuh kenang sepanjang masa.

Continue reading Cerita Puasa: Tragedi Secuil Daging
,

Cerpen : Lara Menuju Bahagia

 


Lara Menuju Bahagia

Oleh Veronica

 

“Kamu mau jadi apa! Pengangguran! Tidur saja kerjaannya, ah ... itu juga nulis nggak guna!” teriak Surti

Sundari hanya diam menanggapi ocehan emaknya itu sudah hari-harinya ia menyantap cacian dari ibunya. Bahkan sebenarnya ia bukanlah pengagguran. Ia adalah semester lanjut sudah tahap kritis yang terpaksa dan harus menyelesaikan tugas akhirnya, jika tidak D.O akan menghantuinya. Sundari tahu konsekuensi apa yang akan didapatnya. Keiinginan kuatnya menjadi penulis kadang membuat pikirannya untuk fokus pada satu hal itu. Ambisius katanya.

Padahal setiap hari ia mengerjakan tugas akhirnya, namun selalu ada kebingungan yang dirasa. Bukan masalah tidak bisanya. Tetapi, masalah yang menjonggol di otaknya. Statement yang mendekte dia bahwa ini bukan keahliannya. Ini tidak sesuai keinginannya. Terus kenapa diambil, Sun?



“Tiap hari aku coba ngerjain. Pagi siang malam tak coba paham, tetap aja aku merasa dodol. Apes!” gerutu Sundari.

Ia berbicara pelan takut emaknya tahu bisa digibeng dia. Sundari tipe cewek yang malas bergaul suka sembunyi di kamar, ini juga yang menyebabkan dirinya tidak bisa mengerjakan tugas akhirnya. Tak mau bertanya. Usahanya lewat online saja. Semua butuh bukti nyata bukan hanya chatting semata.

“Memang seharusnya aku benar-benar turun tangan!” Mas Ojim kakak satu-satunya Sundari.

“Apaan si, mas! Aku bisa sendiri!” tolak Sundari

“Bisa gimana, Sun? Dari tahun kemarin aja belum selesai! Fokus, Sun! Nggak usah mikir nulis dulu, bisa? Mak capek dengerin orang-orang bicarain kamu. Mak malu!” teriak maknya.

Sundari hanya bisa menunduk, ia tak dapat mengatakan apapun lagi. Dia tahu dia sudah mengecewakan maknya dengat sangat. Dia tahu dia tak bisa leha-leha untuk berdiam saja. Dia harus mematahkan egonya sendiri. Membiarkan akalnya berpikir bukan hati saja. Diputuskannya besok ia akan menemui dosen pembimbingnya. Berharap amarah dosen pembimbingnya pun tak terlalu ketara saat bertemu dengannya. Sudah berkali-kali Sundari di What’sApp temannya untuk hadir setiap bimbingan. Namun banyak alasan untuk bilang tidak siap. Kalau setiap ketemu bilang tidak siap, kapan selesainya?

Malamnya ia begadang mengerjakan revisan yang sudah dicatatkan oleh dosennya. Semangat dia seketika melambung naik. Tekadnya sudah di upgrade rupanya biar tak tertinggal dengan teman-temannya yang sudah bekerja atau pun melanjutkan study-nya.

“Oke! SEMANGATTTT!” teriak sekuat tenaga. Orang orang sudah tidur jadi tidak mungkin ada yang berkomentar tentang suaranya tadi. Semua orang di rumahnya terlalu terlelap  dalam tidurnya, nggak bisa diganggu termasuk Sundari ini.

Buku-buku yang dipersiapkan tahun lalu sekarang dibukanya kembali. Mengaitkan teori-teori yang tepat untuk penelitiannya. Ia juga membaca buku-buku tentang jenis penelitian yang diambil. Agar lebih mantap jika ditanya sang dosen. Ia harus bisa menjawab sumber yang ada.

Pagi-pagi sekali ia berpamitan pada ibunya. Rencananya hari ini ia akan memulai bimbingan perdananya setelah sekian lam mancet total. Tadi malam ia sudah menghubungi dosepem-nya dan kebetulan Belaiu bisa untuk membimbingnya hari ini.

‘Tok!’ ‘Tok!’ “Tok!’

“Selamat pagi!” ucap Sundari. Walau sedikit gugup ia coba sekuat tenaga untuk tak membuat mentalnya jatuh. Ini konsekuensi yang didapatnya. Saat ini ia harus berani dengan apa yang sudah diperbuatnya.

“Pagi! Silakan masuk!” Bu Haryani menjawab. Terlihat pula tampang tak sukanya. Ini ketakutan yang dipikirkan Sundari sejak dini hari tadi membuatnya mules keluar masuk wc bekali-kali.

“Bagaimana? Sudah, siap? Repot sekali, ya mbak?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Bu Haryani selaku dospemnya itu.

“Maaf, Bu. Saya sudah absen lama dalam bimbingan kali ini saya tobat. Sudah kritis soalnya.” Jawab Sundari

“Makanya kalau ada bimbingan ikut! Nggak keteteran kayak sekarang! Saya juga ngerusin yang lain!” sewot Bu Haryani

“Sekali lagi saya minta maaf. Saya akan bersungguh-sungguh,” yakin Sundari. Ia menyerahkan draft babnya.

“Ini banyak yang salah. Sudah saya tulisi. Baca! Perbaiki. Punya kamu banyak teori tapi sedikit kesimpulan dari penulis, GAP-nya ditambah jangan hanya satu.” Jelas Bu Haryani.

Meskipun awalnya ia merasa takut untuk sekarang ia malah merasa bersyukur. Ketakutan selama ini sudah dibabatnya sendiri. Ia makin rajin untuk melakukan bimbingan. Ia tak mau kuliahnya selama empat tahun ini sia-sia. Setiap hari ia tekun mengerjakan revisian yang ada. Hampir setiap malam ia begadang. Targetnya harus tercapai.

 

 

Kini tiba saatnya ia harus beriap-siap untuk acara wisudanya.

“Sun! Cepetan sudah terlambat mas nggak mau nanti ngepot dijalan. Mobilnya bapak sudah dipanasin. Ayok!” teriak Mas Ojim.

“Iya, Mas! Tungguin make sendal ini susah amat!’ tak ingin kalah ia berteriak kencang juga.

“Cepet! Ato tak tingal!” gertak Mas Ojim

Ini yang wisuda Mas Ojim atau aku, sih! Pake acara mau ditinggal. Emang kalau namaku dipanggil Mas Ojim mau maju? Gerutunya dalam hati.

Sundari cewek yang sekian lama terkuku oleh ketakutan dan keegoisannya kini bisa mendapatkan gelarnya. Usaha yang dilakukannya tak sia-sia sama sekali.

Teringat pula ia penah jatuh sejatuhnya yang membuatnya lupa pada tujuannya. Dia benar-benar terluka kala itu.

“Sun! Hubungan kita nggak usah dilanjut aja. Aku sudah mempunyai pengganti!terang Zulkifli pacar pertama Sundari

“Kamu putusin aku gegara selingkuhan kamu? Tega!” Sundari teriak. Ia tak menyangka orang yang disayangi menusuknya setajam ini. Lebih tepatnya dua orang yang disayangi, sahabatnya juga pacarnya.

“Kamu itu ribet! Nggak kaya Alfi bisa paham aku.” Zulkifli menambahi alasan putusnya.

“Sudahlah aku pergi!” Zulkifli berlalu dengan menggandeng Alfi. Kalian tahu ekspresi apa yang ditampakkan Alfi tersenyum senang atas kekalahan Sundari untuk mempertahankan hubungannya.

Sundari masih terpaku di sana. Di tepi sungai yang menjadi saksi bisu atas kehancurannya. Berbulan-bulan sundari tak mau memikirkan dirinya yang dilakukannya hanyalah melamun dan menonton film. Sampai suatu saat temannya mengajakknya untuk mengikuti lomba cipta puisi tak menyangka pula ia mendapat predikat Juara 1. Di situ ia menemukan pelampiasan yang tepat untuk putus cintanya. Ia merubah angannya yang menjadi guru biasa menjadi penulis. Setiap hari ia mencari info-info tulisan. Ia lupakan tugas akhirnya sampai emaknya bertindak tegas untuk itu.

SUNDARI PUTRI ANGGREINI LULUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS DINYATAKAN CUMLAUD PREDIKAT PERTAMA”

Mendengar namanya disebut lamunannya pada masa kelamnya buyar. Ia dengan napas panjang akhirnya tersenyum lega. Pelan-pelan ia berjalan ke atas panggung untuk sekadar mengucapkan sambutan dan terima kasih.

Benar, kegagalan bukan untuk ditakuti. Sebab darimana datangnya pengalaman jika tak pernah untuk mencoba. Tak masalah jika pertama kali kamu merasakan ketakutan untuk melangkah. Namun, selanjutnya ketika kau sudah memulai langkah pertama kamu akan berani melanjutkan langkah kedua dan selanjutnya. Orang yang gagal akan menjadi orang yang sukses, ketika mau bangkit dan terus mencoba. Tidak hanya diam dan menunggu keajaiban datang. Seperti tekad Sundari, yang mau bangkit atas kegagalannya. Mau mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas apa yang sudah dikerjakannya.


Sebabnya dari kita, mari berusaha terus meski kadang gagal dan jatuh datang mencoba membuat mundur kita. Tetap berani maju, oke?

Selesai

Tulungagung, 5 Februari 2020

 

 

 

Continue reading Cerpen : Lara Menuju Bahagia
,

Mengenal Premis Sebelum Menulis Cerita

    


    Cerita itu datang sebelum ditulis, maka tulislah inti ceritamu agar tak salah jalan jika sudah berada di tengah perjalananya
    Menulis sebuah cerita tidak akan lengkap jika tak menulis sebuah premis terlebih dulu. Sebab, premis adalah unsur terpenting dalam sebuah cerita. Pembuatan novel, cerpen juga membutuhkan premis untuk memulai sebuah cerita. Karena dari premis penulis bisa memiliki gambaran umumnya. Namun, kadangkala penulis abai dalam pembuatan premis, sudah dianggap cukup jika sudah memiliki outline sebuah cerita. 

    Jika dicermati, premis seperti inti terkecil dalam sebuah cerita yang kemudian dijabarkan menjadi log line untuk mempermudah pemahaman dalam penyampaian inti cerita. Kemudian, menjadi sinopsis dijabarkan lebih rinci menjadi outline. Lalu, menjadi sebuah cerita. Nah, apa sebenarnya premis ini?

Premis adalah ide dasar dalam membuat sebuah cerita. Bisa dikatakan premis landasan kita bercerita agar cerita berjalan sesuai alur pertama yang kita ingin buat.

    Sudahkah kalian tahu bagaimana cara membuat premis?

  1. Premis dibuat berdasarkan apa yang terlintas di pikiranmu.
  2. Fokuskan tokoh utama yang akan kamu buat.
  3. Buat premismu secara rinci namun padat dan jelas.
  4. Berdasarkan apa yang terlintas, tulislah lalu jabarkan secara jelas bagaimana cerita yang akan dibuat. Tokoh, tujuan tokoh, masalah yang dihadapi, dan resolusi (penyelesaian).
Unsur-unsur premis itu:


  • Karakter: Menjelaskan karakter si tokoh, dan bagaimana tokoh memulai perjalanan ceritanya. Apa yang melatarbelakangi tokoh itu hidup.
  • Tujuan tokoh: Apa yang menjadi tujuan tokoh dalam sebuah cerita ini.
  • Halangan tokoh: Halangan yang dihadapi tokoh dalam mencapai tujuannya.
  • Resolusi: Kondisi tokoh setelah menghadapi halangan yang dihadapi.

Tujuan Premis:

  1. Sebagai patokan penulis dalam menulis ceritanya. Ini akan menghindari writing's block  juga, menghindari penulis yang menuliskan masalah cerita yang terlalu lebar. Sehingga jalan cerita bisa keluar jalur. Bersama adanya premis, cerita akan berjalan sesuai jalurnya.
  2. Sebagai jalan promosi penulis terhadap editor atau penerbit. Seperti yang pernah saya alami kemarin saat mencoba mendaftarkan diri dalam sebuah penerbit. Dimana yang ditanyakan adalah premis cerita tersebut.
  3. Sebagai arahan penulis untuk tidak membuat mubadzir kalimat yang tidak diperlukan.
Contoh premis:

    Keyla anak yang sangat sombong suka mencela orang yang berada di bawahnya [Karakter], ingin menjadi model papan atas [Tujuan tokoh], namun karena kesombongannya dia banyak memiliki banyak haters sehingga dia dihantui oleh peneror setiap hari [Halangan], mengerti bawah dirinya memiliki haters yang disebabkan oleh kesalahannya, dia mulai memperbaiki diri kemudian belajar menyelesaikan permasalahan yang telah dibuatnya.. [Resolusi].


Semoga penjelasan premis kali ini bisa membantu kamu dalam menulis sebuah cerita.
Salam hangat!
Salam cinta!
Salam literasi!


Aku cinta kalian!

Continue reading Mengenal Premis Sebelum Menulis Cerita
,

7 Alat Check Typo, Kamu Tidak Perlu Khawatir Lagi!

    

7 Alat Check Typo, Kamu Tidak Perlu Khawatir Lagi!

    Sebagai seorang penulis sudah tentu menulis adalah pekerjaannya. Bahkan tak hanya penulis yang akan menulis, semua orang pasti pernah menulis; tugas, surat, proposal, atau lainnya yang kadang perlu membaca ulang tulisannya agar tak ada typo meresahkan. Typo yang ada di tulisan sering kali mengganggu bahkan, membuat tulisan yang awalnya formal menjadi tak formal. Seharusnya terpercaya menjadi diragukan. Kurang satu huruf dalam tulisan bisa memberikan makna berbeda, juga membuat ambigu para pembaca. Apalagi kurang tanda baca. Hmmm.

    Berbagai hal inilah membuat seorang penulis harus membaca ulang dengan jeli, agar tak ada kesalahan seperti typo yang merugikan. Maka dari itu, Obral Kata Veve memberikan pilihan kepada kamu untuk memperhatikan tulisan kamu dengan 7 alat pemerhati typo yang bisa digunakan saat menulis di mesin pengolah kata.


7 Typo Checker, pembantu penulis dalam menulis dengan benar. Tidak hanya baku juga sesuai dengan ejaan yang tepat.

1. Typoonline.com



       Alat pemerhati typo yang di dalamnya terdapat KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) digunakan untuk melihat kata baku, pengertian kata, atau penggabungan kata, jenis kata, dan lain sebagainya. Typoonline ini juga bisa langsung memperhatikan dalam satu dokumen atau file, upload dokumen atau file  yang akan diteliti. Di sana akan muncul tulisanmu yang berada di dalam dokumen atau file beserta penandaan typo sekaligus. Kamu juga bisa langsung memperbaikinya dan menyimpan ulang dokumen atau file kamu. Hebatnya Typoonline ini, bisa meneliti tulisanmu yang ada di website hanya mengirimkan alamat url website kamu.


2. Lektur.id




    Sama halnya dengan Typoonline, Lektur.id ini mesin pemerhati typo yang dapat digunakan juga untuk melihat sinonim dan antonim dari sebuah kata. Di dalam Lektur.id ada bebrapa artikel tentang pendidikan yang dapat menambah referensi kamu dalam menulis. Cukup menarik, bukan?

3. Typograp.com



    Mesin pemerhati typo yang ada juga sebagai mesin penulisan ulang artikel tanpa terkena plagiarism atau disebut dengan artikel spinner. Meski tak bagus untuk dilakukan karena menggunakan ide lain. Mesin pemerhati typo, Typograp.com cukup layak digunakan untuk memperhatikan penulisan kita. Kamu bisa menggunakan mesin ini dengan baik.

4. Ejaan.id




    Mesin pemerhati typo kali ini, tak hanya memberitahu dimana letak typo pada tulisan juga sekaligus membenarkan tulisan berdasarka kata baku atau tidak. Jika kamu malas memperbaiki, mungkin ini adalah alat yang tepat yang bisa kamu gunakan. Silakan, dicoba!

5. KBBI


    Mendengar KBBI, kalian sudah sering mendengarnya bahkan sering diucapkan oleh sesama penulis apabila kita ingin mencari kosa kata baru yang dapat menambah wawasan keilmuan bagi kita. KBBI pun sudah diperbarui semenjak ada kata "mudik".Tidak heran pula KBBI digunakan sebagai pegangan dalam menuliskan sebuah karya tulis.

6. Google Doc



    Tidak hanya sebagai mesin pemerhati kata dalam hal typo, google doc juga sebagai mesin pengolah kata onlien yang bisa dibagikan kepada teman-temanmu saat itu menjadi tugas kerja kelompok atau hal lain dimana kamu memang ingin membagikan tulisan kerja kerasmu itu. Google doc akan secara langsung meneliti bagaimana tulisanmu itu benar atau tidak dengan tanda merah di bawah tulisan juga pilihan perbaikan kata yang berada di bawah ketika kita mendekatkan krusor kita pada kata tersebut. Ini mesin pemerhati kata dalam typo juga mesin yang dapat digunakan dimanapun.

7. Microsoft Word


    Jika Google Doc adalah mesin pengolah kata online, sedang Microsoft Word adalah mesin pengolah kat offline yang juga bisa menjadi pemerhati typo saat kelelahan menghambat. Cara meneliti penulisan salah atau benar dengan klik FILE lalu OPSI dan pilih PROOFING. Selanjutnya pilihan tergatung pada Microsoft Word yang digunakannya.


Banyak cara untuk memperbaiki tulisanmu, maka saat ini tak perlu khawatir dengan adanya typo. Kamu bisa memperbaikinya dengan 7 alat typo checker yang sangat bermanfaat bagi kamu sekalian. 


Salam jumpa!

Salam hangat dariku!

Salam literasi! Obral Kata Veve selalu di hati!!



Continue reading 7 Alat Check Typo, Kamu Tidak Perlu Khawatir Lagi!
,

Tips Membaca dan Memahami Puisi

 



Hallo, guys! Obral Kata Veve bakal membahas tips dalam membaca dan memahami sebuah puisi. 


    Sering kali kita dibuat kagok oleh puisi yang terlalu ambigu, atau saat dalam pembacaan puisi kita kurang tepat dalam membacanya. Bila puisi melow kita baca dengan menggebu-gebu seperti orang yang sedang melawan penjajah, bukankah hal seperti ini akan membuat pemahaman pendengar jadi bingung?

    Banyak hal yang bisa membuat kebingungan saat memahami sebuah puisi, dari makna puisi atau  bahkan tiap kata yang disampaikan dalam sajaknya. Kadang saja pemahaman orang satu dengan lainnya pun tak sama. Lalu, apakah puisi harus seragam pemahamannya?

Tentu tidak!

    Dalam puisi jika banyak penafsiran yang berbeda malah membuat karakter puisi itu semakin unik, sebab pembaca akan dibuat semakin penasaran oleh makna dan kiasan yang terkandung dalam sebuah puisi. Bayangkan saja, jika satu puisi bisa membuat perbedaan sudut pandang? Apa yang terjadi? Perbedaan yang terjadi ini akan memunculkan perdebatan yang bisa memberikan tambahan ilmu dari apa yang tidak kita ketahui. Jika seperti ini terjadi, pentingkah kita memahami puisi?

Tentu!

    Berawal dari memahami puisi kita akan bisa mengambil isi dari pikiran penyair. Lalu, kita pula akan menemukan rahasia dalam setiap kata. Ingat! Puisi bukan hanya kumpulan kata tanpa makna, karena puisi adalah sebuah kata tanpa ucap. Ketika suara tak bisa didengarkan, puisi adalah jawabannya.

Bagaimana cara memahami puisi?

1. Membaca secara berulang-ulang.

Karena puisi adalah salah satu jenis karya sastra yang juga memperhatikan keindahan dan sering menggunakan makna kias. Maka membaca puisi hanya dalam satu kali baca tak mampu untuk menemukan makna yang terkandung di dalamnya. Jadi, membaca berulang-ulang puisi dapat membuat kita mudah memahaminya.


2. Mencari diksi yang ada sekaligus mencari makna. 

Estetika dalam puisi bisa dilihat dari penempatan diksi dan rima yang telah diselaraskan. Ketika diksi dan rima selaras estetika puisi akan terlihat, apalagi saat pembacaannya membuat puisi tersebut diperhatikan lebih baik. Lebih-lebih dapat diingat oleh pendengar maupun pembaca puisi tersebut.

 

3. Tahu alasan puisi dibuat. 

Misal pada periode 1953-1961 tema puisi tentang perjuangan, patriotisme. Ini terjadi pada masa orde lama di mana di Indonesia masih berlangsung semangat kemerdekaan dan patriotisme. Maka puisi yang dibuat akan menjelaskan peristiwa yang ada juga kritik terhadap apa yang terjadi. 

 

4. Menghubungkan tiap kalimat sampai pada tiap baitnya.

Makna puisi akan berhungan bait satu dengan lainnya.


Dari kegiatan tersebut, maka menemukan makna dari memahami puisi akan lebih mudah. Utamanya dalam sebuah karya sastra kunci pemahaman ialah pembacaan berulang-ulang dan pemahaman perkata yang dirasa ambigu.

Pembacaan Puisi

    Bermula dari pemahaman puisi yang dirasa bagus, kita beralih dari pembacaan puisi yang baik sehingga makna dalam puisi itu bisa diterima oleh pendengar. Ketika intonasi dan penjedaan keliru akan mengakibatkan perubahan makna. Maksud dari puisi tersebut akan salah diartikan. Hal seperti inilah yang merupakan kesalahan fatal dalam pembacaan puisi. Perlu diketahui apa tips dan trik dalam pembacaan puisi.

Ada 2 versi Tips Pembacaan Puisi:

A. Versi pertama


B. Versi Kedua

  1.  Memahami puisi yang akan dibaca.
  2. Sebelum membaca puisi di hadapan banyak orang, berlatih secara berulang-ulang.
  3. Menggunakan pelafalan yang baik, ini didapat ketika sudah berlatih secara berulang-ulang.
  4. Menjeda kata, phrasa, atau kalimat yang seharusnya dijeda.
  5. Menggunakan intonasi yang sesuai dengan isi puisi.
  6. Mimik saat membacakan puisi haruslah sesuai, jangan lupa dengan gerakan anggota tubuh untuk menunjang pembacaan puisi itu.

 Semoga tips ini dapat membantu memahami dan membaca puisi yang dipilih. Selamat mencoba.


Sampai jumpa di blog selanjutnya ...

Salam hangat dari Obral Kata Veve

    

Continue reading Tips Membaca dan Memahami Puisi